السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
Ahlan wa Sahlan

22.8.12

(7 The Last) Bagaimana Seorang Ahlussunnah Beribadah Kepada Allah

Sebagian Prinsip Ahlussunnah wal Jama'ah Dalam Beribadah 

(7 or the last)


14 02 2011

IX.    SEBAGIAN KERANCUAN BID’AH DAN JAWABANNYA

Orang-orang yang belum diberi hidayah Allah untuk meningglkan amalan-amalan bid’ah yang selama hidupnya ia lakukan, mereka akan memunculkan satu syubhat yang memang masih menutupi akal fikirnya. Mereka akan berkata:”Kok berdzikir saja dilarang, membaca Yaasin saja juga tidak boleh, bersama-sama membaca kalimat tauhid (tahlilan)  dilarang lagi, terus menyelenggarakan acara-acara ibadah semuanya dilarang. Jadi apa yang boleh ? Bukankah niat kami baik dan insya Allah ikhlas, apalagi itu semua adalah suatu bentuk perbuatan yang baik pula ? Bukankah masih banyak perbuatan maksiat lain yang lebih layak untuk dilarang ?
Sebagai jawaban atas sanggahan tersebut dan untuk mengakhiri tulisan yang sederhana ini penulis akan membawakan beberapa atsar , yang insya Allah bisa menjadi senjata kita dalam menangkis pertanyaan-pertanyaan di atas dan sebagai bantahan-bantahan seputar bid’ah.

1.  Jawaban Pertama:
Sa’id bin Musayyib[1] pernah melihat seorang pria yang melakukan sholat qobliyah subuh lebih dari 2 rokaat (padahal yang disunnahkan hanya 2 rokaat saja) dan orang itu ruku’ dan sujud dengan sangat lama. Melihat kejadian itu Sa’id bin Musayyib melarang dia dari melakukan perbuatan itu. Setelah orang itu mendengar nasehat dari Sa’id, pria tadi malah membantah nasehat beliau.
Pria itu menyanggah:”Wahai Abu Muhammad (panggilan Sa’id) apakah Allah akan mengadzabku lantaran aku melaksanakan sholat ini?! Sa’id bin Musayyib menjawab:”

لاَ وَلَكِنْ يُعَذِّبُكَ عَلَى خِلاَفِ السُّنَّةِ
“Tidak, (Allah tidak akan mengadzab dirimu karena sholat yang kamu lakuakan) tetapi Allah akan mengadzabmu karena kamu telah menyelisihi Sunnah (Rosululloh).”[2]

2.  Jawaban Kedua:

عن نافع : أن رجلا عطس إلى جنب ابن عمر فقال الحمد لله والسلام على رسول الله قال ابن عمر وأنا أقول الحمد لله والسلام على رسول الله وليس هكذا علمنا رسول الله صلى الله عليه و سلم علمنا أن نقول الحمد لله على كل حال.
Dari Nafi’[3] Bahwa adaseorang laki-laki bersin di samping Ibnu Umar, orang itu lalu berkata:” الحمد لله والسلام على رسول الله(Segala puji bagi Allah dan salam kepada Rosululloh). Mendengar ucapan itu (yang telah menambah doa dari dirinya sendiri) maka Ibnu Umar berkata kepada orang itu:”Apa yang kamu katakan tadi الحمد لله والسلام على رسول الله , bukan seperti itu Rosululloh mengajarkan kepada kami, tetapi beliau mengajarkan kapada kami (ketika bersin), untuk berdoa الحمد لله على كل حال (Segala puji hanya bagi Allah dalam segala keadaan).”[4]

3.  Jawaban Ketiga:

عن بن جريج أن طاوسا أخبره أنه سأل بن عباس عن الركعتين بعد العصر فنهاه عنهما قال طاوس فقلت له ما أدعهما فقال ابن عباس : « نهى رسول الله صلى الله عليه وسلم عن الصلاة بعد العصر » وقال الله تعالى : وما كان لمؤمن ولا مؤمنة إذا قضى الله ورسوله أمرا أن يكون لهم الخيرة من أمرهم ومن يعص الله ورسوله فقد ضل ضلالا مبينا. وما أدري تعذب عليها أم تؤجر
Dari Hisyam bin Hujair, ia berkata:”Bahwasanya Thawus biasa melaksanakan sholat dua roka’at setelah sholat ashar, maka Ibnu Abbas berkata kepada Thowus:” Tinggalkan perbuatan yang kamu lakukan (tadi)!” Thowus menimpali Ibnu Abbas dengan perkataannya:”Aku tidak akan meninggalkannya.” Ibnu Abbas berkata lagi:”Rosululloh Shollallahu ‘Alaihi wa Sallam melarang kita untuk sholar setelah sholat ashar.Dan Allah Ta’ala berfirman:”Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rosul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka.”(QS. Surat Al Ahzab : 36) Dan aku tidak mengetahui apakah (orang yang melakukan sholat setelah sholat ashar akan diadzab atau akan diberi pahala.”[5]

+ Faidah dari atsar-atsar di atas:
Dari ketiga atsar di atas kiat bias mengambil suatu faidah yang sangat besar, yakni kita sebagai seorang muslim hanya diperintah agar selalu mengikuti tuntunan dari Nabi Muhammad Shollallahu ‘Alaihi wa Sallam saja. Tanpa harus membuat sesuatu yang baru dalam ibadah walaupun menurut pandangan kita, tambahan itu hanya sedikit atau baik. Lalu bagaimana apabila tambahan yang diada-adakan itu berupa perayaan besar yang tidak ada contoh dari Rosululloh ?
Intinya para ulama Ahlus Sunnah tidak pernah melarang kaum muslimin untuk beribadah mendekatkan diri kepada Allah dengan berbagai macam bentuk amalan, jika amalan itu memiliki landasan syar’I dan dicontohkan oleh Rosululloh. Tetapi mereka melarang kaum muslimin beribadah apabila bentuk ibadah itu termasuk ke dalam ibadah yang bid’ah.

4.  Jawaban keempat:

<>  Bid’ah Lebih dicintai Iblis daripada maksiat

Sufyan ats tsauri berkata:
البدعة أحب إلى إبليس من المعصية والمعصية يتاب منها والبدعة لا يتاب منها
“Bid’ah lebih dicintai Iblis daripada maksiat. Sebab maksiat ada harapan untuk bertaubat, sedangkan bid’ah tidak ada harapan bertaubat darinya.”[6]

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam Majmu’ al Fatawa (10/9) berkata:”Maksud ungkapan: Sedangkan bid’ah tidak ada harapan untuk bertaubat darinya, ialah karena pelaku pelaku bid’ah yang membuat suatu amalan agama yang tidak disyari’atkan Allah dan Rosul-Nya, amalan buruk yang ia lakukan itu sudah dihiasi seakan-akan baik dalam pandangannya. Sehingga ia tidak akan bertaubat selama memandang bahwa amalannya itu adalah baik. Sebab taubat yang dilakukan oleh seseorang adalah berawal dari pengetahuannya, bahwa apa yang ia perbuat merupakan suatu perbuatan yang buruk, yang memnjadikannya harus bertaubat dari amalan tersebut. Atau ia bertaubat karena meninggalkan suatu amalan yang baik, berupa amalan wajib atau sunnah. Sepanjang orang itu menilai apa yang ia amalkan itu baik padahal sebenarnya itu buruk, maka sulit untuk diharapkan untuk ia bertaubat.
Namun taubat dari para pelaku bid’ah sangat dimungkinkan dan bisa saja terjadi, jika Allah memberikan hidayah dan bimbingan-Nya, sehingga menjadi jelas dan terang kebenaran bagi dirinya. Sebagaimana hidayah Allah yang diberikan kepada orang-orang kafir, munafiq dan juga kelompok-kelompok para ahli bid’ah dan kesesatan.”[7]
Juga dalam Majmu’ al Fatawa (20/103) beliau juga berkata:”Sesungguhnya pelaku bid’ah lebih jelek daripada pelaku maksiat menurut sunnah dan ijma’…Sebab pelaku maksiat dosa mereka adalah melakukan sebagian dari larangan Allah, seperti mencuri,berzina, minum minuman keras atau memakan harta orang lain dengan cara yang batil. Sedangkan pelaku maksiat dosa mereka adalah meninggalkan perintah Allah berupa kewajiban untuk mengikuti sunnah Rosululloh dan jama’ah kaum mukminin.”[8]
Sebagian ahli bid’ah pernah mendatangi syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dengan maksud ingin menghiasi dan memperindah amalan bid’ah yang mereka telah lakukan. Beliau mengisahkan dialog yang terjadi antara beliau dan mereka dalam Majmu’ al Fatawa (11/472-474). Beliau berkata:“Sebagian mereka berujar:”Kami telah menjadikan manusia bertaubat.” Saya bertanya:”Dari perbuatan apa kalian membuat mereka bertaubat?” Mereka berkata:”Dari merampok, mencuri dan yang sejenisnya.”
Saya berkata:”Kondisi mereka yang bertaubat itu sebelum bertaubat jauh lebih baik dibanding kondisi mereka setelah bertaubat;sebab mereka sebelumnya adalah orang-rang fasik yang meyakini bahwa perbuatan mereka itu adalah haram dan mereka mengharap rahmat Allah serta bertaubat kepada-Nya, atau minimal mereka memiliki niat untuk bertaubat. Sekarang setelah kalian membuat mereka bertaubat, mereka menjadi tersesat lagi musyrik yang keluar dari syari’at Islam. Mereka mencintai apa yang Allah benci dan membenci apa yang Allah cintai. Saya lalu menjelaskan bahwa bid’ah yang selama ini mereka danorang-orang lain perbuat lebih buruk daripada maksiat.”
Beliau melanjutkan perkataannya:”Adapun maksiat sebagaimana diriwayatkan oleh Bukhori di dalam kitab Shohihnya,
عَنْ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ أَنَّ رَجُلًا كَانَ يُدْعَى حِمَارًا وَكَانَ يَشْرَبُ الْخَمْرَ وَكَانَ يُضْحِكُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَكَانَ كُلَّمَا أُتِيَ بِهِ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ تَعَالَى عَلَيْهِ وَسَلَّمَ جَلَدَهُ الْحَدَّ فَلَعَنَهُ رَجُلٌ مَرَّةً . وَقَالَ : لَعَنَهُ اللَّهُ مَا أَكْثَرَ مَا يُؤْتَى بِهِ إلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ تَعَالَى عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا تَلْعَنْهُ فَإِنَّهُ يُحِبُّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ
Dari Umar bin Khotthob bahwasanya ada seorang laki-laki yang dipanggil dengan sebutan himar, yang sering meminum miuman keras. Ia suka sekali membuat Nabi Shollallahu ‘Alaihi wa Sallam tertawa. Setiap kali ia didatangkan ke hadapan Nabi, beliau selalu mencambuknya. Setiap ia dicambuk ada seseorang yang selalu melaknat dirinya.
Orang itu berkata:”Laknat Allah (kepada Himar) betapa sering ia selalu di hadapkan kepada Nabi Shollallahu ‘Alaihi wa sallam.” Serta merta Nabi menimpali perkataan tersebut:”Janganlah engkau melaknatnya, sebab ia adalah seorang yang mencintai Allah dan Rosul-Nya.”[9]
Saya berkata (Ibnu Taimiyah):”Laki-laki ini adalah orang yang sering minum minuman keras, tetapi karena I’tiqodnya benar dan mencintai Allah dan Rosul-Nya. Rosululloh mempersaksikannya dengan hal itu dan melarang ia dilaknat. Adapun para pelaku bid’ah, sebagaimana yang disebutkan oleh Bukhori dan Muslim dalam kitab mereka, dari Ali bin Abi Tholib dan Abu Sa’id al Khudhriy:

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ تَعَالَى عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يُقَسِّمُ فَجَاءَهُ رَجُلٌ نَاتِئَ الْجَبِينِ كَثَّ اللِّحْيَةِ مَحْلُوقَ الرَّأْسِ بَيْنَ عَيْنَيْهِ أَثَرُ السُّجُودِ وَقَالَ مَا قَالَ . فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ تَعَالَى عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَخْرُجُ مِنْ ضئضئ هَذَا قَوْمٌ يَحْقِرُ أَحَدَكُمْ صَلَاتَهُ مَعَ صَلَاتِهِمْ وَصِيَامَهُ مَعَ صِيَامِهِمْ وَقِرَاءَتَهُ مَعَ قِرَاءَتِهِمْ يَقْرَءُونَ الْقُرْآنَ لَا يُجَاوِزُ حَنَاجِرَهُمْ يَمْرُقُونَ مِنْ الْإِسْلَامِ كَمَا يَمْرُقُ السَّهْمُ مِنْ الرَّمِيَّةِ ؛ لَئِنْ أَدْرَكْتهمْ لَأَقْتُلَنهُمْ قَتْلَ عَادٍ
“Sesungguhnya Nabi Shollallahu ‘Alaihi wa Sallam pernah membagikan harta, tiba-tiba datanglah seorang laki-laki yang dahinya cekung ke dalam dan lebat jenggotnya, gundul kepalanya dan di antara kedua matanya ada bekas sujud, ia berkata dengan suatu perkataan.
Maka Nabi Shollallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:”Dari keturunan laki-laki itu akan keluar suatu kaum yang apabila kalian melihat sholat, puasa dan bacaan Al Qur an mereka, niscaya kalian akan menganggap kecil amalan kalian dibanding amalan mereka. Mereka membaca Al Qur an tidak melewawti kerongkongan mereka. Mereka melesat keluar dari Islam secepat panah lepas dari busurnya; Sungguh seandainya aku menemui mereka, pasti akan aku bunuh mereka sebagaimana dibunuhnya kaum ‘Ad.”[10]
 
Aku berkata (ibnu Taimiyah):”Mereka dengan amalan yang telah banyak meeka lakukan seperti sholat, puasa, baca Al Qur an dan gaya hidup mereka yang penuh dengan ibadah dan dalam kondisi yang zuhud. Nabi Shollallahu ‘Alaihi wa Sallam tetap memerintahkan agar mereka dibunuh. Dan akhirnya pada masa Ali bin Abi Tholib, ia bersama para sahabat Nabi membunuh mereka karena telah keluar dari sunnah dan syari’at Rosululloh.”[11]

X.    PENUTUP
Islam sangat menganjurkan kepada pemeluknya untuk berilmu sebelum berbuat, karena ilmu adalah landasan kita dalam beramal,  tanpa ilmu amal yang kita lakukan bisa sia-sia dan tak bernilai di sisi Allah.
Syaikh Al Fauzan berkata:”Wajib bagi seorang muslim untuk mengenal seluruh perkara agamanya, dari sisi aqidah, dan syari’at; ia harus belajar perkara-perkara yang menyangkut aqidah dan apa yang menjadi kosekuensinya, lawannya, apa yang yang bisa menyempurnakannya, dan apa yang dapat mengikis aqidah seseorang, sampai aqidahnya benar dan selamat. Dan seorang muslim wajib pula untuk mempelajari hukum-hukum agamanya yang bersifat praktis, sehingga ia mampu melaksanakan apa yang diwajibkan Allah kepadanya dan meninggalkan apa yang dilarang Allah darinya dengan landasan pengetahuan.Allah berfirman:

