Sebagian Prinsip Ahlussunnah wal Jama'ah Dalam Beribadah
(7 or the last)
14
02
2011
IX. SEBAGIAN KERANCUAN BID’AH DAN JAWABANNYA
Orang-orang yang belum diberi hidayah Allah untuk meningglkan
amalan-amalan bid’ah yang selama hidupnya ia lakukan, mereka akan
memunculkan satu syubhat yang memang masih menutupi akal fikirnya.
Mereka akan berkata:”Kok berdzikir saja dilarang, membaca Yaasin saja
juga tidak boleh, bersama-sama membaca kalimat tauhid (tahlilan)
dilarang lagi, terus menyelenggarakan acara-acara ibadah semuanya
dilarang. Jadi apa yang boleh ? Bukankah niat kami baik dan insya Allah
ikhlas, apalagi itu semua adalah suatu bentuk perbuatan yang baik pula ?
Bukankah masih banyak perbuatan maksiat lain yang lebih layak untuk
dilarang ?
Sebagai jawaban atas sanggahan tersebut dan untuk mengakhiri tulisan
yang sederhana ini penulis akan membawakan beberapa atsar , yang insya
Allah bisa menjadi senjata kita dalam menangkis pertanyaan-pertanyaan di
atas dan sebagai bantahan-bantahan seputar bid’ah.
Sa’id bin Musayyib[1]
pernah melihat seorang pria yang melakukan sholat qobliyah subuh lebih
dari 2 rokaat (padahal yang disunnahkan hanya 2 rokaat saja) dan orang
itu ruku’ dan sujud dengan sangat lama. Melihat kejadian itu Sa’id bin
Musayyib melarang dia dari melakukan perbuatan itu. Setelah orang itu
mendengar nasehat dari Sa’id, pria tadi malah membantah nasehat beliau.
Pria itu menyanggah:”Wahai Abu Muhammad (panggilan Sa’id) apakah
Allah akan mengadzabku lantaran aku melaksanakan sholat ini?! Sa’id bin
Musayyib menjawab:”
لاَ وَلَكِنْ يُعَذِّبُكَ عَلَى خِلاَفِ السُّنَّةِ
“Tidak, (Allah tidak akan mengadzab dirimu
karena sholat yang kamu lakuakan) tetapi Allah akan mengadzabmu karena
kamu telah menyelisihi Sunnah (Rosululloh).”[2]
عن نافع : أن رجلا عطس إلى جنب ابن عمر فقال
الحمد لله والسلام على رسول الله قال ابن عمر وأنا أقول الحمد لله والسلام
على رسول الله وليس هكذا علمنا رسول الله صلى الله عليه و سلم علمنا أن نقول الحمد لله على كل حال.
Dari Nafi’[3]
Bahwa adaseorang laki-laki bersin di samping Ibnu Umar, orang itu lalu
berkata:” الحمد لله والسلام على رسول الله(Segala puji bagi Allah dan
salam kepada Rosululloh). Mendengar ucapan itu (yang telah menambah doa
dari dirinya sendiri) maka Ibnu Umar berkata kepada orang itu:”Apa yang
kamu katakan tadi الحمد لله والسلام على رسول الله , bukan seperti itu
Rosululloh mengajarkan kepada kami, tetapi beliau mengajarkan kapada
kami (ketika bersin), untuk berdoa الحمد لله على كل حال (Segala puji
hanya bagi Allah dalam segala keadaan).”[4]
عن بن جريج أن طاوسا أخبره أنه سأل بن عباس عن الركعتين بعد العصر فنهاه عنهما قال طاوس فقلت له ما أدعهما فقال ابن عباس : « نهى رسول الله صلى الله عليه وسلم عن الصلاة بعد العصر » وقال الله تعالى : وما كان لمؤمن ولا مؤمنة إذا قضى الله ورسوله أمرا أن يكون لهم الخيرة من أمرهم ومن يعص الله ورسوله فقد ضل ضلالا مبينا. وما أدري تعذب عليها أم تؤجر
Dari Hisyam bin Hujair, ia
berkata:”Bahwasanya Thawus biasa melaksanakan sholat dua roka’at setelah
sholat ashar, maka Ibnu Abbas berkata kepada Thowus:” Tinggalkan
perbuatan yang kamu lakukan (tadi)!” Thowus menimpali Ibnu Abbas dengan
perkataannya:”Aku tidak akan meninggalkannya.” Ibnu Abbas berkata
lagi:”Rosululloh Shollallahu ‘Alaihi wa Sallam melarang kita untuk
sholar setelah sholat ashar.Dan Allah Ta’ala berfirman:”Dan tidaklah
patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang
mukmin, apabila Allah dan Rosul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan,
akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka.”(QS.
