Sebagian Prinsip Ahlussunnah wal Jama'ah Dalam Beribadah (3)
12 02 2011
2.3 Makna al-Jama’ah[1]i. Al Jama’ah secara etimologi :
- (اِجْتِمَاعٌ)Bersatu, lawan dari berselisih dan berpecah
- (جَمْعٌ)Sebutan untuk berkumpulnya sekelompok manusia
- (إِجْمَاعٌ)Kesepakatan dan keputusan
- Al Jama’ah adalah sejumlah orang yang banyak. Atau sekelompok kumpulan manusia yang memiliki tujuan yang sama.
1. Jama’ah para sahabat رضوان الله عليهم di masa mereka.
Berkata imam as Syatibi :
أن الجماعة هي الصحابة رضي الله عنهم على
الخصوص ، فإنهم الذين أقاموا عماد الدين وأرسوا أوتاده ، وهم الذين لا
يجتمعون على ضلالة أصلاً ، وقد يمكن فيمن سواهم ذلك.
“Al Jama’ah adalah para sahabat
rodhiyalohu ‘Anhum secara khusus, mereka orang-orang yang menegakkan
agama dan mengokohkan prinsip-prinsipnya, mereka adalah orang-orang yang
tidak bersatu dalam kesesatan sama sekali, dan kadang hal ini bisa
terjadi pada orang-orang selain mereka.[2]
2. Al-Jama’ah adalah ahlul ilmi, para imam yang diberi petunjuk
dan yang menjadi teladan/panutan dalam agama, merekalah al Firqoh an
Najiyah Ahlus Sunnah wal Jama’ah.
Al jama’ah adalah juga kalangan ahli ilmu yang faqih dalam agama,
ahli hadist, para imam panutan yang mendapat petunjuk, orang-orang yang
beramal dengan sunnah, orang-orang yang mengikuti jalan para imam
tersebut, mereka semua adalah golongan yang meneladani Nabi Shollallahu
‘Alaihi wa Sallam.
Rosululloh bersabda :
وَإِنَّ هَذِهِ الْمِلَّةَ سَتَفْتَرِقُ
عَلَى ثَلاَثٍ وَسَبْعِينَ ثِنْتَانِ وَسَبْعُونَ فِى النَّارِ وَوَاحِدَةٌ
فِى الْجَنَّةِ وَهِىَ الْجَمَاعَةُ
“Sungguh umat ini akan terpecah
menjadi 73 golongan, 72 golongan berada di neraka dan satu golongan
berada di surga merekalah al jama’ah.”[3]
Ini suatu dalil bahwa al jama’ah adalah orang-orang yang berada di
atas as Sunnah, merekalah al-Firqoh an-Najiyah, meski jumlah mereka
hanya sedikit. Ibnu Mas’ud menyatakan :
إنما الجماعة ما وافق طاعة الله وإن كنت وحدك
“Sesungguhnya al jama’ah adalah semua
orang (yang amalnya) sesuai dengan ketaatan(perintah) kepada Allah,
walaupun engkau sendirian.”[4]
Dari perkataan beliau bisa dipahami bahwa orang-orang yang tidak
berada dalam as Sunnah bukan termasuk ke dalam al jama’ah meskipun
jumlah mereka besar.3. Al jama’ah adalah sebutan bagi orang-orang yang bersatu di atas kebenaran dan tidak berpecah belah. Nabi Shollallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda :
عليكم بالجماعة وإياكم والفرقة فإن الشيطان مع الواحد وهو من الاثنين أبعد
“Wajib bagi kalian untuk berada dalam
al jama’ah dan janganlah kalian berada dalam perpecahan, karena setan
bersama satu orang, sedang setan menjauh dari dua orang.”[5]
2.4 Makna Ahlus Sunnah wal Jama’ah
DR. Nashir bin Abdul Karim al Aql menyatakan bahwa yang termasuk ke dalam Ahlus Sunnah wal Jama’ah ada 6 kelompok, yaitu[6] :
- Para sahabat Rosululloh Shollahu ‘Alaihi wa Sallam.- Para pengikut(tabi’in) sahabat Rosululloh
- Salaf as-Sholih yang berada di atas Al Qur an dan as Sunnah
- Al Firqoh an Najiyah dan at Thoifah al Manshuroh yang mendapat pertolongan hingga hari kiamat.