فَاعْلَمْ أَنَّهُ لا إِلَهَ إِلا اللَّهُ وَاسْتَغْفِرْ لِذَنبِكَ وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ
“Maka ketahuilah, bahwa sesungguhnya tidak ada Tuhab (Yang haq) melainkan Allah dan mohomlah ampunan bagi dosamu dan bagi (dosa) orang-orang mu’min laki-laki dan perempuan.” (QS. Muhammad : 19)

Jadi Allah memulai ilmu sebelum berbicara dan berbuat. Maka wajib bagi kita untuk berilmu dan beramal; Ilmu yang tidak disertai dengan amal belumlah mencukupi, bahakan hal itu menjadikan pemiliknya dimurkai, sedangkan amal tanpa ilmu akan menjadi sia-sia; karena amal itu dalam kesesatan.”[12]
Imam Bukhori menulis dalam kitab shohihnya Bab Al ‘Ilmu Qobla al Qoul wal ‘Amal (Berilmu sebelum beramal dan berkata) lalu beliau menukil pula ayat 19 surat Muhammad di atas.[13]
Ibnu Hajar berkata:”Ibnul Munir berkata ilmu adalah syarat sahnya perkataan dan perbuatan, keduanya tidak akan benar kecuali dengan adanya ilmu. Karena ilmu harus ada lebih dahulu daripada perkataan dan perbuatan. Dengan adanya ilmu maka ia menjadi pembenar dari perkataan dan perbuatan.”[14]
Al ‘Aini berkata:”Istighfar (yakni pada ayat 19 Surat Muhammad) adalah sebuah isyarat untuk perkataan dan perbuatan.”[15]
Salah satu penyebab dari merebaknya dan menjamurnya bid’ah di dunia Islam yang paling utama adalah karena umat Islam mayoritasnya tenggelam dalam kebodohan. Mereka sudah tidak memahami lagi tentang perintah-perintah dan larangan–larangan Allah dan Rosul-Nya. Sehingga mereka menjadikan tolak ukur kebenaran dalam agama adalah hawa nafsu mereka. Wabah kebodohan ini akhrnya menjadikan kebanyakan manusia tidak mengetahui siapa orang yang sebenarnya, ia jadikan tempat bertanya untuk menghilangkan kebodohan dalam dirinya. Akhirnya fenomena ini dimanfaatkan oleh segelintir orang yang mengaku ulama atau yang dianggap ulama oleh masyarakat di sekitarnya, untuk mengekalkan kebid’ahan yang menguntungkan diri mereka.
Hal ini senada dengan sebuah pengkabaran dari Nabi Muhammad Shollallahu ‘Alaihi wa Sallam, beliau bersabda:

إِنَّ اللَّهَ لَا يَقْبِضُ الْعِلْمَ انْتِزَاعًا يَنْتَزِعُهُ مِنْ الْعِبَادِ وَلَكِنْ يَقْبِضُ الْعِلْمَ بِقَبْضِ الْعُلَمَاءِ حَتَّى إِذَا لَمْ يُبْقِ عَالِمًا اتَّخَذَ النَّاسُ رُءُوسًا جُهَّالًا فَسُئِلُوا فَأَفْتَوْا بِغَيْرِ عِلْمٍ فَضَلُّوا وَأَضَلُّوا
“Sesungguhnya Allah tidak mengambil ilmu dari para hambanya dengan secara tiba-tiba. Tetapi Dia mengambil ilmu dengan mewafatkan para ulama. Sehingga apabila tidak tersisa seorang yang ‘alim, maka manusia menjadikan orang lain menjadi pemimpin yang jahil, lalu pemimpin itu ditanya dan ia berfatwa tanpa ilmu. Maka ia sesat dan menyesatkan.”[16]
 
XI.    KESIMPULAN
1.    Hikmah penciptaan jin dan manusia adalah, agar mereka melaksanakan ibadah hanya kepada Allah semata.
2.    Agama Islam telah sempurna dan paripurna tidak perlu ada sedikitpun penambahan dan pengurangan dari aspek apapun. Karena Rosululloh Shollallahu ‘alaihi wa Sallam telah menjelaskan kepada umatnya segala sesuatu, baik berupa perintah atau larangan atau berita dan lain-lain.
3.    Kebanyakan masyarakat umum tidak memahami makna ibadah dengan benar. Mereka beranggapan bahwa  bentuk ibadah ialah seperti sholat, puasa, zakat, haji, berdzikir, membaca Al- Qur an dan bentuk ibadah lainnya yang lingkupnya sempit.
4.    Sunnah memiliki arti yang beragam, baik sunnah dalam terminogi Al Qur an, hadist-hadist Nabawiyah dan pemahaman para Salafus sholih.
5.    Istilah Ahlus Sunnah wal Jama’ah sudah dikenal dikalangan Salaf (generasi awal umat ini) dan para ulama sesudahnya. Istilah Ahlus Sunnah merupakan istilah yang mutlak sebagai lawan kata Ahlul Bid’ah.[17]
6.    Termasuk dari makna ibadah yang lengkap yaitu ibadah adalah suatu kata yang mencakup segala sesuatu yang dicintai dan diridhoi Allah dari ucapan – ucapan, amal – amal batin dan lahir.
7.    Ibadah itu berlandaskan pada tiga pilar yaitu,: hub (cinta ), khauf (takut ) roja’ ( harapan ).
8.    Ibadah bila diklasifikasikan menjadi dua ibadah umum dan khusus
9.    Syarat diterimanya ibadah ada 2, yaitu : Ikhlas hanya kepada Allah semata dan sesuai dengan sunnah Rosullulloh Shollallahu ‘Alaihi wa Sallam.
10.    Ada 6 prinsip Ahlus Sunnah wal Jama’ah dalam menyikapi ibadah, yaitu :
a)      Beribadah dengan benar-benar mengikuti sunnah Rosululloh dan menjauhi taklid buta
b)      Pada asalnya hukum ibadah adalah terlarang.
c)      Kalau seandainya suatu amalan itu baik tentulah para sahabat telah mendahului mengamalkannya.
d)      Ibadah adalah tauqifiyyah
e)      Bersikap pertengahan dalam beribadah
f)       Beribadah dengan berlandaskan sumber yang jelas dan pasti dari Rosululloh
11.  Penyebab munculnya bid’ah di antaranya adalah[18], kebodohan terhadap syari’at, berbaik sangka terhadap akal, dan mengikuti hawa nafsu, dan munculnya hadist dho’if dan maudhu’.
12.  Nabi Muhammad Shollallahu ‘Alaihi wa Sallam, para sahabat beliau, para ulama Ahlus Sunnah sangat menentang amalan bid’ah yang dilakukan manusia dari zaman ke zaman. Termasuk para ulama madzhab Syafi’i.
13.  Bid’ah adalah penyebab mundurnya umat Islam dan jauhnya rahmat Allah. Sebab bid’ah merupakan suatu hal yang dibenci oleh Allah dan Rosul-Nya.
14.  Yang dilarang dan diingkari oleh para ulama bukanlah pada dzikir, doa,baca Al Qur an nya, karena tidak diragukan amalan-amalan itu adalah sangat dianjurkan dalam Islam. Tetapi yang dilarang adalah kaifiyyah/cara pelaksanaan dan waktu pelaksanaannya yang tidak pernah dicontohkan oleh Rosululloh dan para sahabat beliau.
15.  Ketika membantah ahlul bid’ah seharusnya kita menghiasi bantahan tersebut dengan ilmu dan dalil-dalil[19]

XII.     DAFTAR PUSTAKA


Al Qur an terjemahan DEPAG
Abdat, Abdul Hakim bin Amir, Al Masaa-il, Jakarta; Darus Sunnah, Cet. V, Jilid 3.
——-, Risalah Bid’ah, Jakarta:Pustaka Mu’awiyah bin Abi Sufyan, 2008, Cet. V.
——-, Lau Kaana Khairan Lasabaquunaa Ilaihi, Jakarta;Maktabah Mu’awiyah bin Abi Sufyan, 2010, Cet. V.
Abu Ihsan, Bincang-bincang Seputar Tahlilan Yasinan & Maulidan, Solo;at-Tibyan, 2010, Cet. XII.
Abu Ubaidah, “Gema Dzikir Bersama”, Majalah al Furqon,  Edisi I, tahun IV, 2005.
Ad Duwaisy, Ahmad bin ‘Abdurrozaq, Fatawa Lajnah Daa-imah, Riyadh;Dar al ‘Ashimah, 1996 M/1416 H, Juz 8, Cet. I.
Al Albani, Muhammad Nashiruddin, Dho’if al Jami’ ash Shoghir, Beirut;Maktabah al Islami, 1990 M/1410 H, Cet. III.
——-, Shifat Sholat Nabi, Maktabah al-Ma’arif;Riyadh, 2004 M/ 1424 H.
——-, Silsilah al Ahadiits ad-Dho’ifah wal Maudhu’, Riyadh;Maktabah al Ma’arif, 2000 M/1420 H, Cet. 2.
Al Aql, Nashir bin Abdul Karim, Mafhum Ahlus Sunnah wal Jama’ah, Dar al-Wathon;Riyadh.
Al Halabi, Ali bin Hasan, Mengupas Tuntas Akar Bid’ah, terj. Abu Hilya, Bekasi:Pustaka Imam Adz Dzahabi, 2009, Cet II.
Al Lalika-i, Syarh Ushul I’tiqod Ahlus Sunnah wal Jama’ah, Dar ath Thoyyibah;Riyadh, 2005 M/1426 H, juz I, Cet. IX.
Ath Thohhan,  Mahmud, Taisir Mustholah al Hadist.
Az Zawi, Dhohir Ahmad, Tartib al Qomus al Muhith,Dar al’Alam al Kutub;Riyadh, 1996 M/1417 H.
Ihsan, Abu, Bincang-bincang Seputar Tahlilan Yasinan & Maulidan, Solo;at-Tibyan, 2010, Cet. XII.
Jauzi, Ibnul, Talbisul Iblis, Maktabah ats Tsaqofah ad Diniyyah.
Jawaz, Yazid bin Abdul Qodir, Syarah Aqidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah, Jakarta;Pustaka Imam Syafi’i, Cet. VII.
Pusat Pembinaan dan PEngembangan Bahasa, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Balai Pustaka;Jakarta, 1999, cet X, edisi kedua.
Ritonga, Rahman dan Zainuddin, Fiqh Ibadah,Gaya Media Pratama;Jakarta, 2002, cet. II.
Saini,Ibnu, Benarkah Shalahuddin al-Ayyubi Merayakan Maulid Nabi Shollallahu ‘Alaihi wa Sallam, Jakarta;Maktabah Mu’awiyah, 2009, Cet. I.
Syafi’i, Muhammad bin Idris, al Umm, al Manshuroh; Dar al Wafa’, 2005 M/1426 H, Cet. II.
Syatibi, al I’tishom, al Mamlakah al ‘arobiyyah as Su’udiyyah;Dar Ibn ‘Affan, 1995/ 1416 H M, Cet. IV.
Taimiyyah, Ahmad,  Majmu’ Fatawa, 1997 M/1418 H.
Tuwaijiri, Abdullah bin Abdul Aziz, Ritual Bid’ah Dalam Setahun, Terj. Munirul Abidin, Jakarta;Darul Falah, 2009, Cet. VI.
Umar Bakkar, Najmi, Tahlilan Menurut Para Sahabat Nabi Imam Syafi’i, Ulama Asy Syafi’iyyah, dan yang lainnya, Depok;Jadid Pustaka, 2010.
Utsaimin, Riyadhus Sholihin,Beirut Libanon;Dar bin ‘Asshoshoh, 2006/1427, Cet. I
——-, adh Dhiya’ al Lami’ min Khutob al Jami’, Riyadh;Riasah al ‘Ammah li Idarotil Buhuts al ‘ilmiyyah wal Ifata’ wadda’wah wal Irsyad,1980 M/1400 H, juz 1, Cet. II
Zaen, Abdullah, “14 Contoh Praktek Hikmah Berdakwah”, Makalah, Yogyakarta
Maktabah Syamilah :
‘Abidin, Ibnu, Hasyiyah Rodd al-Mukhtar ‘Ala ad Dar al Mukhtar Syarhu tanwiir al-Abshor
Al Munajjid, Muhammad Sholih, Fatawa al Islam Su’al wa Jawab
Ad Darimi, Sunan ad-Darimi
——-, Hasyiyah I’anah ath-Tholibin
Ahmad, Musnad Ahmad
Al ‘Aini, Badaruddin, ‘Umdatul Qori Syarh Shohih al Bukhori
Al Albani, Muhammad Nashiruddin, Silsilah as Shohihah
——-, Dho’if al Jami’ ash Shoghir
——-, Irwa-ul Gholil
Al Baghdadi, al Khotib, al Faqih wal Mutafaqqih
Al Fauzan, al Muntaqo min Fatawa al Fauzan
Al ghazali, Abu Hamid, Ihya’ Ulumuddin
Al Hakim, Mustadrok ‘Alaa Shohihain
Al-Haitami, Ibnu Hajar, Tuhfah al-Muhtaj fi Syarhi al-Minhaj
al Malibari, Zainuddin bin ‘Abdul ‘Aziz, Fathul Mu’in
Al Qulyubiy, Ahmad bin Salamah, Hasyiyah Qulyubiy ‘alaa Syarh Jalaluddiin al-Mahalliy ‘alaa Minhaj ath-Tholibin
An Nawari, Abu al Fadhl as Sayyid abu al Mu’athi, Al Musnad al Jami’
An Nawawi, al-Majmu’ Syarh al-Muhadzdzab
——-, Syarh an Nawawi ‘alaa Muslim
——-, al Adzkar an Nawawiyah
Ar Ru’ainiy, Al Khattob, Mawahib al-Jaliil li Syarhi Mukhtashor al-Kholil
As Sudais, Abdur Rohman, Durus Syaikh Abdur Roman as-Sudais
As Syatibi, I’tishom
At Thobroni, al Mu’jam al-Kabir
At Tirmidzi, Sunan at Tirmidzi
Ath Thobari, Shorihus Sunnah
Baghowi, Syarh as Sunnah lil Imam Baghowi
Baihaqi, as Sunan al Kubro lil Baihaqi
Bin Baz, Abdul Aziz bin Abdullah, Durus Syaikh Abdul Aziz bin Baz
Bukhori, Shohih Bukhori
Daud, Abu, Sunan Abu Daud
Hajar, Ibnu, Fathul Bari
Jauzi, Ibnul, al Maudhu’aat
Katsir, Ibnu, Tafsir Al Qur an Al Adzim
Majah, Ibnu, Sunan Ibnu Majah
Malik, al-Muwatho’Riwayah Yahya al-Laitsi
Mandhur, Ibnu, Lisan al-Arob
Muslim, Shohih Muslim
Qudamah, Ibnu, al Mughni fii Fiqhi al Imam Ahmad bin Hambal asy Syaibani
Rojab, Ibnu, Jami’ al ‘Ulum wal Hikam
Syafi’i, ar Risalah
——-,Musnad asy Syafi’i
Taimiyah, Ibnu, Majmu’ al Fatawa
——- , al Ubudiyah

