BUBAR[1] yang harus diBUBARkan..
Sore itu di aula dayah[2] hari Ahad 9 ramadhan 1433 H bertepatan dengan
minggu 29 juli 2012, para santri telah menunaikan sholat ashar berjama’ah. Lalu
di aula itu juga diselenggarakan sidang pengadilan pelanggaran peraturan dayah
di DAMORA(Dayah Modern Arun)[3]. Agenda utama acara ini
adalah untuk meminta keterangan yang lebih jelas, mengenai acara yang mereka
adakan beberapa hari sebelumnya.
Kejadian BUBAR Ayam Lepas
Beberapa hari sebelumnya ketika para
santri DAMORA sedang libur menjelang bulan ramadhan, di suatu senja di Rumah
Makan Ayam Lepas di kota Lhokseumawe, salah satu restauran yang cukup terkenal
di sana, salah seorang ustadz DAMORA kebetulan ingin berbuka di rumah makan tersebut. Kebetulan
pula dia melihat santriwan DAMORA kelas 3 tsanawiyah akan berbuka di situ juga.
Ternyata di situ sudah ada santriwati
kelas 2 tsanawiyah yang duduk memesan makanan. Untuk menghindari kejadian yang
tidak baik antara santriwan dan santriwati jika mereka berkumpul pada satu
tempat yang sama, anak-anak kelas 3 tadi mengurungkan niatnya untuk berbuka di
Rumah Makan Ayam Lepas. Secara berombongan mereka pergi berbuka di restauran
lainnya, yang agak jauh dari tempat itu.
Ustadz DAMORA itu lalu berjalan memasuki
Rumah Makan Ayam Lepas tersebut. Dan memang di sana ada para santriwati kelas 2
tsanawiyah, sedang rame-rame duduk di depan meja makan sedang menunggu waktu
berbuka puasa datang. Tapi tak berapa jauh dari tempat mereka berkumpul, beliau melihat anak-anak DAMORA lainnya yang sedang mengadakan acara BUBAR (Buka
Bersama) juga. Ada dua kelompok yang duduknya berdekatan. Di satu sisi
kelompok para santriwan kelas 2 aliyah sedang di sisi sebelahnya duduk para
santriwati kelas 2 aliyah pula.
Sejurus kemudian suara adzan maghrib
berkumandang. Setelah sejenak membatalkan puasanya, ustadz tersebut lalu pergi
menuju ke masjid Baiturrahman untuk menunaikan sholat maghrib. Di Baiturrahman
ia berjumpa dengan ustadz DAMORA lainnya.
“Ustadz, anak-anak aliyah kelas 2
ngadain BUBAR di Ayam Lepas.”
“Yang betoi ustadz, kapan itu ?”
“Sekarang di Rumah Makan Ayam Lepas.
Mungkin sekarang mereka semua masih di sana.”
“Hm, kalau begitu ntar habis sholat
mau saya buktikan.”
Setelah sholat maghrib selesai,
segera kedua ustadz tadi pergi ke TKP BUBAR tadi. Apa yang diinfokan tadi ternyata memang benar terjadi, kedua kelompok santri DAMORA
tadi sedang menikmati hidangan buka puasa merekai. Salah seorang Ustadz kemudian
memotret para santriwan dan santriwati itu dengan kamera handphone-nya
Sehari sesudahnya salah seorang dari ustadz di atas memberitahukan peristiwa BUBAR para santri DAMORA di Rumah Makan Ayam Lepas kemarin sore kepada beberapa
asatidzah[4] DAMORA. Para asatidzah
merasa agak sedikit heran,sebab ketia berada di pesantren para santri itu
klihatannya sangan sopan dan pemalu. Bahkan para santriwati tadi bila harus
melewati wilayah santriwan, meminta kepada ustadzah mereka untuk diantar,
dengan alasan malu. Namun kenapa begitu di luar pesantren tanpa malu segan dan
silu mreka bisa berkumpul dan mengadakan acara di satu tempat yang sama. Bagai seekor kucing yang malu mau makan bila ada pemilik makanan menunggu sbuah makanan, tapi sebentar saja si empunya makanan beranjak pergi, secepat kilat makanan itu langsung disambarnya.
Salah seorang kemudian menulis di status facebook-nya seperti berikut :
FENOMENA SANTRIWAN / WATI Zaman Sekarang.....
santriwati : klo di dyah malu ada santriwan lewat,,,, mnundukkan pndangan,,,,mnta di tmnin sama ustzah....pokokx sholihah gtu lah......
Tpi pas keluar dayah, IDENTITAS SANTRIWATINYA Di buang, RASA MALUNYA hilang,,,,, pake jin ato clna ketat, baju hnya skedar MEMBUNGKUS aurat,,,, baju longgar , kaus kaki, jelbab besar rupanya tok berlaku di dayah saja...
klo dlu malu ktmu ma
santriwan, tpi sekarang malah ngmpul bareng,,,, klo di ingetin,
alasannya kami cuman ngumpul tros ngobrol doank kok, ga lbh dari
itu.....
merka piker setan lgsung nyuruh mereka berzina,,,, ga coi.. setan jga pntar kaya kalian2 i, bhkan lbh... setan tu pertama hnya nyuruh ketemuan, tros kenalan, klo dah saling kenal, nah tnggu lah saatx... mungkin niat tuk nglakuin tu ga ada, tpi i ingat coi,,, setan tu dah bersumpah di depan Allah untuk mnysatkan mnusia, mmbwa mnusia ke limbah kemaksiatan step by step...
