Sebagian Prinsip Ahlussunnah wal Jama'ah Dalam Beribadah (5)
14
02
2011
Ini adalah bagian inti dalam tulisan ini maka
PERHATIKANLAH DAN PAHAMILAH DENGAN BAIK !!
VII. PRINSIP AHLUS SUNNAH WAL JAMA’AH DALAM IBADAH
7.1 Beribadah Dengan Benar-Benar Mengikuti Sunnah Rosululloh dan Menjauhi Taklid Buta
Ahlus Sunnah wal Jama’ah dalam beribadah selalu mengikuti/ittiba’
sunnah Rosululloh Shollallahu ‘Alaihi wa Sallam. Karena mereka memahami
dengan benar bahwa setiap amal ibadah dalam agama yang tidak termasuk
dalm tuntunan beliau, maka amal itu tertolak. Prinsip inilah yang sejak
dahulu telah dipahami oleh para imam madzhab, dan hal itu pun juga
mereka wasiatkan kepada umat Islam agar kita berpegang kepada sunnah
Rosululloh.
Di antara wasiat-wasiat para imam madzhab tersebut yaitu :i. Imam Abu Hanifah Rohimahulloh
Banyak riwayat-riwayat dari imam Abu Hanifah an Nu’man bin Tsabit
Rohimahulloh yang berupa perkataan perkataan dan ungkapan-ungkapan, yang
semuanya menunjukkan kepadasatu hal yang jelas, yaitu :wajibnya
menjadikan al Hadist sebagai dasar amalan dan meninggalkan
pendapat-pendapat para imam yang menyelisihi al Hadist. Di antara
perkataan-perkataan beliau :
إذا صحَّ الحديثُ فهوَ مَذْهَبِي
“Apabila suatu hadist telah jelas keshohihannya, maka itulah madzhabku”[1]
ولايحِلُّ لِأَحَدٍ أَنْ يَأْخُذَ بِقَوْلِنَا مَالَمْ يَعْلَمْ مِنْ أَيْنَ أَخَذْنَاهُ
“Tidak halal bagi sesorang untuk mengikuti perkataan kami, selagi ia tidak mengetahui dari mana kami mengambilnya.[2]“
ii. Imam Malik Rohimahulloh
إنَّمَا أنا بشَرٌ أُخْطِئُ
وَأُصِيْبُ,فَانْظُرُوْا فِيْ رَاْيِيْ,فَكُلُّ مَا وَافَقَ الكِتابَ
والسُّنَّةَ فَخُذُوْهُ, وكُلُّ مَالَمْ يُوَافِقِ الْكِتَابَ والسُّنَّةَ
فَاتْرُكُوْهُ
“Sungguh aku hanya seorang manusia kadang
aku salah dan kadang aku benar, maka lihatlah(dulu) pendapatku, jadi apa
yang sesuai dengan Al-Kitab (Al Qur an) dan As-Sunnah maka ambillah,
dan apa-apa yang menyelisihi As-Sunnah maka tinggalkanlah.”[3]
iii. Imam Syafi’i Rohimahulloh
إذا صحَّ الحديثُ فهوَ مَذْهَبِي
“Apabila suatu hadist telah jelas keshohihannya, maka itulah madzhabku.”[4]
أَجْمَعَ الْمُسْلمونَ عَلَى أَنَّ مَنِ
اسْتَبَانَ لَهُ سُنَّة عن رسول الله صلى الله عليه وسلم,لَمْ يَحِلُّ له
أَنْ يَدَعَهَا لِقَوْلِ أَحَد
“Kaum muslimin telah bersepakat bahwa
barangsiapa telah jelas baginya tentang sunnah Rosululloh Shollallahu
‘Alaihi wa Sallam, maka tidak halal baginya untuk berpaling darinya
(lalu mengambil) perkataan orang lain.”[5]
إذا رأيتموني أقول قولا وقد صح عن النبي صلى الله عليه وسلم خلافه فاعلموا أن عقلي قد ذهب
“Jika kalian mengetahui aku berkata dengan
sesuatu yang menyelisihi (sunnah) Rosululloh Shollallahu ‘Alaihi wa
Sallam, maka ketahuilah bahwa akalku sudah hilang.”[6]
كل ما قلت فكان عن النبي صلى الله عليه وسلم خلاف قولي مما يصح فحديث النبي أولى فلا تقلدوني