[1] Seorang imam yang alim, ulama  Madinah dan pemimpin para tabi’in di zamannya. Lahir dua tahun setelah pengangkatan Umar sabagai khalifah. Beliau banyak mendengar hadist dari kalangan para sahabat, seperti Umar, Utsman, Zaid bin Tsabit, Abu Musa, ‘Aisyah, Abu Huroiroh,Ibnu Abbas dan lain-lainnya. Lihat adz Dzahabi, Siyar A’lam an Nubala’, Beirut;Muassasah ar Risalah, 2001 M/1422 H, juz 4, Cet. XI, hal. 217-218
[2] Baihaqi, as Sunan al Kubro, Bab Man Lam Yusholli Ba’dal Fajri Illa Rok’atainil Fajri Tsumma Baadaro Bil Fardhi, juz 2, hal 466, lihat pula Muhammad Nashiruddin al Albani, Irwa-ul Gholil, juz 2, hal. 236, Maktabah Syamilah
[3] Budak Ibnu Umar yang telah beliau merdekakan.
[4] HR. at Tirmidzi, no. 2738, Bab Maa Yaqulu al ‘Athisu Idza ‘Athosa, juz 5, hal. 81, dihasankan oleh Syaikh al Albani
[5]Al Hakim, Mustadrok ‘Alaa Shohihain, no. 373, Kitabul ‘Ilmi, juz 1, hal. 192, lihat pula al Khotib al Baghdadi, al Faqih wal Mutafaqqih, Bab Ta’dhim as Sunnah wal Hatstsu ‘Alaa at Tamassuk biha wa at Tasliim lahaa wal Inqidadh ilaihaa, juz 1, hal 430, dan lihat pula asy Syafi’i, ar Risalah, Tahqiq Ahmad Syakir, hal. 420 dengan sanad yang lainnya, Maktabah Syamilah
[6]Al Lalika-i, Syarh Ushul I’tiqod Ahlus Sunnah wal Jama’ah, hal. 149, lihat pula Ibnul Jauzi, Talbisul Iblis, Maktabah ats Tsaqofah ad Diniyyah
[7] Ibnu Taimiyah, Majmu’  al Fatawa, juz 10, hal. 9, Maktabah Syamilah
[8] Ibid, juz 20, hal. 103-104
[9] HR. Bukhori, Bab Maa Yukrohu min La’ni Syaribil Khomr wa Innahu Laisa bi Khorijin minal Millah, no. 6780, juz 8, hal. 158, Maktabah Syamilah
[10] HR. Bukhori, Bab al Arwah Junudun Mujanndah, no. 3344, juz 4, hal. 137 dan HR. Muslim, no. 1064, juz 2, hal. 741, Maktabah Syamilah
[11] Ibnu Taimiyah, Majmu’ al  Fatawa, juz 11, hal, 472-474, Maktabah Syamilah
[12] Al Fauzan, al Muntaqo min Fatawa al Fauzan, juz 22, hal. 22, Maktabah Syamilah
[13] Bukhori, Shohih Bukhori, juz 1, hal. 24, Maktabah Syamilah
[14] Ibnu Hajar, Fathul Bari, juz 1, hal. 160, Maktabah Syamilah
[15] Badaruddin al ‘Aini, ‘Umdatul Qori Syarh Shohih al Bukhori, juz 2, hal. 476, Maktabah Syamilah.
[16] HR. Bukhori, Bab Kaifa Yuqbadhu al Ilmu, no. 100, juz 1, hal. 32, Maktabah Syamilah
[17] Yazid bin Abdul Qodir Jawas, Syarah Aqidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah, hal. 43
[18] Abdul Hakim bin Amir Abdat, Risalah Bid’ah, Jakarta:Pustaka Mu’awiyah bin Abi Sufyan, 2008, Cet. V, hal. 81-82 dan hal. 70.
[19] Abdullah Zaen, “14 Contoh Praktek Hikmah Berdakwah”, Makalah, Yogyakarta.

WALLAHU A’LAM BISSHOWAB

(6) Bagaimana Ahlussunnah Beribadah Kepada Allah

Sebagian Prinsip Ahlussunnah wal Jama'ah Dalam Beribadah (6)


14 02 2011

VIII.    Contoh-contoh Ibadah Yang Tidak Ada Tuntunannya Dalam Sunnah Rosululloh

Pada bab ini kami sebutkan sebagian kecil contoh-contoh ibadah yang masih banyak diamalkan oleh kebanyakan kaum muslimin di Indonesia. Mereka beranggapan bahawa amal-amal ibadah tersebut adalah suatu ibadah yang termasuk dalam tuntunan syari’at Islam, tetapi bila kita gali dan teliti lebih jauh ternyata apa yang mereka amalakan telah menyelisihi jalan Rosululloh Shollallahu ‘Alaihi wa Sallam dan para sahabatnya yang lurus. Sengaja bantahan/koreksi terhadap amalan-amalan menyimpang tersebut, tidak kami ungkap secara luas karena keterbatasan ilmu dan tempat pemaparan dalam makalah kami ini. Penulis hanya akan mengambil 4 contoh praktek ibadah yang sangat populer di masyarakat luas, yang sampai detik ini masih saja menimbulkan pro dan kontra di kalangan kaum muslimin sendiri, untuk kemudian kita analisa menurut kacamata syari’at yang murni dari Allah dan Rosul-Nya serta petunjuk para ulama ahlussunnah yang selalu berpegang kepada Al Qur an dan as Sunnah, bukan atas dasar nafsu semata.
Sebab Rosululloh telah memberikan solusi kepada umatnya, suatu cara agar kita tidak tersesat dalam menjalani hidup ini, dengan sabdanya :

تَرَكْتُ فِيكُمْ أَمْرَيْنِ لَنْ تَضِلُّوا مَا تَمَسَّكْتُمْ بِهِمَا كِتَابَ اللَّهِ وَسُنَّةَ نَبِيِّهِ
“Aku telah meninggalkan untuk kalian dua perkara, kalian tidak akan pernah sesat selama senantiasa berpegang teguh dengan keduanya, (yaitu) Kitabullah dan Sunnah Nabi-Nya.”[1]

8.1 Dzikir Berjama’ah Setelah Sholat Wajib Dengan Suara Keras
Kebanyakan kaum muslimin di negeri kita masih banyak yang melakukan praktek ibadah tersebut, dengan alasan bahwa semacam itu adalah baik dan juga diperbolehkan oleh imam asy Syafi’i. Bahkan mengatakan apa yang mereka lakukan adalah termasuk ciri khas dari pengikut madzhab Syafi’i. Tetapi mari kita tinjau ulang benarkah praktek yang mereka lakukan tersebut memiliki landasan yang kuat dalam syaria’t dan sesuai dengan ajaran dari imam asy Syafi’i. Kita harus ingat bahwa hukum sesuatu dalam hal ibadah adalah batil sampai adanya dalil yang memerintahkannya.

i. Sikap para sahabat Nabi
Dari Abu  Musa al Asy’ariy ia berkata :
كُنَّا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَكُنَّا إِذَا أَشْرَفْنَا عَلَى وَادٍ هَلَّلْنَا وَكَبَّرْنَا ارْتَفَعَتْ أَصْوَاتُنَا فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَا أَيُّهَا النَّاسُ ارْبَعُوا عَلَى أَنْفُسِكُمْ فَإِنَّكُمْ لَا تَدْعُونَ أَصَمَّ وَلَا غَائِبًا إِنَّهُ مَعَكُمْ إِنَّهُ سَمِيعٌ قَرِيبٌ تَبَارَكَ اسْمُهُ وَتَعَالَى جَدُّهُ
“Kami pernah bepergian bersama Rosululloh Shollallahu ‘Alaihi wa Sallam, ketika melewati jalan yang mendaki kami bertakbir dengan keras, lalu Nabi bersabda:”Wahai sekalian manusia sayangi diri kalian, karena kalian tidaklah menyeru dzat yang tuli dan jauh, Dia sesungguhnya bersama kamu, Dia adalah dzat Yang Maha Mendengar lagi Maha Dekat. Sucilah nama-Nya dan tinggi kedudukan-Nya.[2]
Amalan semisal yang mereka lakukan ini, sudah terjadi sejak zaman sahabat. Dan dengan sikap tegas untuk memberantas kemungkaran para sahabat tidak tinggal diam saja, tetapi berusaha untuk melenyapkannya sesuai kemampuan mereka. Di antara atsar yang menunjukkan kedalaman ilmu dan ketegasan sahabat ketika menghadapi bid’ah yang terjadi adalah sebuah atsar dari Amr bin Salamah Rodhiyallohu ‘Anhu.

عمرو بن سلمة الهمداني قَالَ : كُنَّا نَجْلِسُ عَلَى بَابِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ قَبْلَ صَلاَةِ الْغَدَاةِ ، فَإِذَا خَرَجَ مَشَيْنَا مَعَهُ إِلَى الْمَسْجِدِ ، فَجَاءَنَا أَبُو مُوسَى الأَشْعَرِىُّ فَقَالَ : أَخَرَجَ إِلَيْكُمْ أَبُو عَبْدِ الرَّحْمَنِ بَعْدُ؟ قُلْنَا : لاَ ، فَجَلَسَ مَعَنَا حَتَّى خَرَجَ ، فَلَمَّا خَرَجَ قُمْنَا إِلَيْهِ جَمِيعاً ، فَقَالَ لَهُ أَبُو مُوسَى : يَا أَبَا عَبْدِ الرَّحْمَنِ إِنِّى رَأَيْتُ فِى الْمَسْجِدِ آنِفاً أَمْراً أَنْكَرْتُهُ ، وَلَمْ أَرَ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ إِلاَّ خَيْراً. قَالَ : فَمَا هُوَ؟ فَقَالَ : إِنْ عِشْتَ فَسَتَرَاهُ – قَالَ – رَأَيْتُ فِى الْمَسْجِدِ قَوْماً حِلَقاً جُلُوساً يَنْتَظِرُونَ الصَّلاَةَ ، فِى كُلِّ حَلْقَةٍ رَجُلٌ ، وَفِى أَيْدِيهِمْ حَصًى فَيَقُولُ : كَبِّرُوا مِائَةً ، فَيُكَبِّرُونَ مِائَةً ، فَيَقُولُ : هَلِّلُوا مِائَةً ، فَيُهَلِّلُونَ مِائَةً ، وَيَقُولُ : سَبِّحُوا مِائَةً فَيُسَبِّحُونَ مِائَةً. قَالَ : فَمَاذَا قُلْتَ لَهُمْ؟ قَالَ : مَا قُلْتُ لَهُمْ شَيْئاً انْتِظَارَ رَأْيِكَ أَوِ انْتِظَارَ أَمْرِكَ. قَالَ : أَفَلاَ أَمَرْتَهُمْ أَنْ يَعُدُّوا سَيِّئَاتِهِمْ وَضَمِنْتَ لَهُمْ أَنْ لاَ يَضِيعَ مِنْ حَسَنَاتِهِمْ.
ثُمَّ مَضَى وَمَضَيْنَا مَعَهُ حَتَّى أَتَى حَلْقَةً مِنْ تِلْكَ الْحِلَقِ ، فَوَقَفَ عَلَيْهِمْ فَقَالَ : مَا هَذَا الَّذِى أَرَاكُمْ تَصْنَعُونَ؟ قَالُوا : يَا أَبَا عَبْدِ الرَّحْمَنِ حَصًى نَعُدُّ بِهِ التَّكْبِيرَ وَالتَّهْلِيلَ وَالتَّسْبِيحَ. قَالَ : فَعُدُّوا سَيِّئَاتِكُمْ فَأَنَا ضَامِنٌ أَنْ لاَ يَضِيعَ مِنْ حَسَنَاتِكُمْ شَىْءٌ ، وَيْحَكُمْ يَا أُمَّةَ مُحَمَّدٍ مَا أَسْرَعَ هَلَكَتَكُمْ ، هَؤُلاَءِ صَحَابَةُ نَبِيِّكُمْ -صلى الله عليه وسلم- مُتَوَافِرُونَ وَهَذِهِ ثِيَابُهُ لَمْ تَبْلَ وَآنِيَتُهُ لَمْ تُكْسَرْ ، وَالَّذِى نَفْسِى فِى يَدِهِ إِنَّكُمْ لَعَلَى مِلَّةٍ هِىَ أَهْدَى مِنْ مِلَّةِ مُحَمَّدٍ ، أَوْ مُفْتَتِحِى بَابِ ضَلاَلَةٍ. قَالُوا : وَاللَّهِ يَا أَبَا عَبْدِ الرَّحْمَنِ مَا أَرَدْنَا إِلاَّ الْخَيْرَ. قَالَ : وَكَمْ مِنْ مُرِيدٍ لِلْخَيْرِ لَنْ يُصِيبَهُ ، إِنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- حَدَّثَنَا أَنَّ قَوْماً يَقْرَءُونَ الْقُرْآنَ لاَ يُجَاوِزُ تَرَاقِيَهُمْ ، وَايْمُ اللَّهِ مَا أَدْرِى لَعَلَّ أَكْثَرَهُمْ مِنْكُمْ. ثُمَّ تَوَلَّى عَنْهُمْ ، فَقَالَ عَمْرُو بْنُ سَلِمَةَ : رَأَيْنَا عَامَّةَ أُولَئِكَ الْحِلَقِ يُطَاعِنُونَا يَوْمَ النَّهْرَوَانِ مَعَ الْخَوَارِجِ.
انظر التعليق في الكتاب ويستفاد منه أن العبرة ليست بكثرة العبادة وإنما بكونها على السنة بعيدة عن البدعة وقد أشار إلى هذا ابن مسعود رضي الله عنه بقوله أيضا : اقتصاد في سنة خير من اجتهاد في بدعة . ومنها : أن البدعة الصغيرة بريد إلى البدعة الكبيرة.


