Sebagian Prinsip Ahlussunnah wal Jama'ah Dalam Beribadah (2)
9 02 2011- MAKNA AHLUS SUNNAH WAL JAMA’AH
Pada point ini akan kami bahas 4 hal yaitu: makna ahli, sunnah, jama’ah, dan Ahlus Sunnah wal Jama’ah.
2.1 Makna Ahli
Ahli artinya keluarga dan orang-orang yang mempunyai hubungan kekerabatan. Ahlun (أهلٌ) jama’nya adalah ahluuna (أهلُوْنَ ) [1]
2.2 Makna Sunnah[2]
Sunnah secara bahasa berasal dari kata سَنَّ – يَسُنُّ, sunnah juga
berarti siroh, tabi’at(kebiasaan) dan thoriqoh(cara). Sedangkan sunnah
Allah adalah hukum, perintah dan larangan-Nya.
i. Makna Sunnah di dalam Al Qur anul Karim
1. Lafadz sunnah –orang yang berarti thoriqoh, siroh dan jalan yang
telah ditempuh orang-orang yang terdahulu(aslaf), kadang sunnah ini
termasuk dalam hal yang dipuji(sunnah-sunnah yang benar yang berupa
petunjuk) sebagaimana dalam firman Allah Ta’ala :
يُرِيدُ اللَّهُ لِيُبَيِّنَ لَكُمْ
وَيَهْدِيَكُمْ سُنَنَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ وَيَتُوبَ عَلَيْكُمْ
وَاللَّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ.
“Allah hendak menerangkan (hukum
syari’at-Nya)kepadamu, dan menunjukimu kepada jalan-jalan orang sebelum
kamu (para Nabi dan shalihin) dan (hendak) menerima taubatmu. Dan Allah
Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (QS. AN-Nisaa’ : 26)
Terkadang sunnatulloh juga berarti pembalasan dari suatu perkara yang
tercela. Yaitu sunnatulloh yang terjadi pada umat-umat terdahulu yang
mendurhakai Rosul mereka dan terus menerus berada dalam kesesatan dan
kebatilan.
وَإِنْ يَعُودُوا فَقَدْ مَضَتْ سُنَّةُ الْأَوَّلِينَ.
“Dan jika mereka kembali lagi, sesungguhnya akan berlaku (kepada mereka) sunnah (Allah terhadap) orang-orang dahulu.” (QS. Al-Anfaal :38)
2. Sunnah yang berarti kejadian atau
peristiwa yang berulang-ulang, yang berlangsung pada umat-umat
terdahulu. Allah berfirman :
قَدْ خَلَتْ مِنْ قَبْلِكُمْ سُنَنٌ فَسِيرُوا فِي الْأَرْضِ فَانْظُرُوا كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الْمُكَذِّبِينَ.
“Sesungguhnya telah berlalu sebelum
kamu sunnah-sunnah Allah; Karena itu berjalanlah kamu di muka bumi dan
perhatikanlah bagaimana akibat orang-orang yang yang mendustakan
(rasul-rasul).” (QS. Ali Imron : 137)
3. Lafadz sunnatulloh yang berarti hukum dan keputusan-Nya yang tetap.Allah berfirman:
سُنَّةَ اللَّهِ فِي الَّذِينَ خَلَوْا مِنْ قَبْلُ وَلَنْ تَجِدَ لِسُنَّةِ اللَّهِ تَبْدِيلًا.
“Sebagai sunnah Allah yang berlaku
atas orang-orang yang telah terdahulu sebelum(mu), dan kamu sekali-kali
tiada akan mendapati perubahan pada sunnah Allah.”
(QS. Al-Ahzab : 62)
(QS. Al-Ahzab : 62)
ii. Makna Sunnah Dalam Hadist-hadist Nabi Shollallahu ‘Alaihi wa Sallam dan Pemahaman Para Salaf As-Sholih Terhadapnya:
A. As Sunnah sebagai jenis wahyu kedua setelah Al Qur an.
Sunnah di sini merupakan sumber kedua dari agama dan syari’at.