- Orang-orang yang terasing, apabila telah merajalela hawa
nafsu, kesesatan, bid’ah dan rusaknya zaman. Seperti dalam sabda Nabi
Shollallahu ‘Alaihi wa Sallam :
طُوبَى لِلْغُرَبَاءِ فَقِيلَ مَنْ
الْغُرَبَاءُ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ أُنَاسٌ صَالِحُونَ فِي أُنَاسِ
سُوءٍ كَثِيرٍ مَنْ يَعْصِيهِمْ أَكْثَرُ مِمَّنْ يُطِيعُهُمْ
“Beruntunglah al-ghuroba’, maka ada
sesorang bertanya kepada beliau Shollallahu ‘Alaihi wa Sallam,”Siapa al
ghuroba’ itu wahai Rosululloh ?” Beliau menjawab,” Sekelompok manusia
sholih yang berada di tengah-tengah manusia banyak yang rusak, orang
yang mau menaati mereka lebih banyak daripada orang yang mau menaati
mereka.”[7]
- Para ahli hadist yang memahami hadist dari segi riwayat dan diroyah, serta mengamalkan ilmu mereka.
Jadi Ahlus Sunnah adalah suatu nama yang sudah dikenal oleh para Salaf as-Sholih. Allah berfirman :
يَوْمَ تَبْيَضُّ وُجُوهٌ وَتَسْوَدُّ
وُجُوهٌ فَأَمَّا الَّذِينَ اسْوَدَّتْ وُجُوهُهُمْ أَكَفَرْتُمْ بَعْدَ
إِيمَانِكُمْ فَذُوقُوا الْعَذَابَ بِمَا كُنْتُمْ تَكْفُرُونَ.
“Pada hari yang di waktu itu ada muka
yang putih berseri, dan ada pula muka yang hitam muram. Adapun
orang-orang yang hitam muram mukanya (kepada mereka dikatakan): “Kenapa
kamu kafir sesudah kamu beriman? Karena itu rasakanlah azab disebabkan
kekafiranmu itu.” (QS. Ali Imron : 106)
Ibnu Abbas berkata :
يعني: يوم القيامة، حين تبيض وجوه أهل السنة والجماعة، وتسودّ وجوه أهل البِدْعَة والفرقة
“Yakni pada hari kiamat, ketika wajah Ahlus Sunnah wal Jama’ah berseri-seri, dan menghitam wajah-wajah Ahlul Bid’ah.”[8]
Sufyan ats Tsauri (wafat tahun 161 H) berkata:
استوصوا بأهل السنة خيرا ، فإنهم غرباء
“Aku wasiatkan kalian untuk tetap berpegang kepada Ahlus Sunnah dengan baik, karena mereka adalah ghuroba’.”[9]
Ibnu Jarir ath Thobari (wafat tahun 310 h) berkata:”Adapun yang benar
dari perkataan tentang keyakinan bahwa kaum mukminin akan melihat Allah
pada hari kiamat, maka itu merupakan agama yang kami beragama
dengannya, dan kami mengetahui bahwa Ahlus Sunnah wal Jama’ah
berpendapat bahwa penghuni surga akan melihat Allah sesuai dengan
pengkabaran yang benar dari Rosululloh Shollallahu ‘Alaihi wa Sallam.”[10]
[1] Ibid, hal.51-59
[2] Syatibi, I’tishom, juz 2, hal 24, Maktabah Syamilah
[3] HR. Abu Daud, Bab Syarh as-Sunnah, no. 3981, juz 12, hal. 196, Maktabah Syamilah
[4] Al-Lalika I, Syarhu Ushul al I’tiqod Ahlus Sunnah wal Jama’ah, juz 1, hal. 109, Maktabah Syamilah
[5] HR. at-Tirmidzi, Bab Ma ja-a fii Luzum al Jama’ah, no. 2165, juz 4, hal. 465, Maktabah Syamilah
[6] Nashir bin Abdul Karim al Aql, Mafhum Ahlus Sunnah wal Jama’ah, hal. 75-77
[7] HR. Ahmad, no. 6650, juz 11, hal. 230, Maktabah Syamilah
[8] Ibnu Katsir, Tafsir Al Qur an al ‘Adzim, juz 2, hal 92, Maktabah Syamilah
[9] Al Lalika-I, Syarh Ushul I’tiqod Ahlus Sunnah wal Jama’ah,Dar ath Thoyyibah;Riyadh, 2005 M/1426 H, juz I, Cet. IX, hal. 71
[10] Ath Thobari, Shorihus Sunnah, hal. 6, Maktabah Syamilah
Tidak ada komentar:
Posting Komentar