“Semua pendapatku yang bertentangan dengan
Hadist Rosululluh Shollallahu ‘Alaihi wa Sallam yang shohih, maka
janganlah engkau taklid kepadaku.”[7]
iv. Imam Ahmad bin Hambal Rohimahulloh
لا تقلدني ولا تقلد مالكا ولا الشافعي ولا الأوزاعي ولا الثوري وخذ من حيث أخذوا
الاتباع أن يتبع الرجل ما جاء عن النبي صلى الله عليه وسلم وعن أصحابه ثم هو من بعد التابعين مخير
“Janganlah kalian bertaqlid kepadaku, Syafi’i, al-Auza’i, ats-Tsauriy, namun ambillah(ikutilah) darimana mereka berpendapat.”[8]
“Ittiba’ ialah seorang laki-laki mengikuti semua yang datang dari
Nabi Shollallahu ‘Alaihi wa Sallam dan para sahabatnya lalu mengikuti
apa-apa yang berasal dari para tabi’in yang terpilih.”[9]
Dari perkataan-perkataan para imam madzhab di atas kita dapat
menyaksikan dengan jelas dan terang seterang sinar matahari di siang
hari yang terik, bahwa para imam tersebut menyuruh kita untuk berpegang
teguh kepada al-Hadist, dan mereka melarang untuk taqlid kepada pendapat
mereka tanpa dasar ilmu. Karena sesungguhnya orang yang berpegang
kepada semua yang shohih dalam as-Sunnah walaupun bertentangan dengan
perkataan para imam tersebut, tidaklah keluar dari jalan dan madzhab
yang mereka tempuh, malahan orang itu benar-benar telah mengikuti
madzhab para imam itu.[10]
Apabila kita melihat praktek ibadah yang diamalkan oleh mayoritas
masyarakat, akan kita dapatkan hal-hal yang bertolak belakang jauh dari
wasiat para imam madzhab tadi. Jika mereka diberitahu dan dinasehati
bahwa ibadah yang mereka lakukan selama ini jelas-jelas menyelisihi
Hadist Rosululloh Shollallahu ‘Alaihi wa Sallam, mereka dengan mudahnya
menjawab kalau amalan ibadah mereka adalah tuntunan yang diajarkan oleh
para imam madzhab mereka. Sungguh ini adalah kejahilan yang besar
terhadap madzhab imam mereka sendiri.
Sebagian orang seringkali mencampur adukkan antara hal-hal yang termasuk ibadah dengan yang bukan ibadah, kaidah yang mereka gunakan untuk membenarkan bid’ah mereka ialah sebuah kaidah yang berbunyi
الأصلُ فِي الأَشْيَاءِ الإِبَاحَةُ
“Pada asalnya hukum sesuatu itu adalah boleh “.
Ini adalah kaidah ilmiah yang benar, akan tetapi tidak dapat di
pergunakan dalam perkara ibadah. Kaidah ini dapat dipergunakan pada
segala sesuatu yang diciptakan oleh Allah yang memberikan manfaat bagi
orang lain. Dan memang, pada asalnya hukum sesuatu itu adalah halal dan
boleh.
Ibnu Qoyyim mengatakan : “Dapat dimaklumi bahwa sesungguhnya tidak
ada yang haram kecuali yang diharamkan oleh Allah dan Rosul-Nya. Tidak
ada dosa kecuali apa yang ditetapkan oleh Allah dan Rosul-Nya sebagai
perbuatan dosa bagi pelakunya. Sebagaimana tidak ada kewajiban kecuali
yang diwajibkan oleh-Nya. Dan tiada yang haram kecuali yang di haramkan
oleh-Nya., Tidak ada agama kecuali apa yang disyariatkan Allah.