Amr bin Abi Salamah berkata:”Kami duduk-duduk di pintu rumah Abdullah bin Mas’ud, sebelum sholat subuh ketika beliau keluar kami mengiringinya pergi ke masjid. Lalu tiba-tiba Abu Musa al Asy’ari mendatangi kami dan bertanya:”Apakah Abu Abdirrohman (Ibnu Mas’ud) sudah keluar(dari rumah)?”Kami menjawab :”Belum”. Lalu beliau duduk bersama kami. Kemudian keluarlah Ibnu Mas’ud, kami semua berdiri mengerumuni beliau.
Abu Musa berkata kepada Ibnu Mas’ud:”Wahai Abu Abdirrohman, tadi aku melihat suatu perkara yang aku ingkari, namun aku menganggap segala puji bagi Allah- hal itu adalah baik.” Kata Ibnu Mas’ud:”Apa itu?” Jawab Abu Musa:”Jika engkau berumur panjang, engkau akan mengetahui, aku tadi melihat sekelompok orang di masjid mereka duduk mebuat halaqoh menunggu sholat.
Setiap kelompok dipimpin oleh seseorang , sedang ditangan mereka ada kerikil, lalu si pemimpin tadi berkata:”Bertakbirlah seratus kali !” Maka mereka bertakbir seratus kali, “Bertahlillah seratus kali !” Maka mereka bertahlil seratus kali, “Bertasbihlah seratus kali !” Maka mereka bertasbih seratus kali. Ibnu Mas’ud bertanya:”Apa yang kamu katakan kepada mereka ? Abu Musa menjawab:”Aku tidak bilang apa-apa, aku menanti pendapatmu.” Kata Ibnu Mas’ud:”Tidakkah kamu katakan kepada mereka agar mereka menghitung kesalahan mereka dan kamu jamin  bahwa kebaikan mereka tidak akan disia-siakan.”
Lalu Ibnu Mas’ud pergi menuju masjid tersebut dan kami pun ikut, sampai ditempat itu. Ibnu Mas’ud bertanya kepada mereka (yang di masjid):”Benda apa yang kalian pergunakan ini ?” Mereka menjawab:”Kerikil wahai Abu Abdirrohman, kami bertakbir, bertahlil dan bertasbih dengannya.”
Ibnu Mas’ud menimpali:”Hitunglah kesalahan-kesalahan kalian, saya jamin kebaikan kalian tidak akan disia-siakan sedikitpun. Celaka kalian wahai umat Muhammad, betapa cepat kebinasaan kalian. Mereka para sahabat Nabi, masih banyak bertebaran. Ini baju beliau(Nabi) belum rusak dan bejananya belum pecah. Demi dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, sungguh kalian berada dalam suatu agama yang lebih benar dibanding agama Muhammad, atau kalian pembuka pintu kesesatan.” Mereka menjawab:”Wahai Abu Abdirrohman kami tidak menginginkan kecuali kebaikan.”
Jawab Ibnu Mas’ud:”Betapa Banyak orang yang mengawab Ibnu Mas’ud:”Betapa Banyak orang yang menginginkan kebaikan namun tidak memperolehnya.” Sesungguhnya Rosululloh menceritakan  kepada kami bahwa ada suatu kaum yang membaca Al Qur an tetapi tidak sampai tenggorokan. Demi Allah, saya tidak tahu barangkali kebanyakan mereka adalah kalian. Lalu Ibnu Mas’ud pergi. Amr bin Salam berkata:”Kami mendapati mayoritas anggota halaqoh tersebut memerangi kami pada perang Nahrawan bersama khowarij.”[3]
Syaikh al Albani berkata mengenai atsar di atas:”’Ibroh(diterimanya amal) bukan dengan melakukan banyak ibadah, tetapi dilihat bahwa ibadah tersebut sesuai dengan sunnah dan jauh dari bid’ah. Ibnu Mas’ud juga pernah berpesan:”Berbuat sedikit dalam sunnah lebih baik daripada bersungguh-sungguh tetapi melakukan suatu amalan dalam bid’ah.” [4]
Atsar yang agung ini menyimpan lautan ilmu dan kaidah-kaidah emas yang berharga. Di antara kandungan atsar ini yaitu[5]:
  1. Bid’ahnya dzikir berjama’ah.
  2. Ibadah itu harus sesuai syari’at yang telah dicontohkan oleh Rosululloh, bukan berdasarkan hawa nafsu.
  3. Niat baik tidak bisa merubah kebatilan menjadi kebajikan.
ii. Pernyataan Para Ulama Madzhab Syafi’i

A. Imam asy Syafi’i
Beliau berkata dalam al Umm :

وَأَخْتَارُ للامام وَالْمَأْمُومِ أَنْ يَذْكُرَا اللَّهَ بَعْدَ الِانْصِرَافِ من الصَّلَاةِ وَيُخْفِيَانِ الذِّكْرَ إلَّا أَنْ يَكُونَ إمَامًا يَجِبُ أَنْ يُتَعَلَّمَ منه فَيَجْهَرَ حتى يَرَى أَنَّهُ قد تُعُلِّمَ منه ثُمَّ يُسِرُّ فإن اللَّهَ عز وجل يقول { وَلَا تَجْهَرْ بِصَلَاتِك وَلَا تُخَافِتْ بها } يعنى وَاَللَّهُ تَعَالَى أَعْلَمُ الدُّعَاءَ وَلَا تَجْهَرْ تَرْفَعْ وَلَا تُخَافِتْ حتى لَا تُسْمِعَ نَفْسَك
…Dan aku (imam Syafi’i) lebih memilih untuk para imam dan makmum agar berdzikir kepada Allah sesudah sholat(5 waktu) dengan cara merendahkan suara, kecuali jika imam tersebut harus mengajarkannya kepada makmum, maka ia (boleh) mengeraskannya sampai mereka mampu mengikutinya. Lalu (imam) kembali merendahkan suaranya (lagi). Allah berfirman :”Dan janganlah engkau mengeraskan suaramu dalam sholat, dan janganlah pula merendahkaannya.” (QS. Al-Isro’ : 110), yakni Allah Ta’ala lebih mengetahui doamu, maka jangan engkau angkat suaramu dan jangan pula kau rendahkan. Sehingga kamu sendiri tidak bisa mendengarnya[6]
B. Imam an Nawawi
Beliau berkata dalam kitabnya :

وفي رواية ان رفع الصوت بالذكر حين ينصرف الناس من المكتوبة كان على عهد النبي صلى الله عليه و سلم وأنه قال بن عباس رضي الله عنهما كنت أعلم اذا انصرفوا بذلك اذا سمعته[7] …وغيرهم متفقون على عدم استحباب رفع الصوت بالذكر والتكبير وحمل الشافعي رحمه الله تعالى هذا الحديث على أنه جهر وقتا يسيرا حتى يعلمهم صفة الذكر لا أنهم جهروا دائما قال فاختار للإمام والمأموم أن يذكر الله تعالى بعد الفراغ من الصلاة ويخفيان ذلك الا أن يكون اماما يريد أن يتعلم منه فيجهر حتى يعلم أنه قد تعلم منه ثم يسر وحمل الحديث على هذا.
“Dalam sebuah riwayat,”Bahwa meninggikan suara pada waktu berdzikir ketika manusia telah selesai dari sholat fardhu, itu merupakan suatu hal yang biasa dilakukan di masa Nabi Shollallahu ‘Alaihi wa Sallam. Ibnu Abbas pernah mengatakan:”Dulu aku mengetahui selesainya (Nabi Muhammad dan Para sahabatnya) dari sholat fardhu bila aku mendengarnya(dzikir mereka dengan suara keras)…
Sedangkan (para ulama) yang lainnya, mereka semua sepakat, bahwa mengeraskan suara ketika dzikir dan takbir tidaklah disukai (goiru mustahab), dan asy Syafi’i memahami bahwa hadist tersebut maksudnya dilakukan dalam waktu yang singkat, sehingga imam bisa mengajari makmum lafadz dzikir. Bukan untuk melakukannya terus menerus. Ia(an Nawawi) berkata:”Imam Syafi’i lebih memilih, bagi imam dan makmum untuk menyembunyikan bacaan dzikir mereka setelah sholat fardhu, kecuali jika imam itu ingin agar makmum belajar (lafadz dzikir) darinya, maka dia mengeraskan bacaan dzikirnya, sampai dia melihat para makmum untuk berdzikir (sendiri-sendiri) lalu ia merendahkan (bacaan dzikirnya lagi).[8]
C. Syaikh Zainuddin bin Abdul ‘Aziz al-Malibari asy-Syafi’
Beliau di dalam Fathul Mu’in setelah membawakan pernyataan imam Syafi’i sebelum ini secara lengkap dari kitab al Umm, maka ia mengatakan:

( فائدة ) قال شيخنا أما المبالغة في الجهر بهما في المسجد بحيث يحصل تشويش على مصل فينبغي حرمتها.

“Faidah:Syaikh kami (Ibnu Hajar al Hatsami) mengatakan:”Adapun bersuara kerasa pada keduanya (berdzir dan berdoa) di dalam masjid, sehingga mengganggu orang yang sedang sholat, maka sepatutnya perkara itu diharamkan.”[9]
Berkata Abu Hamid al Ghazali asy Syafi’i dalam Ihya’ Ulumuddin ketika menerangkan adab-adab dalam berdoa, ia menyebutkan[10]:

الرابع خفض الصوت بين المخافتة والجهر لما روى أن أبا موسى الأشعري قال قدمنا مع رسول الله فلما دنونا من المدينة كبر وكبر الناس ورفعوا أصواتهم فقال النبي صلى الله عليه وسلم يا أيها الناس إن الذي تدعون ليس بأصم ولا غائب إن الذي تدعون بينكم وبين أعناق ركابكم.
وقالت عائشة رضي الله عنه في قوله عز وجل ولا تجهر بصلاتك ولا تخافت بها حديث عائشة في قوله تعالى ولا تجهر بصلاتك ولا تخافت بها أي بدعائك متفق عليه أي بدعائك.
وقد أثنى الله عز وجل على نبيه زكرياء عليه السلام حيث قال إذ نادى ربه نداء خفيا.
وقال عز وجل ادعوا ربكم تضرعا وخفية.
“Yang keempat:Dengan merendahkan suara antara diam diam dan keras (seperti seseorang yang berbisik), sebagaimana Abu Musa al-As’ariy meriwayatkan:Kami (pernah) datang bersama Rosululloh, tatkala mendekati kota Madinah ia bertakbir kemudian orang-orang pun bertakbir sambil mengeraskan suara mereka. Sejurus kemudian Nabi Shollallahu ‘Alaihi wa Sallam bersada:Wahai manusia, sesungguhnya Dzat yang kalian seru bukanlah Dzat yang tuli dan jauh. Sesungguhnya Dzat yang kalian seru berada di antara kalian dan leher-leher tunggangan kalian.[11]
‘Aisyah pernah berkata ketika menafsirkan firman Allah:

ولا تجهر بصلاتك ولا تخافت بها
“Dan janganlah kamu mengeraskan suaramu dalam shalatmu dan janganlah pula merendahkannya.” (QS. Al Isra’ : 110) Maksud(dari kata) “dalam shalatmu” adalah “dalam doamu” (kepada Allah).”
Allah juga telah memuji Nabi-Nya Zakariya dengan firman-Nya :

إذ نادى ربه نداء خفيا
“Yaitu tatkala ia berdoa kepada Robbnya dengan suara yang lemah lembut.”
 (QS. Maryam : 3)
Allah juga berfirman:
ادعوا ربكم تضرعا وخفية
“Berdoalah kepada Robb kalian dengan merendahkan diri dan suara yang lembut.”
(QS. Al A’rof : 55)

Berkata Ibnu Hajar al-Asqolaniy asy Syafi’i dalam Fathul Bari :

قوله أربعوا بفتح الموحدة أي ارفقوا قال الطبري فيه كراهية رفع الصوت بالدعاء والذكر وبه قال عامة السلف من الصحابة والتابعين
“Maksud dari sabda beliau di dalam hadist:”(اِرْبَعُوا) adalah:”Kasihanilah (dirimu sendiri).” Imam ath-Thabari mengatakan:”Di dalam hadist ini terdapat makruhnya mengeraskan suara ketika berdzikir dan berdoa. Pendapat ini juga merupakan pendapat mayoritas para Salaf dari kalangan sahabat dan tabi’in.”[12]
Setelah kita membaca dengan cermat pernyataan-pernyataan kedua imam besar madzhab Syafi’i di atas masihkah tersisa dalam hati seorang yang mengaku muslim dan sekaligus sebagai pengikut madzhab Syafi’i, untuk terus mempertahankan cara dzikir yang diwarisi dari para gurunya, tetapi  jelas-jelas perkara itu menyalahi petunjuk Rosul, sahabat dan para imam kaum muslimin.

8.2      Tahlilan



Apa itu tahlilan ?
Tahlilan adalah acara yang berkaitan dengan peristiwa kematian seseorang lalu keluarga mayit bersama masyarakat sekitarnya mengadakan pembacaan Al Qur an dan dzikir-dzikir tertentuberikut doa-doa yang ditujukan untuk si mayit di alam kubur. Ritual ini dilakukan secara berjama’ah dan dengan suara keras. Biasanya acara ini berlangsung tiga atau tujuh hari berturut-turut setelah hari kematian. Kemudian diakhiri dengan hidangan makanan yang lebih dari ala kadarnya. Dan acara ini juga diselenggarakan lagi pada hari ke-40 dan ke-100 atau dilakukan setiap tahun.[13]
Orang-orang yang melakukannya menganggap apa yang mereka amalkan ini adalah termasuk bagian dari ibadah dalam Islam. Diantara alasan-alasan yang mereka pakai sebagai landasan dari ibadah tersebut, yaitu :
  1. Acara ini adalah ibadah, karena ada pembacaan Al Qur an, dzikir-dzikir dan doa.
  2. Menenangkan hati keluarga si mayit.
  3. Mengingat kematian.
  4. Saling kunjung mengunjungi.
  5. Termasuk amalan ibadah pengikut madzhab Syafi’i.
Syari’at Islam dengan tegas telah mengharamkan acara tahlilan ini, bahkan para imam besar dalam madzhab Syafi’i juga membenci bahkan mengharamkannya. Hal ini bisa kita temukan dalam kitab-kitab tulisan mereka.

i. Sikap para sahabat Nabi Shollallahu ‘Alaihi wa Sallam :
Pertama :

عن جرير بن عبد الله البجلي قال : كنا نعد الاجتماع إلى أهل الميت وصنيعه الطعام بعد دفنه من النياحة
Dari Jarir bin Abdillah al Bajali berkata:”Kami(para sahabat Nabi) bahwa berkumpul-kumpul di (rumah) keluarga mayit dan membuat makanan setelah si mayit di kubur merupakan niyahah(meratapi mayat).”[14]
Kedua :

وَرُوِيَ أَنَّ جَرِيرًا وَفَدَ عَلَى عُمَرَ ، فَقَالَ : هَلْ يُنَاحُ عَلَى مَيِّتِكُمْ ؟ قَالَ : لَا .
قَالَ : فَهَلْ يَجْتَمِعُونَ عِنْدَ أَهْلِ الْمَيِّتِ ، وَيَجْعَلُونَ الطَّعَامَ ؟ قَالَ : نَعَمْ .
قَالَ : ذَاكَ النَّوْحُ .
Dan telah diriwayatkan bahwasanya Jarir pernah bertamu kepada Umar, lalu Umar  bertanya:”Apakah mayit kalian diratapi ?”
Jarir menjawab:”Tidak.”
Lalu Umar bertanya lagi:”Apakah orang-orang berkumpul di keluarga mayit dan membuat makanan ?”
Jarir menjawab:”Ya.”
Maka Umar berkata:”Yang demikian adalah ratapan.”[15]
Sedangkan niyahah (meratapi) adalah salah satu perbuatan jahiliyah yang Kita dilarang untuk melakukannya.