Surat Al Ahzab : 36) Dan aku tidak mengetahui apakah (orang yang
melakukan sholat setelah sholat ashar akan diadzab atau akan diberi
pahala.”[5]
+ Faidah dari atsar-atsar di atas:
Dari ketiga atsar di atas kiat bias mengambil suatu faidah yang
sangat besar, yakni kita sebagai seorang muslim hanya diperintah agar
selalu mengikuti tuntunan dari Nabi Muhammad Shollallahu ‘Alaihi wa
Sallam saja. Tanpa harus membuat sesuatu yang baru dalam ibadah walaupun
menurut pandangan kita, tambahan itu hanya sedikit atau baik. Lalu
bagaimana apabila tambahan yang diada-adakan itu berupa perayaan besar
yang tidak ada contoh dari Rosululloh ?
Intinya para ulama Ahlus Sunnah tidak pernah melarang kaum muslimin
untuk beribadah mendekatkan diri kepada Allah dengan berbagai macam
bentuk amalan, jika amalan itu memiliki landasan syar’I dan dicontohkan
oleh Rosululloh. Tetapi mereka melarang kaum muslimin beribadah apabila
bentuk ibadah itu termasuk ke dalam ibadah yang bid’ah.
4. Jawaban keempat:
<> Bid’ah Lebih dicintai Iblis daripada maksiat
Sufyan ats tsauri berkata:
البدعة أحب إلى إبليس من المعصية والمعصية يتاب منها والبدعة لا يتاب منها
“Bid’ah lebih dicintai Iblis daripada
maksiat. Sebab maksiat ada harapan untuk bertaubat, sedangkan bid’ah
tidak ada harapan bertaubat darinya.”[6]
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam Majmu’ al Fatawa (10/9)
berkata:”Maksud ungkapan: Sedangkan bid’ah tidak ada harapan untuk
bertaubat darinya, ialah karena pelaku pelaku bid’ah yang membuat suatu
amalan agama yang tidak disyari’atkan Allah dan Rosul-Nya, amalan buruk
yang ia lakukan itu sudah dihiasi seakan-akan baik dalam pandangannya.
Sehingga ia tidak akan bertaubat selama memandang bahwa amalannya itu
adalah baik. Sebab taubat yang dilakukan oleh seseorang adalah berawal
dari pengetahuannya, bahwa apa yang ia perbuat merupakan suatu perbuatan
yang buruk, yang memnjadikannya harus bertaubat dari amalan tersebut.
Atau ia bertaubat karena meninggalkan suatu amalan yang baik, berupa
amalan wajib atau sunnah. Sepanjang orang itu menilai apa yang ia
amalkan itu baik padahal sebenarnya itu buruk, maka sulit untuk
diharapkan untuk ia bertaubat.
Namun taubat dari para pelaku bid’ah sangat dimungkinkan dan bisa
saja terjadi, jika Allah memberikan hidayah dan bimbingan-Nya, sehingga
menjadi jelas dan terang kebenaran bagi dirinya. Sebagaimana hidayah
Allah yang diberikan kepada orang-orang kafir, munafiq dan juga
kelompok-kelompok para ahli bid’ah dan kesesatan.”[7]
Juga dalam Majmu’ al Fatawa (20/103) beliau juga
berkata:”Sesungguhnya pelaku bid’ah lebih jelek daripada pelaku maksiat
menurut sunnah dan ijma’…Sebab pelaku maksiat dosa mereka adalah
melakukan sebagian dari larangan Allah, seperti mencuri,berzina, minum
minuman keras atau memakan harta orang lain dengan cara yang batil.
Sedangkan pelaku maksiat dosa mereka adalah meninggalkan perintah Allah
berupa kewajiban untuk mengikuti sunnah Rosululloh dan jama’ah kaum
mukminin.”[8]
Sebagian ahli bid’ah pernah mendatangi syaikhul Islam Ibnu Taimiyah
dengan maksud ingin menghiasi dan memperindah amalan bid’ah yang mereka
telah lakukan. Beliau mengisahkan dialog yang terjadi antara beliau dan
mereka dalam Majmu’ al Fatawa (11/472-474). Beliau berkata:“Sebagian
mereka berujar:”Kami telah menjadikan manusia bertaubat.” Saya
bertanya:”Dari perbuatan apa kalian membuat mereka bertaubat?” Mereka
berkata:”Dari merampok, mencuri dan yang sejenisnya.”