Rosululloh bersabda:
تركت فيكم أمرين لن تضلوا ما تمسكتم بهما كتاب الله وسنة نبيه
“Aku tinggalkan kepada kalian dua
perkara, Kalian tidak akan sesat selagi kalian tetap teguh berpegang
kepadanya, Kitabulloh dan Sunnah Nabi-Nya.”[3]
B. As Sunnah adalah semua yang pernah dilakukan oleh Nabi
Shollallahu ‘Alaihi wa Sallam. Termasuk di dalamnya ilmu, amal dan
petunjuknya serta segala sesuatu yang berasal dari beliau. Rosululloh
bersabda :
فَإِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ يَرَى
بَعْدِي اخْتِلَافًا كَثِيرًا فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ
الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِينَ الْمَهْدِيِّينَ وَعَضُّوا عَلَيْهَا
بِالنَّوَاجِذِ.
“Barangsiapa yang hidup setelahku akan
menyaksikan banyak perselisihan, maka hendaklah kalian berpegang teguh
dengan sunnahku dan sunnah khulafa’ ar-Rosyidin yang diberi petunjuk,
dan gigitlah ia erat-erat dengan gigi geraham.”[4]
As Sunnah yang dimaksud dalam hadist ini yaitu semua yang bersal dari
Rosululloh Shollahu ‘Alaihi wa Sallam, berupa wahyu dan syari’at.
Agama, petunjuk dan amal. Dan juga termasuk di dalamnya amal dari
khulafa’ ar-Rosyidin.
C. As Sunnah bermakna sesuatu yang disyari’atkan atau disetujui
oleh Nabi Shollahu ‘Alaihi wa Sallam, lawan dari bid’ah dan
perkara-perkara yang diada-adakan dalam agama. Rosululloh bersabda :
وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ
“Setiap yang diada-adakan adalah bid’ah.”[5]
Rosululloh juga bersabda:
مَا أَحْدَثَ قَوْمٌ بِدْعَةً إِلَّا رُفِعَ مِثْلُهَا مِنْ السُّنَّةِ فَتَمَسُّكٌ بِسُنَّةٍ
“Tidaklah suatu kaum mengada-adakan
sesuatu yang baru, melainkan akan diangkat(dihilangkan) sesuatu amalan
sunnah,
maka berpegang teguhlah dengan sunnah.”[6]
maka berpegang teguhlah dengan sunnah.”[6]
D. As-Sunnah kadang dimaknai
dengan nafilah. Yakni lawan dari fardhu. Seperti yang dikatakan oleh
para fuqoha’: “Semua yang benar-benar berasal dari Nabi Shollallahu
‘Alaihi wa Sallam, tetapi bukan termasuk dalam hal yang fardhu, atau
wajib. Sebagaimana sabda beliau Shollallahu ‘Alaihi wa Sallam:
إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ فَرَضَ صِيَامَ رَمَضَانَ وَسَنَنْتُ قِيَامَهُ
“Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla mewajibkan puasa romadhon dan menyunahkan sholat malamnya.”[7]
E. As Sunnah berarti keadaan para Salaf
as-Sholih (sahabat, tabi’in dan jama’ah muslimin pada generasi awal)
dalam hal cara mereka berilmu dan beramal, yaitu ittiba’/mengikuti (kepada
Rosululloh).
Para Salaf as sholih mengatakan bahwa sunnah adalah semua yang
diamalkan oleh sahabat, tabi’in dan kaum muslimin pada generasi yang
pertama, dan para imam yang menjadi teladan dalam agama ketika mereka
mengikuti petunjuk dan jalan yang lurus, serta ketika berpegang teguh
dengan kebenaran yang bersumber dari Rosululloh Shollallahu ‘Alaihi wa
Sallam.
Berkata Umar bin Khottob :
انه سيأتي ناس يجادلونكم بشبهات القرآن فخذوهم بالسنن فإن أصحاب السنن أعلم بكتاب الله
“Sungguh akan datang orang yang akan
mendebatmu dengan membawa syubhat-syubhat tentang Al Qur an, maka
berpeganglah dengan sunnah, karena orang-orang yang berpegang dengan
sunnah(sahabat, tabi’in) lebih mengetahui Al Qur an.”[8]
Berkata al-Auza’i:
خمس كان عليه أصحاب النبي ( صلى الله عليه
وسلم ) : لزوم الجماعة ،واتباع السنة ،وعمارة المسجد ، وتلاوة القرآن ،
وجهاد
في سبيل الله
في سبيل الله
“Lima hal yang para sahabat selalu
melaksanakannya; tetap berada dalam jama’ah, mengikuti as Sunnah,
memakmurkan masjid, membaca Al Qur an dan jihad di jalan Allah.”[9]
Berkata Ibnu Mandhur :”Sunnah maknanya adalah jalan yang terpuji lagi
lurus, jika sesorang dikatakan dia termasuk seorang ahlus sunnah, maka
artinya dia termasuk dalam golongan orang yang berada di jalan yang
lurus lagi terpuji.”[10]
Sedangkan jalan yang lurus lagi terpuji adalah jalannya para Salaf
as-Sholih, jalan ini berada di atas sunnah, sebab Allah telah
meridhoinya dan Rosululloh telah mewasitkan agar mengikuti jalan mereka.