Pada asalnya, hukum sesuatu dalam hal ibadah adalah batil sampai adanya
dalil yang memerintahkannya.[11]
7.3 Kalau Seandainya Amalan Itu Baik Tentulah Para Sahabat Telah Mendahului Mengamalkannya (لَوْ كَانَ خَيْرًا لَسَبَقُوْنَا إلَيْهِ)
Imam Ibnu Katsir Rohimahulloh berkata ketika menafsirkan ayat 38
surat an-Najm :”Dari ayat yang mulia ini imam as-Syafi’i Rohimahulloh
danpara pengikutnya menyimpulkan, bahwa pahala membaca Al- Qur an tidak
sampai kepada orang yang mati; sebab amal ibadah itu bukanlah dari hasil
perbuatannya.Maka Rosululloh Shollallahu ‘Alaihiwa Sallam tidak menganjurkan dan menyuruh umatnya, untuk mengamalkannya, dan tidak memerintahkannya baik secara perkataan yang jelas atau pun isyarat. Serta tidak dinukil hal tersebut dari salah seorang sahabat, kalau seandainya perbuatan itu baik tentulah para sahabat telah mendahului mengamalkannya, sedangkan bentuk ibadah-ibadah untuk mendekatkan diri kepada Allah, hanya bisa diketahui berdasarkan nas- nas yang ada. Juga tidak sedikit pun menggunakan qiyas-qiyas dan pikiran-pikian manusia semata.”[12]
Yang dimaksud dengan kaidah di atas ialah[13]:
1. Apa yang telah disepakati(di-ijma’-kan) oleh mereka. Sedangkan
ijma’ para sahabat menjadi dasar hukum Islam yang ketiga setelah Al Qur
an dan Sunnah.
2. Manhaj atau cara beragamanya yang benar di dalam berpegang dengan
Al Qur an dan Sunnah. Kita pun wajib mengikuti manhaj dan pemahaman
mereka di dalam berpegang dan kembali kepada Al Qur an dan as Sunnah.
3. Mereka Mendahulukan wahyu Al Qur an dan wahyu as Sunnah daripada akal fikiran mereka.
4. Mereka sangat menjauhi dan membenci serta memerangi bid’ah.7.4 Ibadah Adalah Tauqifiyyah
Syeikh Bin Baz Rohimahulloh Berkata:
فالدين كامل بحمد الله، قد أكمله الله، فليس
لأحدٍ من الناس أن يحدث في الدين أو يشرع فيه ما لم يأذن به الله،
والعبادة توقيفية، ليست بالآراء والاختراعات، ولكنها بالتوقيف قال الله
وقال رسوله، فما لم يأت عن الله ولا عن رسوله من العبادات فليس لنا أن
نتعبد به فيكون بدعة
قال تعالى: { أَمْ لَهُمْ شُرَكَاءُ شَرَعُوا لَهُمْ مِنَ الدِّينِ مَا لَمْ يَأْذَنْ بِهِ اللَّهُ } [الشورى:21]
“Agama sudah sempurna-alhamdulillah- Allah
sudah menyempurnakannya, oleh karena itu tidak boleh bagi seseorang
mengada-adakan atau mensyari’atkan sesuatu di dalam agama yang Allah
tidak memberinya izin, Karena ibadah adalah tauqifiyyah,
bukan (didapat) melalui kreasi pemikiran dan penemuan, tetapi ibadah
berasal dari firman Allah dan sabda Rosul-Nya, sesuatu bentuk ibadah
yang tidak bersumber dari Allah dan Rosul-Nya, kita tidak boleh
beribadah dengan cara tersebut sedangkan cara itu termasuk bid’ah.
Allah berfirman :”Apakah mereka
mempunyai sesembahan selain Allah yang menetapkan peraturan agama bagi
mereka yang tidak diizinkan (diridho) Allah?.”[14]
Syaikh as-Sudais pernah menyatakan dalam sebuah ceramahnya bahwa beribadah dalam agama islam adalah tauqifiyyah, wajib
bagi seorang muslim dalam beribadah untuk melandasinya dari dua
sumbernya, yaitu : Al Qur an dan sunnah Rosululloh Shollallahu ‘Alaihi
wa Sallam. Hendaklah ia tidak menambah-nambah (sesuatu amalan) dalam
syari’at Allah apa-apa yang tidak diperintahkan Allah. Dan hendaklah ia
tidak membuat sesuatu amalan yang baru dalam agama ini. Sebab Allah
Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْأِسْلامَ دِيناً
“Pada hari ini telah Ku-sempurnakan
untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah
Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu.”(Al Maidah : 3)
Maka agama islam sudah paripurna dan sempurna, sehingga kita hanya
tinggal beramal dengan apa-apa yang ada dalam agama kita. Dan kita harus
berhati-hati untuk tidak menambah-nambah di dalamnya. Disebabkan karena
lemahnya aqidah dan minimnya wala’ serta mutaba’ah kepada Rosululloh
Shollallahu ‘alaihi wa Sallam, juga taqlid kepada musuh-musuh islam dan
tasyabbuh dengan mereka, sehingga terjadilah sikap melampaui batas dalam
kaum muslimin, dari batas-batas yang sudah digariskan.Yakni,
batas-batas yang diwajibkan kita berhenti(untuk tidakmelanggarnya).