Saya berkata:”Kondisi mereka yang bertaubat itu sebelum bertaubat
jauh lebih baik dibanding kondisi mereka setelah bertaubat;sebab mereka
sebelumnya adalah orang-rang fasik yang meyakini bahwa perbuatan mereka
itu adalah haram dan mereka mengharap rahmat Allah serta bertaubat
kepada-Nya, atau minimal mereka memiliki niat untuk bertaubat. Sekarang
setelah kalian membuat mereka bertaubat, mereka menjadi tersesat lagi
musyrik yang keluar dari syari’at Islam. Mereka mencintai apa yang Allah
benci dan membenci apa yang Allah cintai. Saya lalu menjelaskan bahwa
bid’ah yang selama ini mereka danorang-orang lain perbuat lebih buruk
daripada maksiat.”
Beliau melanjutkan perkataannya:”Adapun maksiat sebagaimana diriwayatkan oleh Bukhori di dalam kitab Shohihnya,
عَنْ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ أَنَّ رَجُلًا
كَانَ يُدْعَى حِمَارًا وَكَانَ يَشْرَبُ الْخَمْرَ وَكَانَ يُضْحِكُ
النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَكَانَ كُلَّمَا أُتِيَ
بِهِ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ تَعَالَى عَلَيْهِ وَسَلَّمَ جَلَدَهُ
الْحَدَّ فَلَعَنَهُ رَجُلٌ مَرَّةً . وَقَالَ : لَعَنَهُ اللَّهُ مَا
أَكْثَرَ مَا يُؤْتَى بِهِ إلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ تَعَالَى عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
لَا تَلْعَنْهُ فَإِنَّهُ يُحِبُّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ
Dari Umar bin Khotthob bahwasanya ada
seorang laki-laki yang dipanggil dengan sebutan himar, yang sering
meminum miuman keras. Ia suka sekali membuat Nabi Shollallahu ‘Alaihi wa
Sallam tertawa. Setiap kali ia didatangkan ke hadapan Nabi, beliau
selalu mencambuknya. Setiap ia dicambuk ada seseorang yang selalu
melaknat dirinya.
Orang itu berkata:”Laknat Allah (kepada
Himar) betapa sering ia selalu di hadapkan kepada Nabi Shollallahu
‘Alaihi wa sallam.” Serta merta Nabi menimpali perkataan tersebut:”Janganlah engkau melaknatnya, sebab ia adalah seorang yang mencintai Allah dan Rosul-Nya.”[9]
Saya berkata (Ibnu Taimiyah):”Laki-laki ini adalah orang yang sering
minum minuman keras, tetapi karena I’tiqodnya benar dan mencintai Allah
dan Rosul-Nya. Rosululloh mempersaksikannya dengan hal itu dan melarang
ia dilaknat. Adapun para pelaku bid’ah, sebagaimana yang disebutkan oleh
Bukhori dan Muslim dalam kitab mereka, dari Ali bin Abi Tholib dan Abu
Sa’id al Khudhriy:
أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ تَعَالَى
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يُقَسِّمُ فَجَاءَهُ رَجُلٌ نَاتِئَ الْجَبِينِ
كَثَّ اللِّحْيَةِ مَحْلُوقَ الرَّأْسِ بَيْنَ عَيْنَيْهِ أَثَرُ
السُّجُودِ وَقَالَ مَا قَالَ . فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ
تَعَالَى عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَخْرُجُ مِنْ ضئضئ هَذَا قَوْمٌ يَحْقِرُ
أَحَدَكُمْ صَلَاتَهُ مَعَ صَلَاتِهِمْ وَصِيَامَهُ مَعَ صِيَامِهِمْ
وَقِرَاءَتَهُ مَعَ قِرَاءَتِهِمْ يَقْرَءُونَ الْقُرْآنَ لَا يُجَاوِزُ
حَنَاجِرَهُمْ يَمْرُقُونَ مِنْ الْإِسْلَامِ كَمَا يَمْرُقُ السَّهْمُ
مِنْ الرَّمِيَّةِ ؛ لَئِنْ أَدْرَكْتهمْ لَأَقْتُلَنهُمْ قَتْلَ عَادٍ
“Sesungguhnya Nabi Shollallahu ‘Alaihi wa Sallam pernah membagikan
harta, tiba-tiba datanglah seorang laki-laki yang dahinya cekung ke
dalam dan lebat jenggotnya, gundul kepalanya dan di antara kedua matanya
ada bekas sujud, ia berkata dengan suatu perkataan.