Rosululloh bersabda:
أربع في أمتي من أمر الجاهلية لا يتركونهن الفخر في الأحساب والطعن في الأنساب والاستسقاء بالنجوم والنياحة
“Empat hal yang tidak ditinggalkan oleh umatku yang termasuk perkara-perkara jahiliyah,berbangga-bangga dengan keturunan, mencela nasab, mengatakan turunnya hujan dengan sebab munculnya bintang, dan niyahah (meratapi).”[16]
 
Ummi ‘Athiyah berkata:
إِنَّ رَسُولَ اللهِ صلى الله عليه وسلم نَهَانَا عَنِ النِّيَاحَةِ.
“Sungguh Rosululloh Shollallahu ‘Alaihi wa Sallam melarang kita dari Niyahah.”[17]
  

ii. Sikap para ulama madzhab Syafi’i :

a. Imam asy Syafi’i
Beliau pernah menyatakan :

وَأَكْرَهُ الْمَأْتَمَ وَهِيَ الْجَمَاعَةُ وَإِنْ لم يَكُنْ لهم بُكَاءٌ فإن ذلك يُجَدِّدُ الْحُزْنَ وَيُكَلِّفُ الْمُؤْنَةَ مع ما مَضَى فيه من الْأَثَرِ
“Dan aku membenci al ma’tam, yaitu berkumpul (di rumah keluarga mayit), walaupun di tempat itu tidak ada tangisan, sebab acara kumpul-kumpul tersebut bisa membangkitkan lagi kesedihan mereka dan membebani  (keluarga mayit) serta bertentangan dengan atsar yang telah berlalu (atsar dari Jarir di atas).”[18]

b. Imam an Nawawi seorang ulama besar madzhab Syafi’i berkata:

وأما اصلاح اهل الميت طعاما وجمع الناس عليه فلم ينقل فيه شئ وهو بدعة غير مستحبة
”Adapun hidangan yang dibuat keluarga mayit dan berkumpulnya manusia untuk hidangan itu, maka hal seperti itu tidaklah dinukil sedikit pun keterangannya(dalil), tidak disunahkan dan itu adalah bid’ah.”[19]



Imam an Nawawi berkata dalam kitabnya yang lain :



قال الشافعي وأصحابنا رحمهم الله : يكره الجلوس للتعزية (1) قالوا : يعني بالجلوس أن يجتمع أهل الميت في بيت ليقصدهم من أراد التعزية ، بل ينبغي أن يتصرفوا في حوائجهم ولا فرق بين الرجال والنساء في كراهة الجلوس لها ، صرح به المحاملي ، ونقله عن نص الشافعي رضي الله عنه ، وهذه كراهة تنزيه إذا لم يكن معها محدث آخر ،فإن ضم إليها أمر آخر من البدع المحرمة كما هو الغالب منها في العادة ، كان ذلك حراما من قبائح المحرمات ، فإنه محدث.
وثبت في الحديث الصحيح : ” إن كل محدث بدعة وكل بدعة ضلالة “.
“Asy Syafi’i dan sahabat-sahabat kami rohimahumulloh berkata:”Dibencinya duduk-duduk pada saat ta’ziyah. Mereka berkata:”Yakni duduk-duduk untuk berkumpulnya keluarga ahli mayit dalam satu rumah, agar orang-orang yang berkeinginan berta’ziyah dapat mengunjungi mereka tetapi orang-orang yang berta’ziyah ini hendaknya segera pergi untuk memenuhi keperluan mereka sendiri (setelah berta’ziyah). Tidak ada perbedaan antara laki-laki dan wanita mengenai dimakruhkannya duduk-duduk acara itu (ta’ziyah). Al-Mahamili menegaskan tentang hal itu dan ia menukil pernyataan dari asy Syafi’i. Ini adalah suatu larangan yang amat keras, jika bersama acara itu (ta’ziyah) tidak ada perkara yang muhdats (bid’ah) yang lain. Apabila bergabung bersama acara itu perkara lain yang termasuk dalam suatu perbuatan bid’ah yang diharamkan, sebagaimana yang biasa terjadi dalam tradisi, maka perbuatan itu adalah haram, termasuk dari seburuk-buruknya perkara haram. Karena sesungguhnya itu adalah muhdats. Dan telah dijelaskan dalam hadist shohih bahwa “Sesungguhnya setiap yang baru adalah bid’ah dan setiap bid’ah adalah sesat.”[20]

c. Abu Bakar bin Muhammad Syathho ad-Dimyathi
Beliau berkata di dalam kitabnya Hasyiyah I’anah ath-Tholibin :

1- ما يفعله الناس من الاجتماع عند أهل الميت وصنع الطعام، من البدع المنكرة التي يثاب على منعها والي الامر، ثبت الله به قواعد الدين وأيد به الاسلام والمسلمين.
2- ويكره اتخاذ الطعام في اليوم الاول والثالث وبعد الاسبوع، ونقل الطعام إلى القبر في المواسم
3- ومن البدع المنكرة والمكروه فعلها: ما يفعله الناس من الوحشة والجمع والاربعين، بل كل ذلك حرام
1 –Berkumpulnya manusia dan menyelenggarakan jamuan makanan di keluarga ahli mayit, adalah termasuk bid’ah yang mungkar. Bagi siapa yang melarangnya akan diberi ganjaran oleh waliyul amr. Semoga Allah menguatkan pondasi-pondasi agama dan mengokohkan Islam dan kaum muslimin melalui mereka (waliyul amr)“[21]
2 –Dan dibenci menyeleggarakan jamuan makan pada hari pertama, ketiga sesudah seminggu. Dan memindahkan makanan ke kuburan secara musiman (seperti peringatan khaul)“[22]
3 –Dan di antara bid’ah yang mungkar dan dibenci ialah perkara yang dilakukan manusia, ketika menyampaikan duka cita, berkumpul pada hari ke-40, bahkan semua perkara itu adalah haram.“[23]
d.     Syaikh Romli
Beliau berkata dalam Hasyiyah Qulyubiy ‘alaa Syarh Jalaluddiin al-Mahalliy ‘alaa Minhaj ath-Tholibin:
ومن البدع المنكرة المكروه فعلها . كما في الروضة ما يفعله الناس مما يسمى بالكفارة , ومن صنع طعام للاجتماع عليه قبل الموت أو بعده , ومن الذبح على القبر , بل ذلك كله حرام
“Dan di antara bid’ah yang mungkar  dan dibenci yang diamalkan. Sebagaimana yang diterangkan di kitab ar Roudhoh (imam Nawawi), yaitu apa yang dilakukan manusia berupa menghidangkan makanan dalam acara kumpul-kumpul di rumah ahli mayit baik sebelum atau sesudah kematian, serta penyembelihan di pekuburan, semua perkara itu adalah haram.[24] Coba kita perhatikan perkataan-perkatan para sahabat dan para imam kaum muslimin di atas yang merupkan imam yang sangat dikenal di negeri kita, yang mayoritas muslimnya mengaku bermadzhab Syafi’i.
Hanya sekedar berkumpul-kumpul duduk-duduk dan keluarga mayit menyediakan makanan kepada orang yang datang saja sudah dianggap hal yang dibenci oleh para ulama dan para sahabat pun sudah menggolongkan itu termasuk bagian dati meratap. Lalu bagaimna jika mereka melihat pada masa ini, di mana kemungkaran demi kemungkaran, bid’ah demi bid’ah lebih banyak terjadi dengan adanya acara tahlilan lalu ditambah lagi dengan ketentuan acaranya harus pada hari tertentu, bacaannya pun tertentu dan lain-lain, maka sudah jelas akan lebih besar lagi kecaman yang akan mereka katakan (jika mereka hidup di zaman ini), meskipun orang-orang yang hidup di zaman ini mengaku dan mengklaim bahwa mereka juga mengikuti madzhab Syafi’i. Alangkah jauhnya perbedaan anata mereka dengan imam asy Syafi’i dan para ulama yang mengikutinya.[25]
Seseorang terkadang telah mengetahui dan memahami dengan jelas dalil-dalil yang mengharamkan tahlilan, tetapi para pelaku tahlilan yang belum mendapat hidayah ini akan membantah dan memunculkan banyak alasan untuk tetap bersikukuh dangan amalan mereka itu.









8.3 Yasinan

 Ini adalah salah satu amalan yang disukai oleh sebagian kaum muslimin di Indonesia. Setiap malam jum’at bisanya mereka akan berkumpul di masjid/rumah untuk membaca surat yasin yang sering dibaca bersama tahlil. Padahal hadist-hadist yang berbicara tentang yasin sebagian besarnya adalah lemah bahkan palsu/maudhu’. Dan apakah para Salaf as-Sholih pernah mengamalkannya dalam perjalanan dakwah mereka ?

Hadist-hadist tersebut adalah sebagai berikut :
- Hadist pertama
من قرأ يس في ليلة ابتغاء وجه الله غفر له
“Barangsiapa yang membaca surat yasin pada malam hari, maka dia akan diampuni dosanya di pagi harinya.”
Ibnul Jauzi mengomentari bahwa hadist ini batil tidak ada asalnya.[26]
- Hadist kedua
من قرأ { يس } مرة فكأنما قرأ القرآن عشر مرات .
“Barangsiapa membaca surat Yaasin satu kali seakan-akan ia telah membaca Al Qur an sebanyak 10 kali.”[27]
Keterangan: HADIST INI (مَوْضُوْعٌ) PALSU




- Hadist ketiga
إِنَّ لِكُلِّ شَيْئٍ قَلْبًا وَإِنَّ قَلْبَ الْقُرْآنِ يس , مَنْ قَرَأَهَا فَكَأَنَّمَا قَرَأَ الْقُرْآنَ عَشَرَمَرَّاتٍ.
“Sesungguhnya tiap-tiap sesuatu mempunyai hati dan hati (inti) Al Qur an itu ialah Yaasin. Barangsiapa yang membacanya, maka Allah akan memberikan pahala bagi bacaannya seperti pahala membaca Al Qur an sepuluh kali.”[28]
Keterangan: HADIST INI (مَوْضُوْعٌ) PALSU
+  Hadist ini diriwayatkan oleh at Tirmidzi (4/46), dan ad Darimi (II/456), dari jalan Humaid bin Abdurrahman, dari al Hasan bin Sholih, dari Harun Abu Muhammad, dari Muqotil bin Hayyan (yang benar Muqotil bin Sulaiman) dari Qotadah secara marfu’.
+  Dalam hadist ini terdapat dua rowi yang LEMAH:
1.  Harun Abu Muhammad.
Berkata at-Tirmidzi:”Harun Abu Muhammad majhul (tidak dikenal)
2.  Muqotil bin Hayyan
Ibnu Abi Hatim berkata dalam al ‘Ilal (II/55-56):”Aku bertanya kepada ayahku tentang hadist ini. Beliau menjawab:’Muqotil yang disebutkan dalam sanad hadist ini adalah Muqotil bin Sulaiman, aku mendapati hadist ini di awal kitab yang disusun oleh Muqotil bin Sulaiman. Hadist ini adalah hadist yang batil, tidak ada asalnya.’”
Periksa: Silsilah al Ahadiits ad-Dho’ifah wal Maudhu’ (Jilid I, hal. 312-313)
- Hadist keempat
من قرأ { يس } كل ليلة غفر له .
“Barangsiapa membaca surat Yaasin setiap malam, niscaya dosanya diampuni.”[29]
Keterangan: HADIST INI LEMAH
Dalam membahas yasinan tidaklah lengkap kalau tidak menyertakan hadist-hadist yang dipakai sebagian muslimin untuk mengamalkannya, dengan hal-hal yang berkaitan dengan pahala bagi mayit.
- Hadist pertama
من زار قبر والديه كل جمعة فقرأ عندهما أو عنده { يس } غفر له بعدد كل آية أو حرف .
“Barangsiapa menziarahi kubur kedua orang tuanya setiap jum’at dan membacakan surat Yaasin di sisi kubur keduanya atau salah satunya, maka akan diampuni (dosa)nya sebanyak ayat atau huruf yang dibacanya.”[30]
Keterangan: HADIST INI (مَوْضُوْعٌ) PALSU
Diriwayatkan oleh Ibnu ‘Adiy (I/286), dan Abu Nu’aim dalam Akhbaru Ashbahan (II/344-345) dan Abdul Ghoniy al Maqdisi dalam  Sunannya (II/91) dari jalan Abu Mas’ud Yazid bin Khalid. Teah menceritakan kepada kami ‘Amr bin Ziyad telah menceritakan kepada kami Yahya bin Salim ath Thoif dari Hisyam bin Urwah dari ayahnya dari ‘Aisyah dari Abu Bakar secara marfu’.
- Hadist kedua
من قرأ { يس } ابتغاء وجه الله غفر الله له ما تقدم من ذنبه فاقرءوها عند موتاكم .
“Barangsiapa membaca surat Yaasin bertujuan mencari wajah Allah, niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosanya yang telah lalu. Maka bacakanlah surat itu pada orang yang mati di antara kalian.”[31]
Keterangan: HADIST INI LEMAH

*      KESIMPULAN
Pemaparan singkat di atas sudah cukup jelas bagi kita untuk mengatakan bahwa hadist-hadist yang menerangkan keutamaan surat Yaasin adalah berderajat lemah bahkan palsu. Padahal pada prinsip ibadah menurut Ahlussunnah wal Jama’ah yang ke-6 pada pembahasan sebelumnya telah dijelaskan bahwa para ulama melarang hadist dho’if dan maudhu’ sebagai landasan untuk beramal.

8.4 Bid’ah Maulid Nabi Muhammad Shollallahu ‘Alaihi wa Sallam

 Maulid Nabi adalah perayaan memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad yang diadakan pada tanggal 12 robi’ul awwal oleh sebagian besar kaum muslimin. Meraka akan mengadakan berbagai acara untuk menyambut hari besar tersebut. Namun apakah amalan yang mereka lakukan itu ada tuntunannya dalam Islam ? Bagaimanakah sebenarnya sikap para ulama ahlussunnah  terhadap perayaan tersebut ? Namun dalam tulisan ini penulis hanya akan membahas permasalahan-permasalahan di atas dengan ringkas saja, para pembaca bisa mendapatkan penjelasannya yang lebih lus dalam buku-buku yang dijadikan referensi penulis.