Sebagai suatu ketaatan kepada sebuah hadist Rosulullulloh Shollahu
‘Alaihi wa Sallam yang agung dan termasuk dari Kaidah-kaidah agama,
beliau bersabda:
مَنْ أَحْدَثَ فِي أَمْرِنَا هذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ
“Barangsiapa melakukan suatu amalan yang bukan ajaran kami, maka amalan tersebut tertolak.”[15]
Oleh sebab itu semua amal ibadah yang bukan merupakan bagian dari
sunnah Rosululloh Shollallahu ‘Alaihi wa Sallam dan para kholifah
ar-Rosyidin, maka amalan seseorang itu tertolak siapapun dia.[16]7.5 Bersikap Pertengahan Dalam Beribadah
Imam an Nawawi menulis dalam kitabnya Riyadhus Sholihin bab tentang
bersikap pertengahan dalam beribadah. Beliau banyak menukil beberapa
ayat-ayat Al Qur an dan hadist-hadist Nabawiyah dalam bab tersebut.
Di antara hadist tersebut yaitu, hadist yang diriwayatkan oleh Anas bin Malik beliau berkata:
جَاءَ ثَلَاثَةُ رَهْطٍ إِلَى بُيُوتِ
أَزْوَاجِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَسْأَلُونَ عَنْ
عِبَادَةِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَلَمَّا
أُخْبِرُوا كَأَنَّهُمْ تَقَالُّوهَا فَقَالُوا وَأَيْنَ نَحْنُ مِنْ
النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَدْ غُفِرَ لَهُ مَا
تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ وَمَا تَأَخَّرَ قَالَ أَحَدُهُمْ أَمَّا أَنَا
فَإِنِّي أُصَلِّي اللَّيْلَ أَبَدًا وَقَالَ آخَرُ أَنَا أَصُومُ
الدَّهْرَ وَلَا أُفْطِرُ وَقَالَ آخَرُ أَنَا أَعْتَزِلُ النِّسَاءَ فَلَا
أَتَزَوَّجُ أَبَدًا فَجَاءَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ إِلَيْهِمْ فَقَالَ أَنْتُمْ الَّذِينَ قُلْتُمْ كَذَا وَكَذَا
أَمَا وَاللَّهِ إِنِّي لَأَخْشَاكُمْ لِلَّهِ وَأَتْقَاكُمْ لَهُ لَكِنِّي
أَصُومُ وَأُفْطِرُ وَأُصَلِّي وَأَرْقُدُ وَأَتَزَوَّجُ النِّسَاءَ
فَمَنْ رَغِبَ عَنْ سُنَّتِي فَلَيْسَ مِنِّي.
“Tiga orang (sahabat) datang ke rumah
istri-istri Nabi Shollallahu ‘Alaihi wa Sallam sambil bertanya mengenai
ibadah Nabi Shollallahu Alaihi wa Sallam, setelah mereka diberitahu
nampaknya para sahabat itu, menganggap ibadah mereka kecil dan
berujar,”Bagaimana ibadah kita bila dibandingkan dengan Nabi, beliau
telah diampuni dosanya yang akan datang dan yang telah lampau. Berkata
salah seorang dari ketiganya,”Aku akan sholat malam terus selamanya, dan
berkata yang lain,”Aku akan berpuasa terus menerus dan tidak akan
berbuka, seorang yang lain berkata,”Aku akan menjauhi wanita dan tidak
akan menikah selamanya.”
Kemudian Rosululloh Shollallahu ‘Alaihi wa
Sallam datang, lalu berkata,”Kalian yang mengatakan ini dan itu,
demi Allah aku adalah orang yang paling takut kepada Allah dan paling
bertakwa kepada-Nya. Namun aku puasa dan berbuka, aku sholat dan aku
tidur, dan aku menikah dengan wanita, barang siapa yang enggan dengan
sunnahku, maka dia bukan termasuk dari golonganku.”[17]
Hadist di atas merupakan suatu dalil bahwa bagi seorang muslim, untuk
bersikap pertengahan(iqtishod) dalam urusan ibadah, bahkan ia harus
bersikap pertengahan dalam semua perkara;sebab bila ia hanya
bersantai-santai dalam suatu perkara, niscaya ia akan melewatkan banyak
kebaikan.