Maka Nabi Shollallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:”Dari keturunan
laki-laki itu akan keluar suatu kaum yang apabila kalian melihat sholat,
puasa dan bacaan Al Qur an mereka, niscaya kalian akan menganggap kecil
amalan kalian dibanding amalan mereka. Mereka membaca Al Qur
an tidak melewawti kerongkongan mereka. Mereka melesat keluar dari Islam
secepat panah lepas dari busurnya; Sungguh seandainya aku menemui
mereka, pasti akan aku bunuh mereka sebagaimana dibunuhnya kaum ‘Ad.”[10]
Aku berkata (ibnu Taimiyah):”Mereka dengan amalan yang telah banyak
meeka lakukan seperti sholat, puasa, baca Al Qur an dan gaya hidup
mereka yang penuh dengan ibadah dan dalam kondisi yang zuhud. Nabi
Shollallahu ‘Alaihi wa Sallam tetap memerintahkan agar mereka dibunuh.
Dan akhirnya pada masa Ali bin Abi Tholib, ia bersama para sahabat Nabi
membunuh mereka karena telah keluar dari sunnah dan syari’at
Rosululloh.”[11]
X. PENUTUP
Islam sangat menganjurkan kepada pemeluknya untuk berilmu sebelum
berbuat, karena ilmu adalah landasan kita dalam beramal, tanpa ilmu
amal yang kita lakukan bisa sia-sia dan tak bernilai di sisi Allah.
Syaikh Al Fauzan berkata:”Wajib bagi seorang muslim untuk mengenal
seluruh perkara agamanya, dari sisi aqidah, dan syari’at; ia harus
belajar perkara-perkara yang menyangkut aqidah dan apa yang menjadi
kosekuensinya, lawannya, apa yang yang bisa menyempurnakannya, dan apa
yang dapat mengikis aqidah seseorang, sampai aqidahnya benar dan
selamat. Dan seorang muslim wajib pula untuk mempelajari hukum-hukum
agamanya yang bersifat praktis, sehingga ia mampu melaksanakan apa yang
diwajibkan Allah kepadanya dan meninggalkan apa yang dilarang Allah
darinya dengan landasan pengetahuan.Allah berfirman:
فَاعْلَمْ أَنَّهُ لا إِلَهَ إِلا اللَّهُ وَاسْتَغْفِرْ لِذَنبِكَ وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ
“Maka ketahuilah, bahwa sesungguhnya tidak ada Tuhab (Yang haq)
melainkan Allah dan mohomlah ampunan bagi dosamu dan bagi (dosa)
orang-orang mu’min laki-laki dan perempuan.” (QS. Muhammad : 19)
Jadi Allah memulai ilmu sebelum berbicara dan berbuat. Maka wajib
bagi kita untuk berilmu dan beramal; Ilmu yang tidak disertai dengan
amal belumlah mencukupi, bahakan hal itu menjadikan pemiliknya dimurkai,
sedangkan amal tanpa ilmu akan menjadi sia-sia; karena amal itu dalam
kesesatan.”[12]
Imam Bukhori menulis dalam kitab shohihnya Bab Al ‘Ilmu Qobla al Qoul
wal ‘Amal (Berilmu sebelum beramal dan berkata) lalu beliau menukil
pula ayat 19 surat Muhammad di atas.[13]
Ibnu Hajar berkata:”Ibnul Munir berkata ilmu adalah syarat sahnya
perkataan dan perbuatan, keduanya tidak akan benar kecuali dengan adanya
ilmu. Karena ilmu harus ada lebih dahulu daripada perkataan dan
perbuatan. Dengan adanya ilmu maka ia menjadi pembenar dari perkataan
dan perbuatan.”[14]
Al ‘Aini berkata:”Istighfar (yakni pada ayat 19 Surat Muhammad) adalah sebuah isyarat untuk perkataan dan perbuatan.”[15]
Salah satu penyebab dari merebaknya dan menjamurnya bid’ah di dunia
Islam yang paling utama adalah karena umat Islam mayoritasnya tenggelam
dalam kebodohan. Mereka sudah tidak memahami lagi tentang
perintah-perintah dan larangan–larangan Allah dan Rosul-Nya. Sehingga
mereka menjadikan tolak ukur kebenaran dalam agama adalah hawa nafsu
mereka. Wabah kebodohan ini akhrnya menjadikan kebanyakan manusia tidak
mengetahui siapa orang yang sebenarnya, ia jadikan tempat bertanya untuk
menghilangkan kebodohan dalam dirinya. Akhirnya fenomena ini
dimanfaatkan oleh segelintir orang yang mengaku ulama atau yang dianggap
ulama oleh masyarakat di sekitarnya, untuk mengekalkan kebid’ahan yang
menguntungkan diri mereka.