Dari penjelasan terdahulu sudah kita singgung bahwa suatu amalan ibadah di dalam agama Islam, haruslah memiliki dua landasan utama. Yakni ikhlas dan mengikuti petunjuk Rosululloh. Apabila para pelaku dan penggemar maulidan mengaku melakukan maulid dengan dasar ikhlas semata-mata karena Allah, maka tinggal syarat kedua yaitu apakah amalan mereka itu pernah ditunjukkan oleh Rosululloh sudah terpenuhi.
Jawabannya adalah apabila amal itu suatu kebaikan yang disyari’atkan tentunya Nabilah orang pertama yang akan menyeleggarakan cara tersebut. Seandainya cara itu suatu kebaikan dalam agama tentu Abu Bakar dan Umar akan bersegera untuk mengadakannya. Karena sebagai dua orang sahabat yang terdekat dan utama mereka berdua juga mertua Rosululloh. Seandainya maulidan adalah suatu hal yang disyari’atkan pasti para istri beliau, para ahli bait serta para sahabat yang dikenal dengan kecintaaan mereka yang sangat luar biasa terhadap Rosulnya pasti akan menjadi orang-orang pertama yang akan memulai peringatan kelahiran Nabi mereka yang sangat mereka agungkan dan muliakan.
Tapi kenyataannya tidak ada satupun riwayat dari mereka semua yang menyebutkan bahwa mereka memperingati, mengadakan atau merayakan hari kelahiran beliau. Bisakah anda menuduh bahwa mereka sengaja membuat umat lupa terhadap hari kelahiran beliau ? Buktinya para ulama sendiri berselisih pendapat tentang tanggal pasti kelahiran beliau.[32]

 i. Sikap para ulama tentang perayaan maulid Nabi

- Sikap Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah.
Beliau berkata:
وَأَمَّا اتِّخَاذُ مَوْسِمٍ غَيْرِ الْمَوَاسِمِ الشَّرْعِيَّةِ كَبَعْضِ لَيَالِي شَهْرِ رَبِيعٍ الْأَوَّلِ الَّتِي يُقَالُ : إنَّهَا لَيْلَةُ الْمَوْلِدِ أَوْ بَعْضِ لَيَالِيِ رَجَبٍ فَإِنَّهَا مِنْ الْبِدَعِ الَّتِي لَمْ يَسْتَحِبَّهَا السَّلَفُ وَلَمْ يَفْعَلُوهَا وَاَللَّهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى أَعْلَمُ .
“Adapun perbuatan mengadakan perayaan tahunan yang tidak pernah ditetapkan di dalam ajaran Islam seperti yang biasa diarayakan pada sebagian malam pada bulan Rabi’ul Awwal, yang disebutkan bahwa itu adalah malam maulidan, atau yang biasa dikerjakan di sebagian malam di bulan Rajab …semua itu termasuk dari perbuatan bid’ah yang tidak disukai oleh para Salaf dan mereka tidak pernah melakukannya, wallohu a’lam.[33]
- Sikap imam Syatibi
Beliau berkata dalam al I’tishom:
ومنها : التزام الكيفيات والهيئات المعينة ، كالذكر بهيئة الاجتماع على صوت واحد ، واتخاذ يوم ولادة النبي صلى الله عليه وسلم عيداً ، وما أشبه ذلك .
“Dan di antara hal yang masuk ke dalam perkara bid’ah ini adalah mengadakan kaifiyat (cara), hai-at (keadaan) tertentu di dalam beribadah, seperti mengadakan dzikir dengan cara berkumpul sambil dikomandoi oleh seseorang, atau mengadakan perayaan pada hari kelahiran Nabi (maulidan) atau yang semisal dengan itu.”[34]
-Sikap para ulama Lajnah Daa-imah
Para ulama kerajaan Saudi Arabia yang terkumpul dalam  Lajnah Daa-imah, yang diketuai oleh Syaikh Abdul Aziz bin Baz, wakil syaikh ‘Abdurrozaq ‘Afifi dan para anggotanya : Syaikh Abdullah bin Qu’ud dan Syaikh Abdullah bin Ghudyan. Mereka pernah ditanya dalam pertanyaan no 8340 demikian:
لدينا ميدان عام يقام فيه احتفال المولد النبوي، هل تجوز صلاة العيد أو صلاة الاستسقاء فيه؟
“Di tempat kami tinggal ada sebuah lapangan umum, yang biasa dipakai untuk maulid Nabi, apakah diperbolehkan untuk diselenggarakan sholat ‘id dan sholat istisqo’ di situ ?”
Kemudian mereka menjawabnya:
تجوز صلاة الاستسقاء وصلاة العيدين فيه، وإذا تيسرت الصلاة في غيره كان أولى، مع العلم بأن الاحتفال بالموالد بدعة يجب تركها؛ لأن النبي صلى الله عليه وسلم لم يفعله، ولا خلفاؤه الراشدون ولا بقية الصحابة رضي الله عنهم، ولا أتباعهم بإحسان في القرون الثلاثة المفضلة، ولأنه من وسائل الغلو والشرك بصاحب المولد.
Diperbolehkan untuk menyelenggarakan sholat istisqo’ dan sholat ‘id di tempat tersebut, namun apabila dirasa lebih mudah untuk melaksanakan sholat tadi di tempat yang lain, maka itu lebih utama. Sebagaimana dikertahui perayaan maulid Nabi merupakan perkara yang bid’ah dan wajib untuk ditinggalkan. (Alasan pertama) Karena Nabi Shollallahu ‘Alaihi wa Sallam tidak pernah merayakannya, juga para khulafaur Rosyidin serta para sahabat yang lain. Demikian pula para ulama Tabi’in yang hidup pada kurun waktu yang utama, (kedua) Karena perayaan maulid Nabi dan maulid-maulid yang lainnya itu merupakan sarana yang dapat menjerumuskan seseorang ke dalam perbuatan Ghuluw (berlebih-lebihan) terhadap seseorang dan juga dapat menjerumuskan de dalam perbuatan syirik.[35]
Salah satu alasan yang sering mereka gembar-gemborkan sebagai pembenar amalan mereka ini adalah orang pertama yang melakukan dan menyebarkan perayaan maulid Nabi adalah Shalahuddin al Ayyubi, seorang raja yang berhasil menguasai Baitul Maqdis dari tangan kaum salibis, pada waktu perang salib.

Tetapi di dalam buku Benarkah Shalahuddin al-Ayyubi Merayakan Maulid Nabi Shollallahu ‘Alaihi wa Sallam tulisan Ibnu Saini bin Muhammad bin Musa., beliau memaparkan serangkaian data-data yang bersumber dari kitab-kitab tulisan para ulama yang terpercaya, yang ternyata menunjukkan bahwa orang yang melakukan dan menyebarkan maulid Nabi adalah para penguasa kerajaan ‘Ubaidiyah(yang dikenal dengan kerajaan Fathimiyah) yang beragama Syi’ah Rofidhoh Bathiniyyah Isma’iliyyah, yang telah dihukumi kafir murtad dari Islam oleh sejumlah ulama seperti, Ibnul Jauzi, Ibnu Taimiyah, Adz-Dzahabi dan ulama lainnya.[36]
Di antara alasan-alasan para ulama melarang perayaan maulidan sebagai berikut[37] :
  1. Kesepakatan para ulama Salaf untuk tidak merayakan maulidan dan untuk meninggalkannya.
  2. Maulidan adalah sarana yang dapat menjerumuskan seseorang kepada perbuatan syirik akbar.
  3. Maulidan adalah perbuatan bid’ah, maka masuk ke dalam larangan agama.
  4. Maulidan termasuk perbuatan menyerupai orang-orang kafir.
  5. Banyaknya kemungkaran yang terjadi dalam acara perayaan maulidan.
  6. Maulidan adalah salah satu hal yang menyebabkan seseorang melalaikan kewajiban agama.
  7. Maulidan termasuk perbuatan mubazir.
  8. Maulidan hanyalah membuang waktu percuma.

[1] HR. Malik, al Muwattho’, no. 3338, Bab an Nahya ‘an al Qoul bi al Qodar, juz 5, hal. 1321, Maktabah Syamilah.
[2] HR. Bukhori, Bab at Takbir ‘inda al Harbi, no. 2991, juz 4, hal. 57, Maktabah Syamilah
[3] Ad Darimi, Sunan ad Darimi, juz 1,  hal 79, lihat pula Muhammad Nashiruddin al Albani, Silsilah as Shohihah, juz 5, hal 11, dan lihat pula Abu al Fadhl as Sayyid abu al Mu’athi an Nawari, Al Musnad al Jami’, juz 28, hal. 379, Maktabah Syamilah
[4] Muhammad Nashiruddin al Albani, Silsilah as Shohihah, juz 5, hal 11, Maktabah Syamilah
[5] Abu Ubaidah al Atsari, “Gema Dzikir Bersama”, Majalah al Furqon,  Edisi I, tahun IV, 2005, hal. 15-17.
[6] Muhammad bin Idris asy Syafi’i, al Umm, al Manshuroh; Dar al Wafa’, 2005 M/1426 H, Cet. II, juz 2, hal. 288
[7] HR. Bukhori, Bab adz Dzikru Ba’da Sholah, no. 841, juz 1, hal. 168, Maktabah Syamilah
[8] An Nawawi, Syarh an Nawawi ‘Ala Shohih Muslim, juz 5, hal 84, Maktabah Syamilah
[9] Zainuddin bin ‘Abdul ‘Aziz al Malibari, Fathul Mu’in, juz 1, hal. 186, Maktabah Syamilah
[10] Abu Hamid al ghazali, Ihya’ Ulumuddin, Kitab al Adzkar wa ad-Da’awaat, juz 2, hal. 95, Maktabah Syamilah
[11] HR. Abu Daud, bab Fii al Istighfar, no. 1528, juz 1, hal. 561, Maktabah Syamilah
[12] Ibnu Hajar, Fathul Bari, Qouluhu bab Maa Yukrohu min Rof’i as-Shout  fii at-Takbir, no. 2830, juz 6, hal 135, Maktabah Syamilah
[13] Abu Ihsan al Atsari, Bincang-bincang Seputar Tahlilan Yasinan & Maulidan, Solo;at-Tibyan, 2010, Cet. XII, hal. 83.
[14] HR. Ahmad, no. 6611, juz 14, hal. 149, Maktabah Syamilah
[15] Ibnu Qudamah, al Mughni fii Fiqhi al Imam Ahmad bin Hambal asy Syaibani, juz 2, hal. 413, Maktabah Syamilah
[16] HR. Muslim, Bab at Tasydiid  fii an Niyahah, no. 29, juz 2, hal. 644, Maktabah Syamilah
[17] HR. Abu Daud, Bab Fii an Nauh, no. 3127, juz 3, hal. 193, Maktabah Syamilah
[18] Asy Syafi’i, al Umm, Bab al Qiyam lil Janaazah, juz 1, hal. 279
[19] Imam an Nawawi, al Majmu’ Syarah Muhadzdzab, Bab at Ta’ziyah wa al Buka’ ‘alal Mayyit, juz 5, hal. 320, Maktabah Syamilah
[20]An Nawawi, al Adzkar an Nawawiyah, hal. 149-150, Maktabah Syamilah.
[21]Ad Dimyathi, Hasyiyah I’anah ath Tholibin, juz 2, hal. 165, Maktabah Syamilah.
[22] Ibid, hal. 166
[23]Ibid, hal. 165-166
[24]Ahmad bin Salamah al Qulyubiy, Hasyiyah Qulyubiy ‘alaa Syarh Jalaluddiin a -Mahalliy ‘alaa Minhaj ath Tholibin, juz  1, hal. 414, Maktabah Syamilah
[25] Najmi bin Umar Bakkar, Tahlilan Menurut Para Sahabat Nabi Imam Syafi’i, Ulama Asy Syafi’iyyah, dan yang lainnya, Depok;Jadid Pustaka, 2010, hal 30-31
[26] Ibnul Jauzi, al Maudhu’aat, hal. 247, Maktabah Syamilah
[27]Muhammad Nashiruddin al Albani, Dho’if al Jami’ ash Shoghir, no. 5786, Beirut;Maktabah al Islami, 1990 M/1410 H, Cet. III, hal. 835
[28] Muhammad Nashiruddin al Albani, Silsilah al Ahadiits ad Dho’ifah wal Maudhu’, no. 169, Riyadh;Maktabah al Ma’arif, 2000 M/1420 H, Cet. 2, Jilid I, hal. 312
[29]Muhammad Nashiruddin al Albani, Dho’if al Jami’ ash Shoghir, no. 5788, hal. 835
[30]Muhammad Nashiruddin al Albani, Silsilah al Ahadiits ad Dho’ifah wal Maudhu’, no. 50, hal. 126
[31]Ibid, no. 5785, hal. 834
[32] Abu Ihsan al Atsari, Bincang-bincang Seputar Tahlilan Yasinan & Maulidan, hal. 102
[33] Ahmad bin Taimiyyah, Majmu’ Fatawa, 1997 M/1418 H, Juz 25, hal. 298
[34] Syatibi, al I’tishom, al Mamlakah al ‘arobiyyah as Su’udiyyah;Dar Ibn ‘Affan, 1995 M/ 1416 H, Cet. IV, hal. 53
[35] Ahmad bin ‘Abdurrozaq ad Duwaisy, Fatawa Lajnah Daa-imah, Riyadh;Dar al ‘Ashimah, 1996 M/1416 H, Juz 8, Cet. I, hal. 329
[36] Ibnu Saini, Benarkah Shalahuddin al-Ayyubi Merayakan Maulid Nabi Shollallahu ‘Alaihi wa Sallam, Jakarta;Maktabah Mu’awiyah, 2009, Cet. I, hal. 25-53
[37] Ibid, hal. 113-122

(5) Bagaimana Seorang Ahlussunnah Beribadah Kepada Allah

Sebagian Prinsip Ahlussunnah wal Jama'ah Dalam Beribadah (5)


14 02 2011

Ini adalah bagian inti dalam tulisan ini maka
 PERHATIKANLAH DAN PAHAMILAH DENGAN BAIK !!
VII.    PRINSIP AHLUS SUNNAH WAL JAMA’AH DALAM IBADAH

7.1        Beribadah Dengan Benar-Benar Mengikuti Sunnah Rosululloh dan Menjauhi Taklid Buta
Ahlus Sunnah wal Jama’ah dalam beribadah selalu mengikuti/ittiba’ sunnah Rosululloh Shollallahu ‘Alaihi wa Sallam. Karena mereka memahami dengan benar bahwa setiap amal ibadah dalam agama yang tidak termasuk dalm tuntunan beliau, maka amal itu tertolak. Prinsip inilah yang sejak dahulu telah dipahami oleh para imam madzhab, dan hal itu pun juga mereka wasiatkan kepada umat Islam agar kita berpegang kepada sunnah Rosululloh.
Di antara wasiat-wasiat para imam madzhab tersebut yaitu :


i. Imam Abu Hanifah Rohimahulloh


Banyak riwayat-riwayat dari imam Abu Hanifah an Nu’man bin Tsabit Rohimahulloh yang berupa perkataan perkataan dan ungkapan-ungkapan, yang semuanya menunjukkan kepadasatu hal yang jelas, yaitu :wajibnya menjadikan al Hadist sebagai dasar amalan dan meninggalkan pendapat-pendapat para imam yang menyelisihi al Hadist. Di antara perkataan-perkataan beliau :
إذا صحَّ الحديثُ فهوَ مَذْهَبِي
“Apabila suatu hadist telah jelas keshohihannya, maka itulah madzhabku”[1]
ولايحِلُّ لِأَحَدٍ أَنْ يَأْخُذَ بِقَوْلِنَا مَالَمْ يَعْلَمْ مِنْ أَيْنَ أَخَذْنَاهُ
“Tidak halal bagi sesorang untuk mengikuti perkataan kami, selagi ia tidak mengetahui dari mana kami mengambilnya.[2]

ii. Imam Malik Rohimahulloh


إنَّمَا أنا بشَرٌ أُخْطِئُ وَأُصِيْبُ,فَانْظُرُوْا فِيْ رَاْيِيْ,فَكُلُّ مَا وَافَقَ الكِتابَ والسُّنَّةَ فَخُذُوْهُ, وكُلُّ مَالَمْ يُوَافِقِ الْكِتَابَ والسُّنَّةَ فَاتْرُكُوْهُ
“Sungguh aku hanya seorang manusia kadang aku salah dan kadang aku benar, maka lihatlah(dulu) pendapatku, jadi apa yang sesuai dengan Al-Kitab (Al Qur an) dan As-Sunnah maka ambillah, dan apa-apa yang menyelisihi As-Sunnah maka tinggalkanlah.”[3]
 