Sedangkan bila ia terlalu bersikap ekstrim, suatu waktu ia akan
menjadi lemah semangat, malas lalu berhenti, jadi hendaklah bagi
seseorang dalam semua urusannya untuk bersikap pertengahan(muqtashid).[18]
Dari Aisyah Rodhiyallohu ‘Anha berkata:
أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ … وَأَنَّ أَحَبَّ الْأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ
أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ
Bahwa Rosululloh Shollallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:…”Sesungguhnya amal yang paling dicintai di sisi Allah adalah amal yang dilaksanakan secara terus-menerus
walaupun sedikit.”[19]
7.6 Beribadah dengan berlandaskan sumber yang jelas dan pasti dari Rosululloh
Sumber hukum kedua dalam Islam adalah al-Hadist. Hadist yang dapat diterima dan dijadikan sumber hukum ada 2 yaitu : hadist shohih dan hasan.
Para ahli hadist, ahli ushul fiqh dan fuqoha’ telah ber-ijma’ tentang
wajibnya beramal dengan hadist ini. Hadist shohih adalah salah satu
hujjah dalam syari’at. Tidak boleh seorang muslim untuk tidak beramal
terhadap hadist tersebut.[20]
Hadist hasan sebagaimana hadist shohih merupakan salah satu hujah
dalam syari’at, meskipun kekuatannya dibawah hadist shohih. Oleh karena
itu seluruh fuqoha’, mayoritas muhadits dan ahli ushul fiqh berhujah dan
beramal dengan hadist ini.[21]
Selain kedua hadist di atas kita mengenal istilah hadist
dho’if(lemah) dan hadist maudhu’(palsu). Hadist dhoif tidak bisa
dijadikan dasar sebagai pengambilan sumber hukum. Namun para ulama Ahlus
Sunnah berselisih pendapat mengenai beramal dengan hadist dhoif dalam
hal fadhoil a’mal. Sedangkan hadist palsu sepakat para ulama ahli hadist
untuk tidak menjadikannya sebagai salah satu sumber pengambilan dalil.
Insya Allah akan datang penjelasannya setelah kita membahas hadist
dho’if.
Adapun hadist dho’if sebagian dari para ulama memperbolehkan beramal dalam masalah fadhoil a’mal tetapi dengan banyak syarat dan sebagian lain melarangnya. Ibnu Hajar telah merangkum syarat-syarat yang memperbolehkan pengamalan hadist dhoif dalam fadhoil a’mal. Syarat-syarat tersebut yaitu:
- Hadist itu tidak terlalu dhoif sekali, misalnya tidak dijadikan landasan amalan suatu hadist yang yang diriwayatkan oleh hanya seorang saja, yang termasuk dari golongan pendusta atau dituduh sebagai seorang pendusta atau ia banyak kacaunya dalam hal periwayatan.
- Hadist dhoif tersebut masih masuk ke dalam cakupan hadist pokok yang bisa diamalkan(hadist shohih dan hasan).
- Tidak berkeyakinan bahwa hadist dhoif itu berstatus kuat ketika mengamalkannya, bahkan harus berhati-hati.
Dan bukanlah pembolehan beramal dengan hadist dhoif di sini bahwa
kami menganjurkan untuk beribadah, hanya dengan berlandaskan dari sebuah
hadist yang dhoif saja. Pendapat seperti ini tidak ada satupun ulama
yang mengatakannya. Tetapi maknanya apabila telah jelas anjuran untuk
beribadah yang bersumber dari dalil syar’i yang shohih semisal sholat
malam, lalu datang hadist dho’if yang berisi tentang keutamaan sholat
malam, maka tidak mengapa untuk beramal dengan hadist dho’if tersebut
pada saat ini.[22]
Selain ketiga syarat di atas para ulama menambahkan syarat-syarat
lain untuk mengamalkan hadist dho’if dalam fadhoil a’mal, sebagai
berikut[23] :
- Hadist itu tidak berkaitan dengan aqidah, seperti sifat-sifat Allah.