Istilah ini cukup terkenal pada abad ketiga hijriyah, yakni pada masa
imam Ahmad, ketika muncul penyimpangan-penyimpangan, sehingga aqidah
Mu’tazilah, Rofidhoh, Sufi dan Ahli Kalam menyebar di masyarakat. Lalu
para imam umat Islam memakai istilah as Sunnah sebagai ushuluddin dan
perkara-perkara aqidah. Sebagai pembeda dengan perkataan-perkataan yang
menyimpang. Sebagaimana istilah Ahlus Sunnah wal Jama’ah yang populer
bagi golongan yang benar, sebagai pembeda dari golongan-golongan yang
mengedepankan hawa nafsudalam perkara ushuluddin.
Berkata DR. Nashir bin Abdul Karim al Aql:”As-Sunnah di dalam istilah
yang syar’i memiliki definisi yang luas. As-Sunnah adalah ad din(agama)
yang dibawa oleh Rosululloh Shollallahu ‘Alaihi wa Sallam, yang berupa
ilmu, amal dan petunjuk. Dan dari definisi tersebut muncul
definisi-definisi yang lain, seperti as-Sunnah sumber kedua setelah Al
Qur an, as Sunnah berarti sesuatu yang disyari’atkan, as Sunnah lawan
dari bid’ah, as Sunnah bermakna ittiba’, as-Sunnah bermakna ushulud din
atau I’tiqod yang selamat, as Sunnah yang berarti al Hadist, as Sunnah
yang bermakna nafilah dan lain sebagainya, wallahu a’lam.[12]
[1] Dhohir Ahmad az Zawi, Tartib al Qomus al Muhith,Dar al’Alam al Kutub;Riyadh, 1996 M/1417 H, Juz I, hal. 193
[2]Nashir bin Abdul Karim al-Aql, Mafhum Ahlus Sunnah wal Jama’ah, Dar al-Wathon;Riyadh, hal. 13-42
[3] HR. Malik, al-Muwatho’Riwayah Yahya al-Laitsi, Bab an-Nahyu ‘anil Qoul bil Qodar, no. 1594, juz 2, hal 899, Maktabah Syamilah
[4]
at-Tirmidzi, Bab Ma jaa a fil Akhdhi bi as-Sunnah wa ijtinab al-bida’,
no. 2676, juz 5, hal. 44, lihat pula Ibnu Majah, no. 42, Bab Ittiba’
Sunnah al-Khulafa’ ar-Rosyidin al-Mahdiyyin, juz 1, hal. 15, lihat pula
Ahmad bin Hambal, no. 17144, juz 28, hal 323, Maktabah Syamilah
[5] HR. Ahmad, no. 14984, juz 23, hal. 234, Maktabah Syamilah
[6] Ibid, no. 16970, juz 28, hal. 172
[7] Ibid, no. 1660, juz 3, hal. 198
[8] Ad-Darimi, Sunan ad Darimi, Bab at Tawarru’ ‘an al Jawab fiima Laisa fiihi Kitabun wa laa Sunnah, no. 119, juz 1, hal. 62, Maktabah Syamilah
[9] Baghowi, Syarh as Sunnah lil Imam Baghowi, Bab al I’tishom bil Kitab wa as-Sunnah, juz 1, hal. 209, Maktabah Syamilah
[10] Ibnu Mandhur, Lisanul Arob, juz 13, hal 220, Maktabah Syamilah
[11] Nashir bin Abdul Karim al Aql, Mafhum Ahlus Sunnah wal Jama’ah, hal. 42
[12] Ibid, hal. 47
Tidak ada komentar:
Posting Komentar