iii. Imam Syafi’i Rohimahulloh


إذا صحَّ الحديثُ فهوَ مَذْهَبِي
“Apabila suatu hadist telah jelas keshohihannya, maka itulah madzhabku.”[4]
أَجْمَعَ الْمُسْلمونَ عَلَى أَنَّ مَنِ اسْتَبَانَ لَهُ سُنَّة عن رسول الله صلى الله عليه وسلم,لَمْ يَحِلُّ له  أَنْ يَدَعَهَا لِقَوْلِ أَحَد
“Kaum muslimin telah bersepakat bahwa barangsiapa telah jelas baginya tentang sunnah Rosululloh Shollallahu ‘Alaihi wa Sallam, maka tidak halal baginya untuk berpaling darinya (lalu mengambil) perkataan orang lain.”[5]
إذا رأيتموني أقول قولا وقد صح عن النبي صلى الله عليه وسلم خلافه فاعلموا أن عقلي قد ذهب
“Jika kalian mengetahui aku berkata dengan sesuatu yang menyelisihi (sunnah) Rosululloh Shollallahu ‘Alaihi wa Sallam, maka ketahuilah bahwa akalku sudah hilang.”[6]
كل ما قلت فكان عن النبي صلى الله عليه وسلم خلاف قولي مما يصح فحديث النبي أولى فلا تقلدوني
“Semua pendapatku yang bertentangan dengan Hadist Rosululluh Shollallahu ‘Alaihi wa Sallam yang shohih, maka janganlah engkau taklid  kepadaku.”[7]
 
iv. Imam Ahmad bin Hambal Rohimahulloh


لا تقلدني ولا تقلد مالكا ولا الشافعي ولا الأوزاعي ولا الثوري وخذ من حيث أخذوا
الاتباع أن يتبع الرجل ما جاء عن النبي صلى الله عليه وسلم وعن أصحابه ثم هو من بعد التابعين مخير
“Janganlah kalian bertaqlid kepadaku, Syafi’i, al-Auza’i, ats-Tsauriy, namun ambillah(ikutilah) darimana mereka berpendapat.”[8]
“Ittiba’ ialah seorang laki-laki mengikuti semua yang datang dari Nabi Shollallahu ‘Alaihi wa Sallam dan para sahabatnya lalu mengikuti apa-apa yang berasal dari para tabi’in yang terpilih.”[9]
Dari perkataan-perkataan para imam madzhab di atas kita dapat menyaksikan dengan jelas dan terang seterang sinar matahari di siang hari yang terik, bahwa para imam tersebut menyuruh kita untuk berpegang teguh kepada al-Hadist, dan mereka melarang untuk taqlid kepada pendapat mereka tanpa dasar ilmu. Karena sesungguhnya orang yang berpegang kepada semua yang shohih dalam as-Sunnah walaupun bertentangan dengan perkataan para imam tersebut, tidaklah keluar dari jalan dan madzhab yang mereka tempuh, malahan orang itu benar-benar telah mengikuti  madzhab para imam itu.[10]
Apabila kita melihat praktek ibadah yang diamalkan oleh mayoritas masyarakat, akan kita dapatkan hal-hal yang bertolak belakang jauh dari wasiat para imam madzhab tadi. Jika mereka diberitahu dan dinasehati bahwa ibadah yang mereka lakukan selama ini jelas-jelas menyelisihi Hadist Rosululloh Shollallahu ‘Alaihi wa Sallam, mereka dengan mudahnya menjawab kalau amalan ibadah mereka adalah tuntunan yang diajarkan oleh para imam madzhab mereka. Sungguh ini adalah kejahilan yang besar terhadap madzhab imam mereka sendiri.

7.2 Pada Asalnya Hukum Ibadah Adalah Terlarang.
Sebagian orang seringkali mencampur adukkan antara hal-hal yang termasuk ibadah dengan yang bukan ibadah, kaidah yang mereka gunakan untuk membenarkan bid’ah mereka ialah sebuah kaidah yang berbunyi

الأصلُ فِي الأَشْيَاءِ الإِبَاحَةُ

“Pada asalnya hukum sesuatu itu adalah boleh “.

Ini adalah kaidah ilmiah yang benar, akan tetapi tidak dapat di pergunakan dalam perkara ibadah. Kaidah ini dapat dipergunakan pada segala sesuatu yang diciptakan oleh Allah yang memberikan manfaat bagi orang lain. Dan memang, pada asalnya hukum sesuatu itu adalah halal dan boleh.
Ibnu Qoyyim mengatakan : “Dapat dimaklumi bahwa sesungguhnya tidak ada yang haram kecuali yang diharamkan oleh Allah dan Rosul-Nya. Tidak ada dosa kecuali apa yang ditetapkan oleh Allah dan Rosul-Nya sebagai perbuatan dosa bagi pelakunya. Sebagaimana tidak ada kewajiban kecuali yang diwajibkan oleh-Nya. Dan tiada yang haram kecuali yang di haramkan oleh-Nya., Tidak ada agama kecuali apa yang disyariatkan Allah. Pada asalnya, hukum sesuatu dalam hal ibadah adalah batil sampai adanya dalil yang memerintahkannya.[11]

7.3 Kalau Seandainya Amalan Itu Baik Tentulah Para Sahabat Telah Mendahului Mengamalkannya (لَوْ كَانَ خَيْرًا لَسَبَقُوْنَا إلَيْهِ)
Imam Ibnu Katsir Rohimahulloh berkata ketika menafsirkan ayat 38 surat an-Najm :”Dari ayat yang mulia ini imam as-Syafi’i Rohimahulloh danpara pengikutnya menyimpulkan, bahwa pahala membaca Al- Qur an tidak sampai kepada orang yang mati; sebab amal ibadah itu bukanlah dari hasil perbuatannya.
Maka Rosululloh Shollallahu ‘Alaihiwa Sallam tidak menganjurkan dan menyuruh umatnya, untuk mengamalkannya, dan tidak memerintahkannya baik secara perkataan yang jelas atau pun isyarat. Serta tidak dinukil hal tersebut dari salah seorang sahabat, kalau seandainya perbuatan itu baik tentulah para sahabat telah mendahului mengamalkannya, sedangkan bentuk ibadah-ibadah untuk mendekatkan diri kepada Allah, hanya bisa diketahui berdasarkan nas- nas yang ada. Juga tidak sedikit pun menggunakan qiyas-qiyas dan pikiran-pikian manusia semata.”[12]
Yang dimaksud  dengan kaidah di atas ialah[13]:
1.  Apa yang telah disepakati(di-ijma’-kan) oleh mereka. Sedangkan ijma’ para sahabat menjadi dasar hukum Islam yang ketiga setelah Al Qur an dan Sunnah.
2.  Manhaj atau cara beragamanya yang benar di dalam berpegang dengan Al Qur an dan Sunnah. Kita pun wajib mengikuti manhaj dan pemahaman mereka di dalam berpegang dan kembali kepada Al Qur an dan as Sunnah.
3.  Mereka Mendahulukan wahyu Al Qur an dan wahyu as Sunnah daripada akal fikiran mereka.
4.  Mereka sangat menjauhi dan membenci serta memerangi bid’ah.

7.4 Ibadah Adalah Tauqifiyyah
Syeikh Bin Baz Rohimahulloh Berkata:
فالدين كامل بحمد الله، قد أكمله الله، فليس لأحدٍ من الناس أن يحدث في الدين أو يشرع فيه ما لم يأذن به الله، والعبادة توقيفية، ليست بالآراء والاختراعات، ولكنها بالتوقيف قال الله وقال رسوله، فما لم يأت عن الله ولا عن رسوله من العبادات فليس لنا أن نتعبد به فيكون بدعة
قال تعالى: { أَمْ لَهُمْ شُرَكَاءُ شَرَعُوا لَهُمْ مِنَ الدِّينِ مَا لَمْ يَأْذَنْ بِهِ اللَّهُ } [الشورى:21]
“Agama sudah sempurna-alhamdulillah- Allah sudah menyempurnakannya, oleh karena itu tidak boleh bagi seseorang mengada-adakan atau mensyari’atkan sesuatu di dalam agama yang Allah tidak memberinya izin, Karena ibadah adalah tauqifiyyah, bukan (didapat) melalui kreasi pemikiran dan penemuan, tetapi ibadah berasal dari firman Allah dan sabda Rosul-Nya, sesuatu bentuk ibadah yang tidak bersumber dari Allah dan Rosul-Nya, kita tidak boleh beribadah dengan cara tersebut sedangkan cara itu termasuk bid’ah.
Allah berfirman :”Apakah mereka mempunyai sesembahan selain Allah yang menetapkan peraturan agama bagi mereka yang tidak diizinkan (diridho) Allah?.”[14]
Syaikh as-Sudais pernah menyatakan dalam sebuah ceramahnya bahwa beribadah dalam agama islam adalah tauqifiyyah, wajib bagi seorang muslim dalam beribadah untuk melandasinya dari dua sumbernya, yaitu : Al Qur an dan sunnah Rosululloh Shollallahu ‘Alaihi wa Sallam. Hendaklah ia tidak menambah-nambah (sesuatu amalan) dalam syari’at Allah apa-apa yang tidak diperintahkan Allah. Dan hendaklah ia tidak membuat sesuatu amalan yang baru dalam agama ini. Sebab Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْأِسْلامَ دِيناً
“Pada hari ini telah Ku-sempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu.”(Al Maidah : 3)

Maka agama islam sudah paripurna dan sempurna, sehingga kita hanya tinggal beramal dengan apa-apa yang ada dalam agama kita. Dan kita harus berhati-hati untuk tidak menambah-nambah di dalamnya. Disebabkan karena lemahnya aqidah dan minimnya wala’ serta mutaba’ah kepada Rosululloh Shollallahu ‘alaihi wa Sallam, juga taqlid kepada musuh-musuh islam dan tasyabbuh dengan mereka, sehingga terjadilah sikap melampaui batas dalam kaum muslimin, dari batas-batas yang sudah digariskan.Yakni, batas-batas yang diwajibkan kita berhenti(untuk tidakmelanggarnya). Sebagai suatu ketaatan kepada sebuah hadist Rosulullulloh Shollahu ‘Alaihi wa Sallam yang agung dan termasuk dari Kaidah-kaidah agama, beliau bersabda:
مَنْ أَحْدَثَ فِي أَمْرِنَا هذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ
Barangsiapa melakukan suatu amalan yang bukan ajaran kami, maka amalan tersebut tertolak.[15]
Oleh sebab itu semua amal ibadah yang bukan merupakan bagian dari sunnah Rosululloh Shollallahu ‘Alaihi wa Sallam dan para kholifah ar-Rosyidin, maka amalan seseorang itu tertolak siapapun dia.[16]
 
7.5       Bersikap Pertengahan Dalam Beribadah
Imam an Nawawi menulis dalam kitabnya Riyadhus Sholihin bab tentang bersikap pertengahan dalam beribadah. Beliau banyak menukil beberapa ayat-ayat Al Qur an dan hadist-hadist Nabawiyah dalam bab tersebut.
Di antara hadist tersebut yaitu, hadist yang diriwayatkan oleh Anas bin Malik beliau berkata:

جَاءَ ثَلَاثَةُ رَهْطٍ إِلَى بُيُوتِ أَزْوَاجِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَسْأَلُونَ عَنْ عِبَادَةِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَلَمَّا أُخْبِرُوا كَأَنَّهُمْ تَقَالُّوهَا فَقَالُوا وَأَيْنَ نَحْنُ مِنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَدْ غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ وَمَا تَأَخَّرَ قَالَ أَحَدُهُمْ أَمَّا أَنَا فَإِنِّي أُصَلِّي اللَّيْلَ أَبَدًا وَقَالَ آخَرُ أَنَا أَصُومُ الدَّهْرَ وَلَا أُفْطِرُ وَقَالَ آخَرُ أَنَا أَعْتَزِلُ النِّسَاءَ فَلَا أَتَزَوَّجُ أَبَدًا فَجَاءَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَيْهِمْ فَقَالَ أَنْتُمْ الَّذِينَ قُلْتُمْ كَذَا وَكَذَا أَمَا وَاللَّهِ إِنِّي لَأَخْشَاكُمْ لِلَّهِ وَأَتْقَاكُمْ لَهُ لَكِنِّي أَصُومُ وَأُفْطِرُ وَأُصَلِّي وَأَرْقُدُ وَأَتَزَوَّجُ النِّسَاءَ فَمَنْ رَغِبَ عَنْ سُنَّتِي فَلَيْسَ مِنِّي.

“Tiga orang (sahabat) datang ke rumah istri-istri Nabi Shollallahu ‘Alaihi wa Sallam sambil bertanya  mengenai ibadah Nabi Shollallahu Alaihi wa Sallam, setelah mereka diberitahu nampaknya para sahabat itu, menganggap ibadah mereka kecil dan berujar,”Bagaimana ibadah kita bila dibandingkan dengan Nabi, beliau telah diampuni dosanya yang akan datang dan yang telah lampau. Berkata salah seorang dari ketiganya,”Aku akan sholat malam terus selamanya, dan berkata yang lain,”Aku akan berpuasa terus menerus dan tidak akan berbuka, seorang yang lain berkata,”Aku akan menjauhi wanita dan tidak akan menikah selamanya.” 
Kemudian Rosululloh Shollallahu ‘Alaihi wa Sallam datang, lalu berkata,”Kalian yang mengatakan ini dan itu, demi Allah aku adalah orang yang paling takut kepada Allah dan paling bertakwa kepada-Nya. Namun aku puasa dan berbuka, aku sholat dan aku tidur, dan aku menikah dengan wanita, barang siapa yang enggan dengan sunnahku, maka dia bukan termasuk dari golonganku.”[17]


Hadist di atas merupakan suatu dalil bahwa bagi seorang muslim, untuk bersikap pertengahan(iqtishod) dalam urusan ibadah, bahkan ia harus bersikap pertengahan dalam semua perkara;sebab bila ia hanya bersantai-santai dalam suatu perkara, niscaya ia akan melewatkan banyak kebaikan.
Sedangkan bila ia terlalu bersikap ekstrim, suatu waktu ia akan menjadi lemah semangat, malas  lalu berhenti, jadi hendaklah bagi seseorang dalam semua urusannya untuk bersikap pertengahan(muqtashid).[18]
Dari Aisyah Rodhiyallohu ‘Anha berkata:
أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ … وَأَنَّ أَحَبَّ الْأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ
Bahwa Rosululloh Shollallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:…”Sesungguhnya amal yang paling dicintai di sisi Allah adalah amal yang dilaksanakan secara terus-menerus 
walaupun sedikit.”[19]
 



7.6 Beribadah dengan berlandaskan sumber yang jelas dan pasti dari Rosululloh
Sumber hukum kedua dalam Islam adalah al-Hadist. Hadist yang dapat diterima dan dijadikan sumber hukum ada 2 yaitu : hadist shohih dan hasan.

i.    Hukum beramal dengan hadist shohih :
Para ahli hadist, ahli ushul fiqh dan fuqoha’ telah ber-ijma’ tentang wajibnya beramal dengan hadist ini. Hadist shohih adalah salah satu hujjah dalam syari’at. Tidak boleh seorang muslim untuk tidak beramal terhadap hadist tersebut.[20]

ii.    Hukum beramal dengan hadist hasan :
Hadist hasan sebagaimana hadist shohih merupakan salah satu hujah dalam syari’at, meskipun kekuatannya dibawah hadist shohih. Oleh karena itu seluruh fuqoha’, mayoritas muhadits dan ahli ushul fiqh berhujah dan beramal dengan hadist ini.[21]
Selain kedua hadist di atas kita mengenal istilah hadist dho’if(lemah) dan hadist maudhu’(palsu). Hadist dhoif tidak bisa dijadikan dasar sebagai pengambilan sumber hukum. Namun para ulama Ahlus Sunnah berselisih pendapat mengenai beramal dengan hadist dhoif dalam hal fadhoil a’mal. Sedangkan hadist palsu sepakat para ulama ahli hadist untuk tidak menjadikannya sebagai salah satu sumber pengambilan dalil. Insya Allah akan datang penjelasannya setelah kita membahas hadist dho’if.

iii.    Hadist Dho’if
Adapun hadist dho’if sebagian dari para ulama memperbolehkan beramal dalam masalah fadhoil a’mal tetapi dengan banyak syarat dan sebagian lain melarangnya. Ibnu Hajar telah merangkum syarat-syarat yang memperbolehkan pengamalan hadist dhoif dalam fadhoil a’mal. Syarat-syarat tersebut yaitu:
  1. Hadist itu tidak terlalu dhoif sekali, misalnya tidak dijadikan landasan amalan suatu hadist yang yang diriwayatkan oleh hanya seorang saja, yang termasuk dari golongan pendusta atau dituduh sebagai seorang pendusta atau ia banyak kacaunya dalam hal periwayatan.
  2. Hadist dhoif tersebut masih masuk ke dalam cakupan hadist pokok yang bisa diamalkan(hadist shohih dan hasan).
  3. Tidak berkeyakinan bahwa hadist dhoif itu berstatus kuat ketika mengamalkannya, bahkan harus berhati-hati.
Dan bukanlah pembolehan beramal dengan hadist dhoif di sini bahwa kami menganjurkan untuk beribadah, hanya dengan berlandaskan dari sebuah hadist yang dhoif saja. Pendapat seperti ini tidak ada satupun ulama yang mengatakannya. Tetapi maknanya apabila telah jelas anjuran untuk beribadah yang bersumber dari dalil syar’i yang shohih semisal sholat malam, lalu datang hadist dho’if yang berisi tentang keutamaan sholat malam, maka tidak mengapa untuk beramal dengan hadist dho’if tersebut pada saat ini.[22]
Selain ketiga syarat di atas para ulama menambahkan syarat-syarat lain untuk mengamalkan hadist dho’if dalam fadhoil a’mal, sebagai berikut[23] :
  1. Hadist itu tidak berkaitan dengan aqidah, seperti sifat-sifat Allah.
  2. Tidak termasuk  dalam hadist-hadist yang menjelaskan hukum-hukum syari’at, yakni yang berkaitan dengan halal dan harom.
  3. Tidak mengumumkan pengamalannya.
Mencermati syarat-syarat yang cukup ketat di atas, tentu akan menyulitkan  bila kita akan berdalil suatu hadist dho’if. Maka solusinya lebih baik kita tinggalkan jauh-jauh hadist-hadist dho’if, kita menuju kepada hadist-hadist Nabi lain yang shohih dan hasan. Toh ketika kita mempelajari, menghafalkan lalu beramal dengan hadist shohih dan hasan telah menyibukkan waktu, tenaga dan pikiran.
Imam Muslim berkata dalam muqoddimah kitab shohihnya :

وَفَّقَكَ اللَّهُ تَعَالَى أَنَّ الْوَاجِبَ عَلَى كُلِّ أَحَدٍ عَرَفَ التَّمْيِيزَ بَيْنَ صَحِيحِ الرِّوَايَاتِ وَسَقِيمِهَا وَثِقَاتِ النَّاقِلِينَ لَهَا مِنْ الْمُتَّهَمِينَ أَنْ لَا يَرْوِيَ مِنْهَا إِلَّا مَا عَرَفَ صِحَّةَ مَخَارِجِهِ وَالسِّتَارَةَ فِي نَاقِلِيهِ وَأَنْ يَتَّقِيَ مِنْهَا مَا كَانَ مِنْهَا عَنْ أَهْلِ التُّهَمِ وَالْمُعَانِدِينَ مِنْ أَهْلِ الْبِدَعِ …قَوْلُ اللَّهِ جَلَّ ذِكْرُهُ  { يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا أَنْ تُصِيبُوا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَى مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ }

 “Semoga Allah memberimu taufiq , ketahuilah bahwa yang wajib bagi setiap orang yang mengetahui cara membedakan antara riwayat yang shohih dengan yang lemah, dan dapat pula ia membedakan antara perowi yang tsiqoh dengan perowi yang tertuduh sebagai pendusta, hendaklah jangan meriwayatkannya kecuali yang dia ketahui keshohihan sanadnya. Dan hendaklah dia menjauhi agar tidak meriwayatkan dari orang-orang yang tertuduh berdusta, para penentang yang termasuk ahli bid’ah…Allah berfirman : “Wahai orang-orang yang beriman! Jika seseorang yang fasik datang kepadamu membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya, agar kamu tidak mencelakakan suatu kaum karena kebodohan(kecerobohan), yang akhirnya kamu menyesali perbuatan itu.
(QS. Al-Hujurot : 6)[24]
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata:”Dilarang untuk mengambil hukum dalam syari’at yang bersumber dari hadist-hadist dho’if, namun Ahmad bin Hambal dan yang selainnya membolehkan meriwayatkan hadist-hadist dho’if dalam perkara fadholi a’mal, selama tidak didapati bahwa hadist itu adalah hadist dusta. Sebab melakukan suatu amalan bila telah diketahui bahwa amal tersebut disyari’atkan, lalu ada hadist lain yang meriwayatkan tentang keutamaan amal itu dan tidak diketahui bahwa hadist itu dusta, maka boleh jadi pahala yang disebutkan di dalam hadist tadi akan diperoleh orang yang mengamalkan amalan itu. Dan tidak ada seorang pun ulama yang mengatakan bolehnya menjadikan sesuatu amalan itu wajib atau mustahab hanya berlandaskan hadist yang dho’if. Barangsiapa yang berpendapat dengan perkataan ini sungguh dia telah menyelisihi ijma’.[25]

iv.    Hadist Maudhu’ (Palsu)
Salah satu penyebab kerusakan dalam umat Islam adalah tersebarnya banyak hadist palsu di tengah-tengah mereka. Padahal mayoritas manusia tidak bia membedakan antara hadist yang bisa dijadikan dalil dalam agama dengan hadist yang sama sekali tidak bisa dipakai dasar dalam agama.
Rosululloh Sudah memperingatkan kita mengenai hal ini beliau bersabda :
مَنْ كَذَبَ عَلَيَّ مُتَعَمِّدًا فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنْ النَّارِ
“Barangsiapa yang berdusta atas namaku dengan sengaja, maka hendaklah dia menyiapkan tempat duduknya di neraka.”[26]
من حدث عني حديثا وهو يرى أنه كذب فهو أحد الكاذبين
“Barangsiapa yang meriwayatkan sebuah hadist dariku, yang dia menyangka bahwa hadist itu dusta, maka dia adalah salah satu dari pendusta.”[27]
Berkata imam an Nawawi :“Dan adapun hadist maudhu’(palsu) ia adalah hadist yang dibuat-buat, kadang-kadang orang yang membuat hadist palsu mengambil suatu perkataan dari orang lain lalu dijadikan menjadi sebuah hadist. Atau kadang kala ia membuat suatu hadist yang berasal dari perkataannya sendiri. Umumnya hadist-hadist palsu bisa diketahui dari lafadznya yang jelek. Ketahuilah bahwa menyengaja membuat-buat suatu hadist merupakan perkara yang haram menurut ijma’ kaum muslimin(orang-orang yang mempunyai kapabilitas di dalam ijma’).(Sedangkan)kelompok-kelompok ahli bid’ah seperti al-Karomiyyah menyelsisihi Kesepakatan tersebut. Mereka membolehkan (meriwayatkan hadist palsu) dan meletakkannya ke dalam perkara targhib,tarhib dan zuhud.
Jalan mereka ini diikuti pula oleh orang-orang jahil dari kalangan yang disebut zuhaad(orang-orang zuhud) dengan tujuan untuk memotivasi diri mereka dalam mengamalkan suatu perbuatan yang baik, menurut persangkaan mereka yang sesat. Ini adalah suatu puncak kebodohan yang nyata. Cukuplah hadist berikut menjadi bantahan bagi pemahaman sesat ini.  Rosululloh Shollallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda : “Barangsiapa yang berdusta atas namaku dengan sengaja, maka hendaklah dia menyiapkan tempat duduknya di neraka.”[28]
Imam an Nawawi telah memberikan kaidah bagi seseorang yang ingin meriwayatkan suatu hadist, beliau menyatakan sebagai berikut :”Berkata para ulama,”Hendaknya bagi seseorang yang berkeinginan meriwayatkan suatu hadist, agar melihat (dengan cermat hadist itu). Jika hadist tadi termasuk hadist shohih atau hasan, periwayatannya dengan memakai kalimat jazm, semisal : qoola(berkata) Rosululloh, fa’alahu(telah melakukan sesuatu) atau yang sejenisnya. Dan jika hadist itu tergolong hadist dho’if, hendaklah tidak meriwayatkannya dengan lafadz qoola, fa’ala, amaro, naha atau yang sejenisnya dari lafadz-lafadz jazm. Tetapi memakai lafadz-lafadz seperti: rowa ‘anhu (diriwayatkan darinya),ja a ‘anhu (telah datang darinya), yudzkaru(disebutkan), yuhka (diceritakan), yuqoolu(dikatakan) atau telah sampai kepada kami dan yang semisalnya.”[29]
Para pembaca yang budiman akhirnya kita bisa menyimpulkan beberapa point yang penting, dari hadist-hadist Rosululloh dan pernyataan para imam di atas sebagai berikut :
1)   Berdusta atas nama Rosululloh sangat besar dosanya dan mendapatkan ancaman yang keras.
2)   Hadist dho’if dan maudhu’ sama sekali tidak dapat dijadikan dalil sebagai landasan pelaksanaan ibadah.
3)   Seseorang harus memperhatikan dengan cermat dan hati-hati dengan lafadz yang dia pakai ketika meriwayatkan dan menyampaikan hadist.

[1] Ibnu ‘Abidin,  Hasyiyah Rodd al Mukhtar ‘Ala ad Dar al -Mukhtar Syarhu tanwiir al-Abshor, juz 1, hal. 385, Maktabah Syamilah
[2] Muhammad Nashiruddin al Albani, Shifat Sholat Nabi, Maktabah al Ma’arif;Riyadh, 2004M/ 1424 H, hal.42
 [3] Al Khattob ar Ru’ainiy, Mawahib al Jaliil li Syarhi Mukhtashor al Kholil, juz 4, hal. 54, Maktabah Syamilah
[4] An Nawawi, al Majmu’ Syarh al-Muhadzdzab, juz 1, hal. 92,Maktabah Syamilah,lihat pula Ibnu Hajar al Haitami, Tuhfah al Muhtaj fi Syarhi al Minhaj, juz 1, hal. 219, Maktabah Syamilah
[5] Muhammad Nashiruddin al Albani, Shifat Sholat Nabi, hal.45
[6] Ibid, hal. 47
[7] Ibid
[8] Muhammad Nahiruddin al Albani, Shifat Sholat Nabi, hal.47
[9] Ibid
[10] Ibid, hal.48
[11]Ali bin Hasan al Halabi, Mengupas Tuntas Akar Bid’ah, terj. Abu Hilya, Bekasi:Pustaka Imam Adz Dzahabi, 2009, Cet II,  hal. 60-61.
[12] Ibnu Katsir, Tafsir Al Qur anul ‘Adzim, juz 7, hal. 465, Maktabah Syamilah
[13]Abdul Hakim bin Amir Abdat, Lau Kaana Khairan Lasabaquunaa Ilaihi, Jakarta;Maktabah Mu’awiyah bin Abi Sufyan, 2010, Cet. V, hal. 79-98
[14] Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz, Durus Syaikh Abdul Aziz bin Baz, juz 10, hal. 5, Maktabah Syamilah
[15] Sudah terdahulu takhrij hadistnya.
[16]Abdur Rohman as Sudais, Durus Syaikh Abdur Roman as Sudais, juz 113, hal. 9, Maktabah Syamilah
[17] HR. Bukhori, Bab at Targhib fii an Nikah, no. 4675, juz 15, hal. 493, Maktabah Syamilah
[18] Utsaimin, Riyadhus Sholihin,Beirut Libanon;Dar bin ‘Asshoshoh, 2006/1427, Cet. I, Jilid 1, hal. 30
[19] HR. Bukhori, Bab al Qosd wa al Mudawamah ‘ala al Amal, no. 5983, juz 20, hal. 100,  Maktabah Syamilah
[20] Mahmud Ath Thohhan, Taisir Mustholah al Hadist, hal 31
[21] Ibid, hal 39
[22] Muhammad Sholih al Munajjid, Fatawa al Islam Su’al wa Jawab, hal. 4409, Maktabah Syamilah
[23] Mahmud Ath Thohhan, Taisir Mustholah al Hadist, hal 54 dan lihat pula Ali bin Hasan al Halabi, Ilmu Ushul Bida’, hal. 145
[24] Imam Muslim, Shohih Muslim, Bab Wujub ar Riwayah ‘an ats-Tsiqot wa Tarq al-Kadzdzabiin wa Tahdzir min al Kadzib ‘alaa Rosulillah Shollallahu ‘Alaihi wa Sallam, juz 1, hal. 7, Maktabah Syamilah.
[25] Ibnu Taimiyah, Majmu’ al Fatawa, juz 1, hal. 250-251, Maktabah Syamilah
[26] HR. Bukhori, Bab Maa Yakrohu min an Niyahah ‘alal Mayyit,no. 1209, juz 5, hal. 37, lihat pula HR. Muslim, Bab Taglidh al-Kadzib  ‘alaa Rosulululloh Shollallahu Alaihi wa Sallam, no. 4, juz 1, hal. 12, Maktabah Syamilah.
[27] HR. at Tirmidzi, Bab Fii man Rowa Haditsan wa Huwa Yaro Annahu Kadzaba, no. 2662, juz 5, hal. 36, dan HR. Ibnu Majah, Bab Man Haddatsa ‘an Rosulillah Shollallahu ‘Alaihi wa Sallam Haditsan wa Huwa Yaro Annahu Kadzaba, no. 38, juz 1, hal. 14, Maktabah Syamilah.
[28] An Nawawi, Syarh an Nawawi ‘alaa Muslim, juz 1, hal. 56, Maktabah Syamilah.
[29] Ibid, juz 1 hal 71, Maktabah Syamilah.