- Tidak termasuk dalam hadist-hadist yang menjelaskan hukum-hukum syari’at, yakni yang berkaitan dengan halal dan harom.
- Tidak mengumumkan pengamalannya.
Mencermati syarat-syarat yang cukup ketat di atas, tentu akan
menyulitkan bila kita akan berdalil suatu hadist dho’if. Maka solusinya
lebih baik kita tinggalkan jauh-jauh hadist-hadist dho’if, kita menuju
kepada hadist-hadist Nabi lain yang shohih dan hasan. Toh ketika kita
mempelajari, menghafalkan lalu beramal dengan hadist shohih dan hasan
telah menyibukkan waktu, tenaga dan pikiran.
Imam Muslim berkata dalam muqoddimah kitab shohihnya :
وَفَّقَكَ اللَّهُ تَعَالَى أَنَّ
الْوَاجِبَ عَلَى كُلِّ أَحَدٍ عَرَفَ التَّمْيِيزَ بَيْنَ صَحِيحِ
الرِّوَايَاتِ وَسَقِيمِهَا وَثِقَاتِ النَّاقِلِينَ لَهَا مِنْ
الْمُتَّهَمِينَ أَنْ لَا يَرْوِيَ مِنْهَا إِلَّا مَا عَرَفَ صِحَّةَ
مَخَارِجِهِ وَالسِّتَارَةَ فِي نَاقِلِيهِ وَأَنْ يَتَّقِيَ مِنْهَا مَا
كَانَ مِنْهَا عَنْ أَهْلِ التُّهَمِ وَالْمُعَانِدِينَ مِنْ أَهْلِ
الْبِدَعِ …قَوْلُ اللَّهِ جَلَّ ذِكْرُهُ { يَا أَيُّهَا الَّذِينَ
آمَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا أَنْ تُصِيبُوا
قَوْمًا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَى مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ }
“Semoga Allah memberimu taufiq , ketahuilah bahwa yang wajib bagi
setiap orang yang mengetahui cara membedakan antara riwayat yang shohih
dengan yang lemah, dan dapat pula ia membedakan antara perowi yang
tsiqoh dengan perowi yang tertuduh sebagai pendusta, hendaklah jangan
meriwayatkannya kecuali yang dia ketahui keshohihan sanadnya. Dan
hendaklah dia menjauhi agar tidak meriwayatkan dari orang-orang yang
tertuduh berdusta, para penentang yang termasuk ahli bid’ah…Allah
berfirman : “Wahai orang-orang yang beriman! Jika seseorang yang
fasik datang kepadamu membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya,
agar kamu tidak mencelakakan suatu kaum karena kebodohan(kecerobohan),
yang akhirnya kamu menyesali perbuatan itu.
(QS. Al-Hujurot : 6)”[24]
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata:”Dilarang untuk mengambil hukum dalam syari’at yang bersumber dari hadist-hadist dho’if,
namun Ahmad bin Hambal dan yang selainnya membolehkan meriwayatkan
hadist-hadist dho’if dalam perkara fadholi a’mal, selama tidak didapati
bahwa hadist itu adalah hadist dusta. Sebab melakukan suatu amalan bila
telah diketahui bahwa amal tersebut disyari’atkan, lalu ada hadist lain
yang meriwayatkan tentang keutamaan amal itu dan tidak diketahui bahwa
hadist itu dusta, maka boleh jadi pahala yang disebutkan di dalam hadist
tadi akan diperoleh orang yang mengamalkan amalan itu. Dan
tidak ada seorang pun ulama yang mengatakan bolehnya menjadikan sesuatu
amalan itu wajib atau mustahab hanya berlandaskan hadist yang dho’if. Barangsiapa yang berpendapat dengan perkataan ini sungguh dia telah menyelisihi ijma’.[25]
Salah satu penyebab kerusakan dalam umat Islam adalah tersebarnya
banyak hadist palsu di tengah-tengah mereka. Padahal mayoritas manusia
tidak bia membedakan antara hadist yang bisa dijadikan dalil dalam agama
dengan hadist yang sama sekali tidak bisa dipakai dasar dalam agama.