SETAN tu bagaikan aliran darah dlm tubuh manusia,,, stiap x ada ksmpatan ga prnah di sia2kan.....merka piker setan lgsung nyuruh mereka berzina,,,, ga coi.. setan jga pntar kaya kalian2 i, bhkan lbh... setan tu pertama hnya nyuruh ketemuan, tros kenalan, klo dah saling kenal, nah tnggu lah saatx... mungkin niat tuk nglakuin tu ga ada, tpi i ingat coi,,, setan tu dah bersumpah di depan Allah untuk mnysatkan mnusia, mmbwa mnusia ke limbah kemaksiatan step by step...
santriwan / wati....klo di luar msih ngmpul bareng, BUAT MAKSIAT bareng,,. ato apa kek istlah a,,, ngpain jga klian k dayah,,, rugi,, mndingan bljar di smp or sma, biar bisa campur tros..... 24 jam non stop..
sbnar x, ngpain sih sbuk2 ngrusin mrka,,, toh jga mrka anak org kok,,,
rasa prihatin coi.... rasa pdli trhadp sesama,,, jgn smpai kjadian kayak rmja umumx di jman ne... mulai dr knlan tros pcaran,,, mpe berzina akhirx,,, pas hamil baru dah nyesel.... di lhoksmwe dah bnyak men yang kyak gituan....
وَ مَا عَلَيَّ إلاَّ الْبَلَاغ
tugas q hnya mnyampaikan dan mngingatkan,,, klo msh juga,,, ya terserah kalianlah... pilihan ada di tangan kalian,,,, HELL or HEAVEN
Tak ayal lagi facebook pun akhirnya menjadi tempat curahan perasaan dan opini ustadz salah satu ustadz DAMORA tentang BUBAR para santri DAMORA terebut. Status pun mulai diketik dan dipubikasikan dengan harapan agar menjdi nasehat dan bahan pemikiran, terutama bagi mereka yang telah mengikuti acara BUBAR di Rumah Makan Ayam Lepas sore itu. Komentar pun berdatagan menanggapi status ustadz Anis. Ada yang pro dengan status beliau di facebook itu dan ada yang kontra. Ada yang berpendapat bahwa status yang ditulis itu merupakan sebuah kepedulian yang besar dari seorang guru kepada muridnya, tapi ada juga yang mengatakan, mengapa repot-repot harus dinasehati, kan kejadiannya di luar pesantren.
Memandang
kejadian Buka Bersama santriwan dan santriwati itu bisa menimbulkan efek-efek
yang negatif di masa depan, terutama bagi adik-adik kelas mereka yang
kemungkinan akan menirunya, para asatidzah kemudian berinisatif mengadakan
semacam pengadilan untuk menyelesaikan perkara tersebut.
Dimotori oleh
ust. Nazarullah selaku anggota bagian pengasuhan DAMORA, beliau menghubungi
beberapa ustadz untuk mendukung acara ini, termasuk kepala sekolah Madrasah Aliyah Yapena ust Zakariya dan
direktur yayasan YAPENA bapak Bachtiar Yusuf.
Sebenarnya acara “pengadilan” yang
diberi nama pengadilan pelanggaran
peraturan dayah itu yang lebih mirip sebuah acara nasehat dan teguran dari para
asatidzah ketimbang sebuah pengadilan yang berisi penetapan keputusan dan vonis.
Sebuah bentuk kepedulian terhadap akhlak muridnya di luar pesantren. Kita tak
perlu membandingkan dengan pesantren
lain yang tidak memperhatikan akhlak muridnya, bila berada di luar
pesantren mereka. Hal itu merupakan tanggungjawab dari institusi itu sendiri.
Sedangkan para asatidzah DAMORA berusaha semampu mungkin menjadikan murid-murid
mereka tidak saja sholih di dalam lingkungan pesantren, tapi juga di luar dunia
pesantren. Perlu diingat syari’at Allah berlaku di semua tempat, bukan hanya di
dalam sebuah wilayah pesantren saja.
Komplein Orang tua
Acara “pengadilan” atau lebih
tepatnya teguran dan nasehat berlangsung tertib meski sebagian santriwan dan
santriwati nampak tidak terlalu malu dan takut. Mereka masih bisa
tersenyum-senyum dengan teman yang berada
di sampingnya. Mungkin mereka belum mengangap apa yang diperbuat itu adalah
sebuah kekeliruan dalam agama. Tapi para asatidzah masih berharap, mereka akan
menajdi lebih baik lagi setelah diingatkan dan dinasehati.
Sore hari itu bertepatan juga dengan
jadwal hari kunjungan wali santri, sampailah berita “acara pengadilan” itu ke telinga para orang tua santri. Ada para
wali santri yang mengkhawatirkan jika anaknya akan dikeluarkan dari pesantren
karena acara buka bersama yang mereka ikuti. Di antara orang tua ada juga yang komplein/
mengeluh kepada pihak pesantren.
“Ustadz
! Mengapa anak saya di sidang ? Kan kejadiannya berlangsung di luar area dayah,
itu kan menjadi tanggungjawab orang tua untuk mengontrolnya.” Keluh salah satu orang tua santri.
Para asatidzah
menyayangkan sikap orang tua tadi. Kepedulian para guru untuk ikut menjaga
akhlak anaknya di luar area dayah dengan mudahnya disalahkan. Acara itu pun
hanyalah acara teguran dan nasehat
belaka, kenapa ia tidak megecek terlebih dahulu sebelum mengkomplein para
asatidzah.
Secara tidak
langsung rendahnya kualitas ilmu agama dari orang tua tadi sudah ia perlihatkan
kepada orang lain. Pemahaman ilmu keislamannya yang dangkal menjadi sebab ia
bersikap tidak setuju terhadap usaha baik para asatidzah DAMORA.
Bersambung insya Allah .....
Pengelana. 26 Ramadhan 1433 H/14 Agustus
2012, DAMORA

Tidak ada komentar:
Posting Komentar