Hal ini senada dengan sebuah pengkabaran dari Nabi Muhammad Shollallahu ‘Alaihi wa Sallam, beliau bersabda:
إِنَّ اللَّهَ لَا يَقْبِضُ الْعِلْمَ انْتِزَاعًا يَنْتَزِعُهُ مِنْ
الْعِبَادِ وَلَكِنْ يَقْبِضُ الْعِلْمَ بِقَبْضِ الْعُلَمَاءِ حَتَّى
إِذَا لَمْ يُبْقِ عَالِمًا اتَّخَذَ النَّاسُ رُءُوسًا جُهَّالًا
فَسُئِلُوا فَأَفْتَوْا بِغَيْرِ عِلْمٍ فَضَلُّوا وَأَضَلُّوا
“Sesungguhnya Allah tidak mengambil ilmu dari para hambanya
dengan secara tiba-tiba. Tetapi Dia mengambil ilmu dengan mewafatkan
para ulama. Sehingga apabila tidak tersisa seorang yang ‘alim, maka
manusia menjadikan orang lain menjadi pemimpin yang jahil, lalu pemimpin
itu ditanya dan ia berfatwa tanpa ilmu. Maka ia sesat dan menyesatkan.”[16]
XI. KESIMPULAN
1. Hikmah penciptaan jin dan manusia adalah, agar mereka melaksanakan ibadah hanya kepada Allah semata.
2. Agama Islam telah sempurna dan
paripurna tidak perlu ada sedikitpun penambahan dan pengurangan dari
aspek apapun. Karena Rosululloh Shollallahu ‘alaihi wa Sallam telah
menjelaskan kepada umatnya segala sesuatu, baik berupa perintah atau
larangan atau berita dan lain-lain.
3. Kebanyakan masyarakat umum tidak
memahami makna ibadah dengan benar. Mereka beranggapan bahwa bentuk
ibadah ialah seperti sholat, puasa, zakat, haji, berdzikir, membaca Al-
Qur an dan bentuk ibadah lainnya yang lingkupnya sempit.
4. Sunnah memiliki arti yang beragam,
baik sunnah dalam terminogi Al Qur an, hadist-hadist Nabawiyah dan
pemahaman para Salafus sholih.
5. Istilah Ahlus Sunnah wal Jama’ah sudah
dikenal dikalangan Salaf (generasi awal umat ini) dan para ulama
sesudahnya. Istilah Ahlus Sunnah merupakan istilah yang mutlak sebagai
lawan kata Ahlul Bid’ah.[17]
6. Termasuk dari makna ibadah yang
lengkap yaitu ibadah adalah suatu kata yang mencakup segala sesuatu yang
dicintai dan diridhoi Allah dari ucapan – ucapan, amal – amal batin dan
lahir.
7. Ibadah itu berlandaskan pada tiga pilar yaitu,: hub (cinta ), khauf (takut ) roja’ ( harapan ).
8. Ibadah bila diklasifikasikan menjadi dua ibadah umum dan khusus
9. Syarat diterimanya ibadah ada 2, yaitu
: Ikhlas hanya kepada Allah semata dan sesuai dengan sunnah Rosullulloh
Shollallahu ‘Alaihi wa Sallam.
10. Ada 6 prinsip Ahlus Sunnah wal Jama’ah dalam menyikapi ibadah, yaitu :
a) Beribadah dengan benar-benar mengikuti sunnah Rosululloh dan menjauhi taklid buta
b) Pada asalnya hukum ibadah adalah terlarang.
c) Kalau seandainya suatu amalan itu baik tentulah para sahabat telah mendahului mengamalkannya.
d) Ibadah adalah tauqifiyyah
e) Bersikap pertengahan dalam beribadah
f) Beribadah dengan berlandaskan sumber yang jelas dan pasti dari Rosululloh
11. Penyebab munculnya bid’ah di antaranya adalah[18], kebodohan terhadap syari’at, berbaik sangka terhadap akal, dan mengikuti hawa nafsu, dan munculnya hadist dho’if dan maudhu’.
12. Nabi Muhammad Shollallahu ‘Alaihi wa Sallam, para sahabat
beliau, para ulama Ahlus Sunnah sangat menentang amalan bid’ah yang
dilakukan manusia dari zaman ke zaman. Termasuk para ulama madzhab
Syafi’i.
13. Bid’ah adalah penyebab mundurnya umat Islam dan jauhnya rahmat
Allah. Sebab bid’ah merupakan suatu hal yang dibenci oleh Allah dan
Rosul-Nya.
14. Yang dilarang dan diingkari oleh para ulama bukanlah pada
dzikir, doa,baca Al Qur an nya, karena tidak diragukan amalan-amalan itu
adalah sangat dianjurkan dalam Islam. Tetapi yang dilarang adalah
kaifiyyah/cara pelaksanaan dan waktu pelaksanaannya yang tidak pernah
dicontohkan oleh Rosululloh dan para sahabat beliau.
15. Ketika membantah ahlul bid’ah seharusnya kita menghiasi bantahan tersebut dengan ilmu dan dalil-dalil[19]
XII. DAFTAR PUSTAKA
Al Qur an terjemahan DEPAG
Abdat, Abdul Hakim bin Amir, Al Masaa-il, Jakarta; Darus Sunnah, Cet. V, Jilid 3.
——-, Risalah Bid’ah, Jakarta:Pustaka Mu’awiyah bin Abi Sufyan, 2008, Cet. V.
——-, Lau Kaana Khairan Lasabaquunaa Ilaihi, Jakarta;Maktabah Mu’awiyah bin Abi Sufyan, 2010, Cet. V.
Abu Ihsan, Bincang-bincang Seputar Tahlilan Yasinan & Maulidan, Solo;at-Tibyan, 2010, Cet. XII.
Abu Ubaidah, “Gema Dzikir Bersama”, Majalah al Furqon, Edisi I, tahun IV, 2005.
Ad Duwaisy, Ahmad bin ‘Abdurrozaq, Fatawa Lajnah Daa-imah, Riyadh;Dar al ‘Ashimah, 1996 M/1416 H, Juz 8, Cet. I.
Al Albani, Muhammad Nashiruddin, Dho’if al Jami’ ash Shoghir, Beirut;Maktabah al Islami, 1990 M/1410 H, Cet. III.
——-, Shifat Sholat Nabi, Maktabah al-Ma’arif;Riyadh, 2004 M/ 1424 H.
——-, Silsilah al Ahadiits ad-Dho’ifah wal Maudhu’, Riyadh;Maktabah al Ma’arif, 2000 M/1420 H, Cet. 2.
Al Aql, Nashir bin Abdul Karim, Mafhum Ahlus Sunnah wal Jama’ah, Dar al-Wathon;Riyadh.
Al Halabi, Ali bin Hasan, Mengupas Tuntas Akar Bid’ah, terj. Abu Hilya, Bekasi:Pustaka Imam Adz Dzahabi, 2009, Cet II.
Al Lalika-i, Syarh Ushul I’tiqod Ahlus Sunnah wal Jama’ah, Dar ath Thoyyibah;Riyadh, 2005 M/1426 H, juz I, Cet. IX.
Ath Thohhan, Mahmud, Taisir Mustholah al Hadist.
Az Zawi, Dhohir Ahmad, Tartib al Qomus al Muhith,Dar al’Alam al Kutub;Riyadh, 1996 M/1417 H.
Ihsan, Abu, Bincang-bincang Seputar Tahlilan Yasinan & Maulidan, Solo;at-Tibyan, 2010, Cet. XII.
Jauzi, Ibnul, Talbisul Iblis, Maktabah ats Tsaqofah ad Diniyyah.
Jawaz, Yazid bin Abdul Qodir, Syarah Aqidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah, Jakarta;Pustaka Imam Syafi’i, Cet. VII.
Pusat Pembinaan dan PEngembangan Bahasa, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Balai Pustaka;Jakarta, 1999, cet X, edisi kedua.
Ritonga, Rahman dan Zainuddin, Fiqh Ibadah,Gaya Media Pratama;Jakarta, 2002, cet. II.
Saini,Ibnu, Benarkah Shalahuddin al-Ayyubi Merayakan Maulid Nabi Shollallahu ‘Alaihi wa Sallam, Jakarta;Maktabah Mu’awiyah, 2009, Cet. I.
Syafi’i, Muhammad bin Idris, al Umm, al Manshuroh; Dar al Wafa’, 2005 M/1426 H, Cet. II.
Syatibi, al I’tishom, al Mamlakah al ‘arobiyyah as Su’udiyyah;Dar Ibn ‘Affan, 1995/ 1416 H M, Cet. IV.
Taimiyyah, Ahmad, Majmu’ Fatawa, 1997 M/1418 H.
Tuwaijiri, Abdullah bin Abdul Aziz, Ritual Bid’ah Dalam Setahun, Terj. Munirul Abidin, Jakarta;Darul Falah, 2009, Cet. VI.
Umar Bakkar, Najmi, Tahlilan Menurut Para Sahabat Nabi Imam Syafi’i, Ulama Asy Syafi’iyyah, dan yang lainnya, Depok;Jadid Pustaka, 2010.
Utsaimin, Riyadhus Sholihin,Beirut Libanon;Dar bin ‘Asshoshoh, 2006/1427, Cet. I
——-, adh Dhiya’ al Lami’ min Khutob al Jami’, Riyadh;Riasah al ‘Ammah li Idarotil Buhuts al ‘ilmiyyah wal Ifata’ wadda’wah wal Irsyad,1980 M/1400 H, juz 1, Cet. II
Zaen, Abdullah, “14 Contoh Praktek Hikmah Berdakwah”, Makalah, Yogyakarta
Maktabah Syamilah :
‘Abidin, Ibnu, Hasyiyah Rodd al-Mukhtar ‘Ala ad Dar al Mukhtar Syarhu tanwiir al-Abshor
Al Munajjid, Muhammad Sholih, Fatawa al Islam Su’al wa Jawab
Ad Darimi, Sunan ad-Darimi
——-, Hasyiyah I’anah ath-Tholibin
Ahmad, Musnad Ahmad
Al ‘Aini, Badaruddin, ‘Umdatul Qori Syarh Shohih al Bukhori
Al Albani, Muhammad Nashiruddin, Silsilah as Shohihah
——-, Dho’if al Jami’ ash Shoghir
——-, Irwa-ul Gholil
Al Baghdadi, al Khotib, al Faqih wal Mutafaqqih
Al Fauzan, al Muntaqo min Fatawa al Fauzan
Al ghazali, Abu Hamid, Ihya’ Ulumuddin
Al Hakim, Mustadrok ‘Alaa Shohihain
Al-Haitami, Ibnu Hajar, Tuhfah al-Muhtaj fi Syarhi al-Minhaj
al Malibari, Zainuddin bin ‘Abdul ‘Aziz, Fathul Mu’in
Al Qulyubiy, Ahmad bin Salamah, Hasyiyah Qulyubiy ‘alaa Syarh Jalaluddiin al-Mahalliy ‘alaa Minhaj ath-Tholibin
An Nawari, Abu al Fadhl as Sayyid abu al Mu’athi, Al Musnad al Jami’
An Nawawi, al-Majmu’ Syarh al-Muhadzdzab
——-, Syarh an Nawawi ‘alaa Muslim
——-, al Adzkar an Nawawiyah
Ar Ru’ainiy, Al Khattob, Mawahib al-Jaliil li Syarhi Mukhtashor al-Kholil
As Sudais, Abdur Rohman, Durus Syaikh Abdur Roman as-Sudais
As Syatibi, I’tishom
At Thobroni, al Mu’jam al-Kabir
At Tirmidzi, Sunan at Tirmidzi
Ath Thobari, Shorihus Sunnah
Baghowi, Syarh as Sunnah lil Imam Baghowi
Baihaqi, as Sunan al Kubro lil Baihaqi
Bin Baz, Abdul Aziz bin Abdullah, Durus Syaikh Abdul Aziz bin Baz
Bukhori, Shohih Bukhori
Daud, Abu, Sunan Abu Daud
Hajar, Ibnu, Fathul Bari
Jauzi, Ibnul, al Maudhu’aat
Katsir, Ibnu, Tafsir Al Qur an Al Adzim
Majah, Ibnu, Sunan Ibnu Majah
Malik, al-Muwatho’Riwayah Yahya al-Laitsi
Mandhur, Ibnu, Lisan al-Arob
Muslim, Shohih Muslim
Qudamah, Ibnu, al Mughni fii Fiqhi al Imam Ahmad bin Hambal asy Syaibani
Rojab, Ibnu, Jami’ al ‘Ulum wal Hikam
Syafi’i, ar Risalah
——-,Musnad asy Syafi’i
Taimiyah, Ibnu, Majmu’ al Fatawa
——- , al Ubudiyah
[1] Seorang
imam yang alim, ulama Madinah dan pemimpin para tabi’in di zamannya.
Lahir dua tahun setelah pengangkatan Umar sabagai khalifah. Beliau
banyak mendengar hadist dari kalangan para sahabat, seperti Umar,
Utsman, Zaid bin Tsabit, Abu Musa, ‘Aisyah, Abu Huroiroh,Ibnu Abbas dan
lain-lainnya. Lihat adz Dzahabi, Siyar A’lam an Nubala’, Beirut;Muassasah ar Risalah, 2001 M/1422 H, juz 4, Cet. XI, hal. 217-218
[2] Baihaqi, as Sunan al Kubro, Bab Man Lam Yusholli Ba’dal Fajri Illa Rok’atainil Fajri Tsumma Baadaro Bil Fardhi, juz 2, hal 466, lihat pula Muhammad Nashiruddin al Albani, Irwa-ul Gholil, juz 2, hal. 236, Maktabah Syamilah
[3] Budak Ibnu Umar yang telah beliau merdekakan.
[4] HR. at Tirmidzi, no. 2738, Bab Maa Yaqulu al ‘Athisu Idza ‘Athosa, juz 5, hal. 81, dihasankan oleh Syaikh al Albani
[5]Al
Hakim, Mustadrok ‘Alaa Shohihain, no. 373, Kitabul ‘Ilmi, juz 1, hal.
192, lihat pula al Khotib al Baghdadi, al Faqih wal Mutafaqqih, Bab
Ta’dhim as Sunnah wal Hatstsu ‘Alaa at Tamassuk biha wa at Tasliim lahaa
wal Inqidadh ilaihaa, juz 1, hal 430, dan lihat pula asy Syafi’i, ar
Risalah, Tahqiq Ahmad Syakir, hal. 420 dengan sanad yang lainnya,
Maktabah Syamilah
[6]Al Lalika-i, Syarh Ushul I’tiqod Ahlus Sunnah wal Jama’ah, hal. 149, lihat pula Ibnul Jauzi, Talbisul Iblis, Maktabah ats Tsaqofah ad Diniyyah
[7] Ibnu Taimiyah, Majmu’ al Fatawa, juz 10, hal. 9, Maktabah Syamilah
[8] Ibid, juz 20, hal. 103-104
[9] HR.
Bukhori, Bab Maa Yukrohu min La’ni Syaribil Khomr wa Innahu Laisa bi
Khorijin minal Millah, no. 6780, juz 8, hal. 158, Maktabah Syamilah
[10] HR.
Bukhori, Bab al Arwah Junudun Mujanndah, no. 3344, juz 4, hal. 137 dan
HR. Muslim, no. 1064, juz 2, hal. 741, Maktabah Syamilah
[11] Ibnu Taimiyah, Majmu’ al Fatawa, juz 11, hal, 472-474, Maktabah Syamilah
[12] Al Fauzan, al Muntaqo min Fatawa al Fauzan, juz 22, hal. 22, Maktabah Syamilah
[13] Bukhori, Shohih Bukhori, juz 1, hal. 24, Maktabah Syamilah
[14] Ibnu Hajar, Fathul Bari, juz 1, hal. 160, Maktabah Syamilah
[15] Badaruddin al ‘Aini, ‘Umdatul Qori Syarh Shohih al Bukhori, juz 2, hal. 476, Maktabah Syamilah.
[16] HR. Bukhori, Bab Kaifa Yuqbadhu al Ilmu, no. 100, juz 1, hal. 32, Maktabah Syamilah
[17] Yazid bin Abdul Qodir Jawas, Syarah Aqidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah, hal. 43
[18] Abdul Hakim bin Amir Abdat, Risalah Bid’ah, Jakarta:Pustaka Mu’awiyah bin Abi Sufyan, 2008, Cet. V, hal. 81-82 dan hal. 70.
[19] Abdullah Zaen, “14 Contoh Praktek Hikmah Berdakwah”, Makalah, Yogyakarta.
WALLAHU A’LAM BISSHOWAB
Tidak ada komentar:
Posting Komentar