Rosululloh Sudah memperingatkan kita mengenai hal ini beliau bersabda :
مَنْ كَذَبَ عَلَيَّ مُتَعَمِّدًا فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنْ النَّارِ
“Barangsiapa yang berdusta atas namaku dengan sengaja, maka hendaklah dia menyiapkan tempat duduknya di neraka.”[26]
من حدث عني حديثا وهو يرى أنه كذب فهو أحد الكاذبين
“Barangsiapa yang meriwayatkan sebuah
hadist dariku, yang dia menyangka bahwa hadist itu dusta, maka dia
adalah salah satu dari pendusta.”[27]
Berkata imam an Nawawi :“Dan adapun hadist maudhu’(palsu) ia adalah
hadist yang dibuat-buat, kadang-kadang orang yang membuat hadist palsu
mengambil suatu perkataan dari orang lain lalu dijadikan menjadi sebuah
hadist. Atau kadang kala ia membuat suatu hadist yang berasal dari
perkataannya sendiri. Umumnya hadist-hadist palsu bisa diketahui dari
lafadznya yang jelek. Ketahuilah bahwa menyengaja membuat-buat suatu
hadist merupakan perkara yang haram menurut ijma’ kaum
muslimin(orang-orang yang mempunyai kapabilitas di dalam
ijma’).(Sedangkan)kelompok-kelompok ahli bid’ah seperti al-Karomiyyah
menyelsisihi Kesepakatan tersebut. Mereka membolehkan (meriwayatkan
hadist palsu) dan meletakkannya ke dalam perkara targhib,tarhib dan
zuhud.
Jalan mereka ini diikuti pula oleh orang-orang jahil dari kalangan
yang disebut zuhaad(orang-orang zuhud) dengan tujuan untuk memotivasi
diri mereka dalam mengamalkan suatu perbuatan yang baik, menurut
persangkaan mereka yang sesat. Ini adalah suatu puncak kebodohan yang
nyata. Cukuplah hadist berikut menjadi bantahan bagi pemahaman sesat
ini. Rosululloh Shollallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda : “Barangsiapa yang berdusta atas namaku dengan sengaja, maka hendaklah dia menyiapkan tempat duduknya di neraka.”[28]
Imam an Nawawi telah memberikan kaidah bagi seseorang yang ingin
meriwayatkan suatu hadist, beliau menyatakan sebagai berikut :”Berkata
para ulama,”Hendaknya bagi seseorang yang berkeinginan meriwayatkan
suatu hadist, agar melihat (dengan cermat hadist itu). Jika hadist tadi
termasuk hadist shohih atau hasan, periwayatannya dengan memakai kalimat jazm,
semisal : qoola(berkata) Rosululloh, fa’alahu(telah melakukan sesuatu)
atau yang sejenisnya. Dan jika hadist itu tergolong hadist dho’if,
hendaklah tidak meriwayatkannya dengan lafadz qoola, fa’ala, amaro, naha
atau yang sejenisnya dari lafadz-lafadz jazm. Tetapi memakai
lafadz-lafadz seperti: rowa ‘anhu (diriwayatkan darinya),ja a ‘anhu
(telah datang darinya), yudzkaru(disebutkan), yuhka (diceritakan),
yuqoolu(dikatakan) atau telah sampai kepada kami dan yang semisalnya.”[29]
Para pembaca yang budiman akhirnya kita bisa menyimpulkan beberapa
point yang penting, dari hadist-hadist Rosululloh dan pernyataan para
imam di atas sebagai berikut :
1) Berdusta atas nama Rosululloh sangat besar dosanya dan mendapatkan ancaman yang keras.
2) Hadist dho’if dan maudhu’ sama sekali tidak dapat dijadikan dalil sebagai landasan pelaksanaan ibadah.
3) Seseorang harus memperhatikan dengan cermat dan hati-hati dengan
lafadz yang dia pakai ketika meriwayatkan dan menyampaikan hadist.
[1] Ibnu ‘Abidin, Hasyiyah Rodd al Mukhtar ‘Ala ad Dar al -Mukhtar Syarhu tanwiir al-Abshor, juz 1, hal. 385, Maktabah Syamilah
[2] Muhammad Nashiruddin al Albani, Shifat Sholat Nabi, Maktabah al Ma’arif;Riyadh, 2004M/ 1424 H, hal.42
[3] Al Khattob ar Ru’ainiy, Mawahib al Jaliil li Syarhi Mukhtashor al Kholil, juz 4, hal. 54, Maktabah Syamilah
[3] Al Khattob ar Ru’ainiy, Mawahib al Jaliil li Syarhi Mukhtashor al Kholil, juz 4, hal. 54, Maktabah Syamilah
[4] An Nawawi, al Majmu’ Syarh al-Muhadzdzab, juz 1, hal. 92,Maktabah Syamilah,lihat pula Ibnu Hajar al Haitami, Tuhfah al Muhtaj fi Syarhi al Minhaj, juz 1, hal. 219, Maktabah Syamilah
[5] Muhammad Nashiruddin al Albani, Shifat Sholat Nabi, hal.45
[6] Ibid, hal. 47
[7] Ibid
[8] Muhammad Nahiruddin al Albani, Shifat Sholat Nabi, hal.47
[9] Ibid
[10] Ibid, hal.48
[11]Ali bin Hasan al Halabi, Mengupas Tuntas Akar Bid’ah, terj. Abu Hilya, Bekasi:Pustaka Imam Adz Dzahabi, 2009, Cet II, hal. 60-61.
[12] Ibnu Katsir, Tafsir Al Qur anul ‘Adzim, juz 7, hal. 465, Maktabah Syamilah
[13]Abdul Hakim bin Amir Abdat, Lau Kaana Khairan Lasabaquunaa Ilaihi, Jakarta;Maktabah Mu’awiyah bin Abi Sufyan, 2010, Cet. V, hal. 79-98
[14] Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz, Durus Syaikh Abdul Aziz bin Baz, juz 10, hal. 5, Maktabah Syamilah
[15] Sudah terdahulu takhrij hadistnya.
[16]Abdur Rohman as Sudais, Durus Syaikh Abdur Roman as Sudais, juz 113, hal. 9, Maktabah Syamilah
[17] HR. Bukhori, Bab at Targhib fii an Nikah, no. 4675, juz 15, hal. 493, Maktabah Syamilah
[18] Utsaimin, Riyadhus Sholihin,Beirut Libanon;Dar bin ‘Asshoshoh, 2006/1427, Cet. I, Jilid 1, hal. 30
[19] HR. Bukhori, Bab al Qosd wa al Mudawamah ‘ala al Amal, no. 5983, juz 20, hal. 100, Maktabah Syamilah
[20] Mahmud Ath Thohhan, Taisir Mustholah al Hadist, hal 31
[21] Ibid, hal 39
[22] Muhammad Sholih al Munajjid, Fatawa al Islam Su’al wa Jawab, hal. 4409, Maktabah Syamilah
[23] Mahmud Ath Thohhan, Taisir Mustholah al Hadist, hal 54 dan lihat pula Ali bin Hasan al Halabi, Ilmu Ushul Bida’, hal. 145
[24] Imam Muslim, Shohih Muslim,
Bab Wujub ar Riwayah ‘an ats-Tsiqot wa Tarq al-Kadzdzabiin wa Tahdzir
min al Kadzib ‘alaa Rosulillah Shollallahu ‘Alaihi wa Sallam, juz 1,
hal. 7, Maktabah Syamilah.
[25] Ibnu Taimiyah, Majmu’ al Fatawa, juz 1, hal. 250-251, Maktabah Syamilah
[26] HR.
Bukhori, Bab Maa Yakrohu min an Niyahah ‘alal Mayyit,no. 1209, juz 5,
hal. 37, lihat pula HR. Muslim, Bab Taglidh al-Kadzib ‘alaa
Rosulululloh Shollallahu Alaihi wa Sallam, no. 4, juz 1, hal. 12,
Maktabah Syamilah.
[27] HR.
at Tirmidzi, Bab Fii man Rowa Haditsan wa Huwa Yaro Annahu Kadzaba, no.
2662, juz 5, hal. 36, dan HR. Ibnu Majah, Bab Man Haddatsa ‘an
Rosulillah Shollallahu ‘Alaihi wa Sallam Haditsan wa Huwa Yaro Annahu
Kadzaba, no. 38, juz 1, hal. 14, Maktabah Syamilah.
[28] An Nawawi, Syarh an Nawawi ‘alaa Muslim, juz 1, hal. 56, Maktabah Syamilah.
[29] Ibid, juz 1 hal 71, Maktabah Syamilah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar