Sebagian Prinsip Ahlussunnah wal Jama'ah Dalam Beribadah (6)
14
02
2011
VIII. Contoh-contoh Ibadah Yang Tidak Ada Tuntunannya Dalam Sunnah Rosululloh
Pada bab ini kami sebutkan sebagian kecil contoh-contoh ibadah yang
masih banyak diamalkan oleh kebanyakan kaum muslimin di Indonesia.
Mereka beranggapan bahawa amal-amal ibadah tersebut adalah suatu ibadah
yang termasuk dalam tuntunan syari’at Islam, tetapi bila kita gali dan
teliti lebih jauh ternyata apa yang mereka amalakan telah menyelisihi
jalan Rosululloh Shollallahu ‘Alaihi wa Sallam dan para sahabatnya yang
lurus. Sengaja bantahan/koreksi terhadap amalan-amalan menyimpang
tersebut, tidak kami ungkap secara luas karena keterbatasan ilmu dan
tempat pemaparan dalam makalah kami ini. Penulis hanya akan mengambil 4
contoh praktek ibadah yang sangat populer di masyarakat luas, yang
sampai detik ini masih saja menimbulkan pro dan kontra di kalangan kaum
muslimin sendiri, untuk kemudian kita analisa menurut kacamata syari’at
yang murni dari Allah dan Rosul-Nya serta petunjuk para ulama
ahlussunnah yang selalu berpegang kepada Al Qur an dan as Sunnah, bukan
atas dasar nafsu semata.
Sebab Rosululloh telah memberikan solusi kepada umatnya, suatu cara
agar kita tidak tersesat dalam menjalani hidup ini, dengan sabdanya :
تَرَكْتُ فِيكُمْ أَمْرَيْنِ لَنْ تَضِلُّوا مَا تَمَسَّكْتُمْ بِهِمَا كِتَابَ اللَّهِ وَسُنَّةَ نَبِيِّهِ
“Aku telah meninggalkan untuk kalian
dua perkara, kalian tidak akan pernah sesat selama senantiasa berpegang
teguh dengan keduanya, (yaitu) Kitabullah dan Sunnah Nabi-Nya.”[1]
8.1 Dzikir Berjama’ah Setelah Sholat Wajib Dengan Suara Keras
Kebanyakan kaum muslimin di negeri kita masih banyak yang melakukan
praktek ibadah tersebut, dengan alasan bahwa semacam itu adalah baik dan
juga diperbolehkan oleh imam asy Syafi’i. Bahkan mengatakan apa yang
mereka lakukan adalah termasuk ciri khas dari pengikut madzhab Syafi’i.
Tetapi mari kita tinjau ulang benarkah praktek yang mereka lakukan
tersebut memiliki landasan yang kuat dalam syaria’t dan sesuai dengan
ajaran dari imam asy Syafi’i. Kita harus ingat bahwa hukum sesuatu dalam hal ibadah adalah batil sampai adanya dalil yang memerintahkannya.
Dari Abu Musa al Asy’ariy ia berkata :
كُنَّا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَكُنَّا إِذَا أَشْرَفْنَا عَلَى وَادٍ هَلَّلْنَا وَكَبَّرْنَا ارْتَفَعَتْ أَصْوَاتُنَا فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَا أَيُّهَا النَّاسُ ارْبَعُوا عَلَى أَنْفُسِكُمْ فَإِنَّكُمْ لَا تَدْعُونَ أَصَمَّ وَلَا غَائِبًا إِنَّهُ مَعَكُمْ إِنَّهُ سَمِيعٌ قَرِيبٌ تَبَارَكَ اسْمُهُ وَتَعَالَى جَدُّهُ
“Kami pernah bepergian bersama Rosululloh Shollallahu ‘Alaihi wa
Sallam, ketika melewati jalan yang mendaki kami bertakbir dengan keras,
lalu Nabi bersabda:”Wahai sekalian manusia sayangi diri kalian,
karena kalian tidaklah menyeru dzat yang tuli dan jauh, Dia sesungguhnya
bersama kamu, Dia adalah dzat Yang Maha Mendengar lagi Maha Dekat.
Sucilah nama-Nya dan tinggi kedudukan-Nya.[2]
Amalan semisal yang mereka lakukan ini, sudah terjadi sejak zaman
sahabat. Dan dengan sikap tegas untuk memberantas kemungkaran para
sahabat tidak tinggal diam saja, tetapi berusaha untuk melenyapkannya
sesuai kemampuan mereka. Di antara atsar yang menunjukkan kedalaman ilmu
dan ketegasan sahabat ketika menghadapi bid’ah yang terjadi adalah
sebuah atsar dari Amr bin Salamah Rodhiyallohu ‘Anhu.
عمرو بن سلمة الهمداني قَالَ : كُنَّا نَجْلِسُ عَلَى بَابِ عَبْدِ
اللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ قَبْلَ صَلاَةِ الْغَدَاةِ ، فَإِذَا خَرَجَ
مَشَيْنَا مَعَهُ إِلَى الْمَسْجِدِ ، فَجَاءَنَا أَبُو مُوسَى
الأَشْعَرِىُّ فَقَالَ : أَخَرَجَ إِلَيْكُمْ أَبُو عَبْدِ الرَّحْمَنِ
بَعْدُ؟ قُلْنَا : لاَ ، فَجَلَسَ مَعَنَا حَتَّى خَرَجَ ، فَلَمَّا خَرَجَ
قُمْنَا إِلَيْهِ جَمِيعاً ، فَقَالَ لَهُ أَبُو مُوسَى : يَا أَبَا
عَبْدِ الرَّحْمَنِ إِنِّى رَأَيْتُ فِى الْمَسْجِدِ آنِفاً أَمْراً
أَنْكَرْتُهُ ، وَلَمْ أَرَ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ إِلاَّ خَيْراً. قَالَ :
فَمَا هُوَ؟ فَقَالَ : إِنْ عِشْتَ فَسَتَرَاهُ – قَالَ – رَأَيْتُ فِى
الْمَسْجِدِ قَوْماً حِلَقاً جُلُوساً يَنْتَظِرُونَ الصَّلاَةَ ، فِى
كُلِّ حَلْقَةٍ رَجُلٌ ، وَفِى أَيْدِيهِمْ حَصًى فَيَقُولُ : كَبِّرُوا
مِائَةً ، فَيُكَبِّرُونَ مِائَةً ، فَيَقُولُ : هَلِّلُوا مِائَةً ،
فَيُهَلِّلُونَ مِائَةً ، وَيَقُولُ : سَبِّحُوا مِائَةً فَيُسَبِّحُونَ
مِائَةً. قَالَ : فَمَاذَا قُلْتَ لَهُمْ؟ قَالَ : مَا قُلْتُ لَهُمْ
شَيْئاً انْتِظَارَ رَأْيِكَ أَوِ انْتِظَارَ أَمْرِكَ. قَالَ : أَفَلاَ
أَمَرْتَهُمْ أَنْ يَعُدُّوا سَيِّئَاتِهِمْ وَضَمِنْتَ لَهُمْ أَنْ لاَ
يَضِيعَ مِنْ حَسَنَاتِهِمْ.
ثُمَّ مَضَى وَمَضَيْنَا مَعَهُ حَتَّى أَتَى حَلْقَةً مِنْ تِلْكَ
الْحِلَقِ ، فَوَقَفَ عَلَيْهِمْ فَقَالَ : مَا هَذَا الَّذِى أَرَاكُمْ
تَصْنَعُونَ؟ قَالُوا : يَا أَبَا عَبْدِ الرَّحْمَنِ حَصًى نَعُدُّ بِهِ
التَّكْبِيرَ وَالتَّهْلِيلَ وَالتَّسْبِيحَ. قَالَ : فَعُدُّوا
سَيِّئَاتِكُمْ فَأَنَا ضَامِنٌ أَنْ لاَ يَضِيعَ مِنْ حَسَنَاتِكُمْ
شَىْءٌ ، وَيْحَكُمْ يَا أُمَّةَ مُحَمَّدٍ مَا أَسْرَعَ هَلَكَتَكُمْ ،
هَؤُلاَءِ صَحَابَةُ نَبِيِّكُمْ -صلى الله عليه وسلم- مُتَوَافِرُونَ
وَهَذِهِ ثِيَابُهُ لَمْ تَبْلَ وَآنِيَتُهُ لَمْ تُكْسَرْ ، وَالَّذِى
نَفْسِى فِى يَدِهِ إِنَّكُمْ لَعَلَى مِلَّةٍ هِىَ أَهْدَى مِنْ مِلَّةِ
مُحَمَّدٍ ، أَوْ مُفْتَتِحِى بَابِ ضَلاَلَةٍ. قَالُوا : وَاللَّهِ يَا
أَبَا عَبْدِ الرَّحْمَنِ مَا أَرَدْنَا إِلاَّ الْخَيْرَ. قَالَ : وَكَمْ
مِنْ مُرِيدٍ لِلْخَيْرِ لَنْ يُصِيبَهُ ، إِنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله
عليه وسلم- حَدَّثَنَا أَنَّ قَوْماً يَقْرَءُونَ الْقُرْآنَ لاَ
يُجَاوِزُ تَرَاقِيَهُمْ ، وَايْمُ اللَّهِ مَا أَدْرِى لَعَلَّ
أَكْثَرَهُمْ مِنْكُمْ. ثُمَّ تَوَلَّى عَنْهُمْ ، فَقَالَ عَمْرُو بْنُ
سَلِمَةَ : رَأَيْنَا عَامَّةَ أُولَئِكَ الْحِلَقِ يُطَاعِنُونَا يَوْمَ
النَّهْرَوَانِ مَعَ الْخَوَارِجِ.
انظر التعليق في الكتاب ويستفاد منه أن العبرة ليست بكثرة العبادة وإنما
بكونها على السنة بعيدة عن البدعة وقد أشار إلى هذا ابن مسعود رضي الله
عنه بقوله أيضا : اقتصاد في سنة خير من اجتهاد في بدعة . ومنها : أن البدعة
الصغيرة بريد إلى البدعة الكبيرة.
Amr bin Abi Salamah berkata:”Kami duduk-duduk di pintu rumah Abdullah
bin Mas’ud, sebelum sholat subuh ketika beliau keluar kami
mengiringinya pergi ke masjid. Lalu tiba-tiba Abu Musa al Asy’ari
mendatangi kami dan bertanya:”Apakah Abu Abdirrohman (Ibnu Mas’ud) sudah
keluar(dari rumah)?”Kami menjawab :”Belum”. Lalu beliau duduk bersama
kami. Kemudian keluarlah Ibnu Mas’ud, kami semua berdiri mengerumuni
beliau.
Abu Musa berkata kepada Ibnu Mas’ud:”Wahai Abu Abdirrohman, tadi aku
melihat suatu perkara yang aku ingkari, namun aku menganggap segala puji
bagi Allah- hal itu adalah baik.” Kata Ibnu Mas’ud:”Apa itu?” Jawab Abu
Musa:”Jika engkau berumur panjang, engkau akan mengetahui, aku tadi
melihat sekelompok orang di masjid mereka duduk mebuat halaqoh menunggu
sholat.
Setiap kelompok dipimpin oleh seseorang , sedang ditangan mereka ada
kerikil, lalu si pemimpin tadi berkata:”Bertakbirlah seratus kali !”
Maka mereka bertakbir seratus kali, “Bertahlillah seratus kali !” Maka
mereka bertahlil seratus kali, “Bertasbihlah seratus kali !” Maka mereka
bertasbih seratus kali. Ibnu Mas’ud bertanya:”Apa yang kamu katakan
kepada mereka ? Abu Musa menjawab:”Aku tidak bilang apa-apa, aku menanti
pendapatmu.” Kata Ibnu Mas’ud:”Tidakkah kamu katakan kepada mereka agar
mereka menghitung kesalahan mereka dan kamu jamin bahwa kebaikan
mereka tidak akan disia-siakan.”
Lalu Ibnu Mas’ud pergi menuju masjid tersebut dan kami pun ikut,
sampai ditempat itu. Ibnu Mas’ud bertanya kepada mereka (yang di
masjid):”Benda apa yang kalian pergunakan ini ?” Mereka
menjawab:”Kerikil wahai Abu Abdirrohman, kami bertakbir, bertahlil dan
bertasbih dengannya.”
Ibnu Mas’ud menimpali:”Hitunglah kesalahan-kesalahan kalian, saya
jamin kebaikan kalian tidak akan disia-siakan sedikitpun. Celaka kalian
wahai umat Muhammad, betapa cepat kebinasaan kalian. Mereka para sahabat
Nabi, masih banyak bertebaran. Ini baju beliau(Nabi) belum rusak dan
bejananya belum pecah. Demi dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya,
sungguh kalian berada dalam suatu agama yang lebih benar dibanding agama
Muhammad, atau kalian pembuka pintu kesesatan.” Mereka menjawab:”Wahai
Abu Abdirrohman kami tidak menginginkan kecuali kebaikan.”
Jawab Ibnu Mas’ud:”Betapa Banyak orang yang mengawab Ibnu
Mas’ud:”Betapa Banyak orang yang menginginkan kebaikan namun tidak
memperolehnya.” Sesungguhnya Rosululloh menceritakan kepada kami bahwa
ada suatu kaum yang membaca Al Qur an tetapi tidak sampai tenggorokan.
Demi Allah, saya tidak tahu barangkali kebanyakan mereka adalah kalian.
Lalu Ibnu Mas’ud pergi. Amr bin Salam berkata:”Kami mendapati mayoritas
anggota halaqoh tersebut memerangi kami pada perang Nahrawan bersama
khowarij.”[3]
Syaikh al Albani berkata mengenai atsar di atas:”’Ibroh(diterimanya
amal) bukan dengan melakukan banyak ibadah, tetapi dilihat bahwa ibadah
tersebut sesuai dengan sunnah dan jauh dari bid’ah. Ibnu Mas’ud juga
pernah berpesan:”Berbuat sedikit dalam sunnah lebih baik daripada
bersungguh-sungguh tetapi melakukan suatu amalan dalam bid’ah.” [4]
Atsar yang agung ini menyimpan lautan ilmu dan kaidah-kaidah emas yang berharga. Di antara kandungan atsar ini yaitu[5]:
- Bid’ahnya dzikir berjama’ah.
- Ibadah itu harus sesuai syari’at yang telah dicontohkan oleh Rosululloh, bukan berdasarkan hawa nafsu.
- Niat baik tidak bisa merubah kebatilan menjadi kebajikan.
ii. Pernyataan Para Ulama Madzhab Syafi’i
A. Imam asy Syafi’i
Beliau berkata dalam al Umm :
وَأَخْتَارُ للامام وَالْمَأْمُومِ أَنْ يَذْكُرَا اللَّهَ
بَعْدَ الِانْصِرَافِ من الصَّلَاةِ وَيُخْفِيَانِ الذِّكْرَ إلَّا أَنْ
يَكُونَ إمَامًا يَجِبُ أَنْ يُتَعَلَّمَ منه فَيَجْهَرَ حتى يَرَى أَنَّهُ
قد تُعُلِّمَ منه ثُمَّ يُسِرُّ فإن اللَّهَ عز وجل يقول { وَلَا تَجْهَرْ
بِصَلَاتِك وَلَا تُخَافِتْ بها } يعنى وَاَللَّهُ تَعَالَى أَعْلَمُ
الدُّعَاءَ وَلَا تَجْهَرْ تَرْفَعْ وَلَا تُخَافِتْ حتى لَا تُسْمِعَ
نَفْسَك
…Dan aku (imam Syafi’i) lebih memilih untuk para imam dan makmum agar
berdzikir kepada Allah sesudah sholat(5 waktu) dengan cara merendahkan
suara, kecuali jika imam tersebut harus mengajarkannya kepada makmum,
maka ia (boleh) mengeraskannya sampai mereka mampu mengikutinya. Lalu
(imam) kembali merendahkan suaranya (lagi). Allah berfirman :”Dan
janganlah engkau mengeraskan suaramu dalam sholat, dan janganlah pula
merendahkaannya.” (QS. Al-Isro’ : 110), yakni Allah Ta’ala lebih
mengetahui doamu, maka jangan engkau angkat suaramu dan jangan pula kau
rendahkan. Sehingga kamu sendiri tidak bisa mendengarnya[6]
B. Imam an NawawiBeliau berkata dalam kitabnya :
وفي رواية ان رفع الصوت
بالذكر حين ينصرف الناس من المكتوبة كان على عهد النبي صلى الله عليه و سلم
وأنه قال بن عباس رضي الله عنهما كنت أعلم اذا انصرفوا بذلك اذا سمعته[7]
…وغيرهم متفقون على عدم استحباب رفع الصوت بالذكر والتكبير وحمل الشافعي
رحمه الله تعالى هذا الحديث على أنه جهر وقتا يسيرا حتى يعلمهم صفة الذكر
لا أنهم جهروا دائما قال فاختار للإمام والمأموم أن يذكر الله تعالى بعد
الفراغ من الصلاة ويخفيان ذلك الا أن يكون اماما يريد أن يتعلم منه فيجهر
حتى يعلم أنه قد تعلم منه ثم يسر وحمل الحديث على هذا.
“Dalam sebuah riwayat,”Bahwa meninggikan suara pada waktu berdzikir
ketika manusia telah selesai dari sholat fardhu, itu merupakan suatu hal
yang biasa dilakukan di masa Nabi Shollallahu ‘Alaihi wa Sallam. Ibnu
Abbas pernah mengatakan:”Dulu aku mengetahui selesainya (Nabi Muhammad
dan Para sahabatnya) dari sholat fardhu bila aku mendengarnya(dzikir
mereka dengan suara keras)…
Sedangkan (para ulama) yang lainnya, mereka semua sepakat, bahwa
mengeraskan suara ketika dzikir dan takbir tidaklah disukai (goiru
mustahab), dan asy Syafi’i memahami bahwa hadist tersebut maksudnya
dilakukan dalam waktu yang singkat, sehingga imam bisa mengajari makmum
lafadz dzikir. Bukan untuk melakukannya terus menerus. Ia(an Nawawi)
berkata:”Imam Syafi’i lebih memilih, bagi imam dan makmum untuk
menyembunyikan bacaan dzikir mereka setelah sholat fardhu, kecuali jika
imam itu ingin agar makmum belajar (lafadz dzikir) darinya, maka dia
mengeraskan bacaan dzikirnya, sampai dia melihat para makmum untuk
berdzikir (sendiri-sendiri) lalu ia merendahkan (bacaan dzikirnya lagi).[8]
C. Syaikh Zainuddin bin Abdul ‘Aziz al-Malibari asy-Syafi’
Beliau di dalam Fathul Mu’in setelah membawakan pernyataan imam
Syafi’i sebelum ini secara lengkap dari kitab al Umm, maka ia
mengatakan:
( فائدة ) قال شيخنا أما المبالغة في الجهر بهما في المسجد بحيث يحصل تشويش على مصل فينبغي حرمتها.
“Faidah:Syaikh kami (Ibnu Hajar al Hatsami) mengatakan:”Adapun
bersuara kerasa pada keduanya (berdzir dan berdoa) di dalam masjid,
sehingga mengganggu orang yang sedang sholat, maka sepatutnya perkara
itu diharamkan.”[9]
Berkata Abu Hamid al Ghazali asy Syafi’i dalam Ihya’ Ulumuddin ketika menerangkan adab-adab dalam berdoa, ia menyebutkan[10]:
الرابع خفض الصوت بين المخافتة والجهر لما روى أن أبا موسى الأشعري قال
قدمنا مع رسول الله فلما دنونا من المدينة كبر وكبر الناس ورفعوا أصواتهم
فقال النبي صلى الله عليه وسلم يا أيها الناس إن الذي تدعون ليس بأصم ولا غائب إن الذي تدعون بينكم وبين أعناق ركابكم.
وقالت عائشة رضي الله عنه في قوله عز وجل ولا تجهر بصلاتك ولا تخافت بها
حديث عائشة في قوله تعالى ولا تجهر بصلاتك ولا تخافت بها أي بدعائك متفق
عليه أي بدعائك.
وقد أثنى الله عز وجل على نبيه زكرياء عليه السلام حيث قال إذ نادى ربه نداء خفيا.
وقال عز وجل ادعوا ربكم تضرعا وخفية.
“Yang keempat:Dengan merendahkan suara antara diam diam dan keras
(seperti seseorang yang berbisik), sebagaimana Abu Musa al-As’ariy
meriwayatkan:Kami (pernah) datang bersama Rosululloh, tatkala mendekati
kota Madinah ia bertakbir kemudian orang-orang pun bertakbir sambil
mengeraskan suara mereka. Sejurus kemudian Nabi Shollallahu ‘Alaihi wa
Sallam bersada:Wahai manusia, sesungguhnya Dzat yang kalian seru
bukanlah Dzat yang tuli dan jauh. Sesungguhnya Dzat yang kalian seru
berada di antara kalian dan leher-leher tunggangan kalian.[11]
‘Aisyah pernah berkata ketika menafsirkan firman Allah:
ولا تجهر بصلاتك ولا تخافت بها
“Dan janganlah kamu mengeraskan suaramu dalam shalatmu dan janganlah
pula merendahkannya.” (QS. Al Isra’ : 110) Maksud(dari kata) “dalam
shalatmu” adalah “dalam doamu” (kepada Allah).”
Allah juga telah memuji Nabi-Nya Zakariya dengan firman-Nya :
إذ نادى ربه نداء خفيا
“Yaitu tatkala ia berdoa kepada Robbnya dengan suara yang lemah lembut.”
(QS. Maryam : 3)
Allah juga berfirman:(QS. Maryam : 3)
ادعوا ربكم تضرعا وخفية
“Berdoalah kepada Robb kalian dengan merendahkan diri dan suara yang lembut.”
(QS. Al A’rof : 55)
(QS. Al A’rof : 55)
قوله أربعوا بفتح الموحدة أي ارفقوا قال الطبري فيه كراهية رفع الصوت بالدعاء والذكر وبه قال عامة السلف من الصحابة والتابعين
“Maksud dari sabda beliau di dalam hadist:”(اِرْبَعُوا)
adalah:”Kasihanilah (dirimu sendiri).” Imam ath-Thabari mengatakan:”Di
dalam hadist ini terdapat makruhnya mengeraskan suara ketika berdzikir
dan berdoa. Pendapat ini juga merupakan pendapat mayoritas para Salaf
dari kalangan sahabat dan tabi’in.”[12]
Setelah kita membaca dengan cermat pernyataan-pernyataan kedua imam
besar madzhab Syafi’i di atas masihkah tersisa dalam hati seorang yang
mengaku muslim dan sekaligus sebagai pengikut madzhab Syafi’i, untuk
terus mempertahankan cara dzikir yang diwarisi dari para gurunya, tetapi
jelas-jelas perkara itu menyalahi petunjuk Rosul, sahabat dan para
imam kaum muslimin.
8.2 Tahlilan
Apa itu tahlilan ?
Tahlilan adalah acara yang berkaitan dengan peristiwa kematian
seseorang lalu keluarga mayit bersama masyarakat sekitarnya mengadakan
pembacaan Al Qur an dan dzikir-dzikir tertentuberikut doa-doa yang
ditujukan untuk si mayit di alam kubur. Ritual ini dilakukan secara
berjama’ah dan dengan suara keras. Biasanya acara ini berlangsung tiga
atau tujuh hari berturut-turut setelah hari kematian. Kemudian diakhiri
dengan hidangan makanan yang lebih dari ala kadarnya. Dan acara ini juga
diselenggarakan lagi pada hari ke-40 dan ke-100 atau dilakukan setiap
tahun.[13]
Orang-orang yang melakukannya menganggap apa yang mereka amalkan ini
adalah termasuk bagian dari ibadah dalam Islam. Diantara alasan-alasan
yang mereka pakai sebagai landasan dari ibadah tersebut, yaitu :
- Acara ini adalah ibadah, karena ada pembacaan Al Qur an, dzikir-dzikir dan doa.
- Menenangkan hati keluarga si mayit.
- Mengingat kematian.
- Saling kunjung mengunjungi.
- Termasuk amalan ibadah pengikut madzhab Syafi’i.
Syari’at Islam dengan tegas telah mengharamkan acara tahlilan ini,
bahkan para imam besar dalam madzhab Syafi’i juga membenci bahkan
mengharamkannya. Hal ini bisa kita temukan dalam kitab-kitab tulisan
mereka.
Pertama :
عن جرير بن عبد الله البجلي قال : كنا نعد الاجتماع إلى أهل الميت وصنيعه الطعام بعد دفنه من النياحة
Dari Jarir bin Abdillah al Bajali berkata:”Kami(para sahabat Nabi)
bahwa berkumpul-kumpul di (rumah) keluarga mayit dan membuat makanan
setelah si mayit di kubur merupakan niyahah(meratapi mayat).”[14]
Kedua :وَرُوِيَ أَنَّ جَرِيرًا وَفَدَ عَلَى عُمَرَ ، فَقَالَ : هَلْ يُنَاحُ عَلَى مَيِّتِكُمْ ؟ قَالَ : لَا .
قَالَ : فَهَلْ يَجْتَمِعُونَ عِنْدَ أَهْلِ الْمَيِّتِ ، وَيَجْعَلُونَ الطَّعَامَ ؟ قَالَ : نَعَمْ .
قَالَ : ذَاكَ النَّوْحُ .
Dan telah diriwayatkan bahwasanya Jarir pernah bertamu kepada Umar, lalu Umar bertanya:”Apakah mayit kalian diratapi ?”
Jarir menjawab:”Tidak.”
Lalu Umar bertanya lagi:”Apakah orang-orang berkumpul di keluarga mayit dan membuat makanan ?”
Jarir menjawab:”Ya.”Maka Umar berkata:”Yang demikian adalah ratapan.”[15]
Sedangkan niyahah (meratapi) adalah salah satu perbuatan jahiliyah yang Kita dilarang untuk melakukannya.
Rosululloh bersabda:
أربع في أمتي من أمر الجاهلية لا يتركونهن الفخر في الأحساب والطعن في الأنساب والاستسقاء بالنجوم والنياحة
“Empat hal yang tidak ditinggalkan oleh umatku yang termasuk
perkara-perkara jahiliyah,berbangga-bangga dengan keturunan, mencela
nasab, mengatakan turunnya hujan dengan sebab munculnya bintang, dan niyahah (meratapi).”[16]
إِنَّ رَسُولَ اللهِ صلى الله عليه وسلم نَهَانَا عَنِ النِّيَاحَةِ.
“Sungguh Rosululloh Shollallahu ‘Alaihi wa Sallam melarang kita dari Niyahah.”[17]
ii. Sikap para ulama madzhab Syafi’i :
a. Imam asy Syafi’iBeliau pernah menyatakan :
وَأَكْرَهُ الْمَأْتَمَ وَهِيَ الْجَمَاعَةُ وَإِنْ لم يَكُنْ
لهم بُكَاءٌ فإن ذلك يُجَدِّدُ الْحُزْنَ وَيُكَلِّفُ الْمُؤْنَةَ مع ما
مَضَى فيه من الْأَثَرِ
“Dan aku membenci al ma’tam, yaitu berkumpul (di rumah keluarga
mayit), walaupun di tempat itu tidak ada tangisan, sebab acara
kumpul-kumpul tersebut bisa membangkitkan lagi kesedihan mereka dan
membebani (keluarga mayit) serta bertentangan dengan atsar yang telah
berlalu (atsar dari Jarir di atas).”[18]
وأما اصلاح اهل الميت طعاما وجمع الناس عليه فلم ينقل فيه شئ وهو بدعة غير مستحبة
”Adapun hidangan yang dibuat keluarga mayit dan berkumpulnya manusia
untuk hidangan itu, maka hal seperti itu tidaklah dinukil sedikit pun
keterangannya(dalil), tidak disunahkan dan itu adalah bid’ah.”[19]
قال الشافعي وأصحابنا رحمهم الله : يكره الجلوس للتعزية (1) قالوا :
يعني بالجلوس أن يجتمع أهل الميت في بيت ليقصدهم من أراد التعزية ، بل
ينبغي أن يتصرفوا في حوائجهم ولا فرق بين الرجال والنساء في كراهة الجلوس
لها ، صرح به المحاملي ، ونقله عن نص الشافعي رضي الله عنه ، وهذه كراهة
تنزيه إذا لم يكن معها محدث آخر ،فإن ضم إليها أمر آخر من البدع المحرمة
كما هو الغالب منها في العادة ، كان ذلك حراما من قبائح المحرمات ، فإنه
محدث.
وثبت في الحديث الصحيح : ” إن كل محدث بدعة وكل بدعة ضلالة “.
“Asy Syafi’i dan sahabat-sahabat kami rohimahumulloh
berkata:”Dibencinya duduk-duduk pada saat ta’ziyah. Mereka
berkata:”Yakni duduk-duduk untuk berkumpulnya keluarga ahli mayit dalam
satu rumah, agar orang-orang yang berkeinginan berta’ziyah dapat
mengunjungi mereka tetapi orang-orang yang berta’ziyah ini hendaknya
segera pergi untuk memenuhi keperluan mereka sendiri (setelah
berta’ziyah). Tidak ada perbedaan antara laki-laki dan wanita mengenai
dimakruhkannya duduk-duduk acara itu (ta’ziyah). Al-Mahamili menegaskan
tentang hal itu dan ia menukil pernyataan dari asy Syafi’i. Ini
adalah suatu larangan yang amat keras, jika bersama acara itu
(ta’ziyah) tidak ada perkara yang muhdats (bid’ah) yang lain. Apabila
bergabung bersama acara itu perkara lain yang termasuk dalam suatu
perbuatan bid’ah yang diharamkan, sebagaimana yang biasa terjadi dalam
tradisi, maka perbuatan itu adalah haram, termasuk dari seburuk-buruknya
perkara haram. Karena sesungguhnya itu adalah muhdats.
Dan telah dijelaskan dalam hadist shohih bahwa “Sesungguhnya setiap yang
baru adalah bid’ah dan setiap bid’ah adalah sesat.”[20]
c. Abu Bakar bin Muhammad Syathho ad-Dimyathi
Beliau berkata di dalam kitabnya Hasyiyah I’anah ath-Tholibin :
1- ما يفعله الناس من الاجتماع عند أهل الميت وصنع الطعام، من البدع المنكرة التي يثاب على منعها والي الامر، ثبت الله به قواعد الدين وأيد به الاسلام والمسلمين.
2- ويكره اتخاذ الطعام في اليوم الاول والثالث وبعد الاسبوع، ونقل الطعام إلى القبر في المواسم
3- ومن البدع المنكرة والمكروه فعلها: ما يفعله الناس من الوحشة والجمع والاربعين، بل كل ذلك حرام
1 –Berkumpulnya manusia dan menyelenggarakan jamuan makanan di keluarga ahli mayit, adalah termasuk bid’ah yang mungkar.
Bagi siapa yang melarangnya akan diberi ganjaran oleh waliyul amr.
Semoga Allah menguatkan pondasi-pondasi agama dan mengokohkan Islam dan
kaum muslimin melalui mereka (waliyul amr)“[21]
2 –Dan dibenci menyeleggarakan jamuan makan pada
hari pertama, ketiga sesudah seminggu. Dan memindahkan makanan ke
kuburan secara musiman (seperti peringatan khaul)“[22]
3 –Dan di antara bid’ah yang mungkar dan dibenci ialah perkara yang
dilakukan manusia, ketika menyampaikan duka cita, berkumpul pada hari
ke-40, bahkan semua perkara itu adalah haram.“[23]
d. Syaikh Romli
Beliau berkata dalam Hasyiyah Qulyubiy ‘alaa Syarh Jalaluddiin al-Mahalliy ‘alaa Minhaj ath-Tholibin:
ومن البدع المنكرة المكروه فعلها . كما في الروضة ما
يفعله الناس مما يسمى بالكفارة , ومن صنع طعام للاجتماع عليه قبل الموت أو
بعده , ومن الذبح على القبر , بل ذلك كله حرام
“Dan di antara bid’ah yang mungkar dan dibenci yang diamalkan.
Sebagaimana yang diterangkan di kitab ar Roudhoh (imam Nawawi), yaitu
apa yang dilakukan manusia berupa menghidangkan makanan dalam acara
kumpul-kumpul di rumah ahli mayit baik sebelum atau sesudah kematian,
serta penyembelihan di pekuburan, semua perkara itu adalah haram.[24]
Coba kita perhatikan perkataan-perkatan para sahabat dan para imam kaum
muslimin di atas yang merupkan imam yang sangat dikenal di negeri kita,
yang mayoritas muslimnya mengaku bermadzhab Syafi’i.
Hanya sekedar berkumpul-kumpul duduk-duduk dan keluarga mayit
menyediakan makanan kepada orang yang datang saja sudah dianggap hal
yang dibenci oleh para ulama dan para sahabat pun sudah menggolongkan
itu termasuk bagian dati meratap. Lalu bagaimna jika mereka melihat pada
masa ini, di mana kemungkaran demi kemungkaran, bid’ah demi bid’ah
lebih banyak terjadi dengan adanya acara tahlilan lalu ditambah lagi
dengan ketentuan acaranya harus pada hari tertentu, bacaannya pun
tertentu dan lain-lain, maka sudah jelas akan lebih besar lagi kecaman
yang akan mereka katakan (jika mereka hidup di zaman ini), meskipun
orang-orang yang hidup di zaman ini mengaku dan mengklaim bahwa mereka
juga mengikuti madzhab Syafi’i. Alangkah jauhnya perbedaan anata mereka
dengan imam asy Syafi’i dan para ulama yang mengikutinya.[25]
Seseorang terkadang telah mengetahui dan memahami dengan jelas
dalil-dalil yang mengharamkan tahlilan, tetapi para pelaku tahlilan yang
belum mendapat hidayah ini akan membantah dan memunculkan banyak alasan
untuk tetap bersikukuh dangan amalan mereka itu.
8.3 Yasinan
Ini adalah salah satu amalan yang disukai oleh sebagian kaum muslimin di Indonesia. Setiap malam jum’at bisanya mereka akan berkumpul di masjid/rumah untuk membaca surat yasin yang sering dibaca bersama tahlil. Padahal hadist-hadist yang berbicara tentang yasin sebagian besarnya adalah lemah bahkan palsu/maudhu’. Dan apakah para Salaf as-Sholih pernah mengamalkannya dalam perjalanan dakwah mereka ?Hadist-hadist tersebut adalah sebagai berikut :
- Hadist pertama
من قرأ يس في ليلة ابتغاء وجه الله غفر له
“Barangsiapa yang membaca surat yasin pada malam hari, maka dia akan diampuni dosanya di pagi harinya.”
Ibnul Jauzi mengomentari bahwa hadist ini batil tidak ada asalnya.[26]- Hadist kedua
من قرأ { يس } مرة فكأنما قرأ القرآن عشر مرات .
“Barangsiapa membaca surat Yaasin satu kali seakan-akan ia telah membaca Al Qur an sebanyak 10 kali.”[27]
Keterangan: HADIST INI (مَوْضُوْعٌ) PALSU- Hadist ketiga
إِنَّ لِكُلِّ شَيْئٍ قَلْبًا وَإِنَّ قَلْبَ الْقُرْآنِ يس , مَنْ قَرَأَهَا فَكَأَنَّمَا قَرَأَ الْقُرْآنَ عَشَرَمَرَّاتٍ.
“Sesungguhnya tiap-tiap sesuatu mempunyai hati dan hati (inti) Al Qur
an itu ialah Yaasin. Barangsiapa yang membacanya, maka Allah akan
memberikan pahala bagi bacaannya seperti pahala membaca Al Qur an
sepuluh kali.”[28]
Keterangan: HADIST INI (مَوْضُوْعٌ) PALSU
+ Hadist ini diriwayatkan oleh at Tirmidzi (4/46), dan ad Darimi
(II/456), dari jalan Humaid bin Abdurrahman, dari al Hasan bin Sholih,
dari Harun Abu Muhammad, dari Muqotil bin Hayyan (yang benar Muqotil bin
Sulaiman) dari Qotadah secara marfu’.
+ Dalam hadist ini terdapat dua rowi yang LEMAH:1. Harun Abu Muhammad.
Berkata at-Tirmidzi:”Harun Abu Muhammad majhul (tidak dikenal)
2. Muqotil bin Hayyan
Ibnu Abi Hatim berkata dalam al ‘Ilal (II/55-56):”Aku bertanya kepada
ayahku tentang hadist ini. Beliau menjawab:’Muqotil yang disebutkan
dalam sanad hadist ini adalah Muqotil bin Sulaiman, aku mendapati hadist
ini di awal kitab yang disusun oleh Muqotil bin Sulaiman. Hadist ini adalah hadist yang batil, tidak ada asalnya.’”
Periksa: Silsilah al Ahadiits ad-Dho’ifah wal Maudhu’ (Jilid I, hal. 312-313)- Hadist keempat
من قرأ { يس } كل ليلة غفر له .
“Barangsiapa membaca surat Yaasin setiap malam, niscaya dosanya diampuni.”[29]
Keterangan: HADIST INI LEMAH
Dalam membahas yasinan tidaklah lengkap kalau tidak menyertakan hadist-hadist yang dipakai sebagian muslimin untuk mengamalkannya, dengan hal-hal yang berkaitan dengan pahala bagi mayit.
- Hadist pertama
من زار قبر والديه كل جمعة فقرأ عندهما أو عنده { يس } غفر له بعدد كل آية أو حرف .
“Barangsiapa menziarahi kubur kedua orang tuanya setiap jum’at dan
membacakan surat Yaasin di sisi kubur keduanya atau salah satunya, maka
akan diampuni (dosa)nya sebanyak ayat atau huruf yang dibacanya.”[30]
Keterangan: HADIST INI (مَوْضُوْعٌ) PALSU
Diriwayatkan oleh Ibnu ‘Adiy (I/286), dan Abu Nu’aim dalam Akhbaru
Ashbahan (II/344-345) dan Abdul Ghoniy al Maqdisi dalam Sunannya
(II/91) dari jalan Abu Mas’ud Yazid bin Khalid. Teah menceritakan kepada
kami ‘Amr bin Ziyad telah menceritakan kepada kami Yahya bin Salim ath
Thoif dari Hisyam bin Urwah dari ayahnya dari ‘Aisyah dari Abu Bakar
secara marfu’.
- Hadist keduaمن قرأ { يس } ابتغاء وجه الله غفر الله له ما تقدم من ذنبه فاقرءوها عند موتاكم .
“Barangsiapa membaca surat Yaasin bertujuan mencari wajah Allah,
niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosanya yang telah lalu. Maka
bacakanlah surat itu pada orang yang mati di antara kalian.”[31]
Keterangan: HADIST INI LEMAH* KESIMPULAN
Pemaparan singkat di atas sudah cukup jelas bagi kita untuk
mengatakan bahwa hadist-hadist yang menerangkan keutamaan surat Yaasin
adalah berderajat lemah bahkan palsu. Padahal pada prinsip ibadah
menurut Ahlussunnah wal Jama’ah yang ke-6 pada pembahasan sebelumnya
telah dijelaskan bahwa para ulama melarang hadist dho’if dan maudhu’
sebagai landasan untuk beramal.
8.4 Bid’ah Maulid Nabi Muhammad Shollallahu ‘Alaihi wa Sallam
Maulid Nabi adalah perayaan memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad yang diadakan pada tanggal 12 robi’ul awwal oleh sebagian besar kaum muslimin. Meraka akan mengadakan berbagai acara untuk menyambut hari besar tersebut. Namun apakah amalan yang mereka lakukan itu ada tuntunannya dalam Islam ? Bagaimanakah sebenarnya sikap para ulama ahlussunnah terhadap perayaan tersebut ? Namun dalam tulisan ini penulis hanya akan membahas permasalahan-permasalahan di atas dengan ringkas saja, para pembaca bisa mendapatkan penjelasannya yang lebih lus dalam buku-buku yang dijadikan referensi penulis.
Dari penjelasan terdahulu sudah kita singgung bahwa suatu amalan
ibadah di dalam agama Islam, haruslah memiliki dua landasan utama. Yakni
ikhlas dan mengikuti petunjuk Rosululloh. Apabila para pelaku dan
penggemar maulidan mengaku melakukan maulid dengan dasar ikhlas
semata-mata karena Allah, maka tinggal syarat kedua yaitu apakah amalan
mereka itu pernah ditunjukkan oleh Rosululloh sudah terpenuhi.
Jawabannya adalah apabila amal itu suatu kebaikan yang disyari’atkan
tentunya Nabilah orang pertama yang akan menyeleggarakan cara tersebut.
Seandainya cara itu suatu kebaikan dalam agama tentu Abu Bakar dan Umar
akan bersegera untuk mengadakannya. Karena sebagai dua orang sahabat
yang terdekat dan utama mereka berdua juga mertua Rosululloh. Seandainya
maulidan adalah suatu hal yang disyari’atkan pasti para istri beliau,
para ahli bait serta para sahabat yang dikenal dengan kecintaaan mereka
yang sangat luar biasa terhadap Rosulnya pasti akan menjadi orang-orang
pertama yang akan memulai peringatan kelahiran Nabi mereka yang sangat
mereka agungkan dan muliakan.
Tapi kenyataannya tidak ada satupun riwayat dari mereka semua yang
menyebutkan bahwa mereka memperingati, mengadakan atau merayakan hari
kelahiran beliau. Bisakah anda menuduh bahwa mereka sengaja membuat umat
lupa terhadap hari kelahiran beliau ? Buktinya para ulama sendiri
berselisih pendapat tentang tanggal pasti kelahiran beliau.[32]
i. Sikap para ulama tentang perayaan maulid Nabi
- Sikap Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah.Beliau berkata:
وَأَمَّا اتِّخَاذُ مَوْسِمٍ غَيْرِ الْمَوَاسِمِ الشَّرْعِيَّةِ كَبَعْضِ لَيَالِي شَهْرِ رَبِيعٍ الْأَوَّلِ الَّتِي يُقَالُ : إنَّهَا لَيْلَةُ الْمَوْلِدِ أَوْ بَعْضِ لَيَالِيِ رَجَبٍ …فَإِنَّهَا مِنْ الْبِدَعِ الَّتِي لَمْ يَسْتَحِبَّهَا السَّلَفُ وَلَمْ يَفْعَلُوهَا وَاَللَّهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى أَعْلَمُ .
“Adapun perbuatan mengadakan perayaan tahunan yang tidak pernah
ditetapkan di dalam ajaran Islam seperti yang biasa diarayakan pada
sebagian malam pada bulan Rabi’ul Awwal, yang disebutkan bahwa itu
adalah malam maulidan, atau yang biasa dikerjakan di sebagian malam di
bulan Rajab …semua itu termasuk dari perbuatan bid’ah yang tidak disukai
oleh para Salaf dan mereka tidak pernah melakukannya, wallohu a’lam.[33]
- Sikap imam SyatibiBeliau berkata dalam al I’tishom:
ومنها : التزام الكيفيات والهيئات المعينة ، كالذكر بهيئة الاجتماع على صوت واحد ، واتخاذ يوم ولادة النبي صلى الله عليه وسلم عيداً ، وما أشبه ذلك .
“Dan di antara hal yang masuk ke dalam perkara bid’ah ini adalah
mengadakan kaifiyat (cara), hai-at (keadaan) tertentu di dalam
beribadah, seperti mengadakan dzikir dengan cara berkumpul sambil
dikomandoi oleh seseorang, atau mengadakan perayaan pada hari kelahiran
Nabi (maulidan) atau yang semisal dengan itu.”[34]
-Sikap para ulama Lajnah Daa-imah
Para ulama kerajaan Saudi Arabia yang terkumpul dalam Lajnah
Daa-imah, yang diketuai oleh Syaikh Abdul Aziz bin Baz, wakil syaikh
‘Abdurrozaq ‘Afifi dan para anggotanya : Syaikh Abdullah bin Qu’ud dan
Syaikh Abdullah bin Ghudyan. Mereka pernah ditanya dalam pertanyaan no
8340 demikian:
لدينا ميدان عام يقام فيه احتفال المولد النبوي، هل تجوز صلاة العيد أو صلاة الاستسقاء فيه؟
“Di tempat kami tinggal ada sebuah lapangan umum, yang biasa dipakai
untuk maulid Nabi, apakah diperbolehkan untuk diselenggarakan sholat ‘id
dan sholat istisqo’ di situ ?”
Kemudian mereka menjawabnya:تجوز صلاة الاستسقاء وصلاة العيدين فيه، وإذا تيسرت الصلاة في غيره كان أولى، مع العلم بأن الاحتفال بالموالد بدعة يجب تركها؛ لأن النبي صلى الله عليه وسلم لم يفعله، ولا خلفاؤه الراشدون ولا بقية الصحابة رضي الله عنهم، ولا أتباعهم بإحسان في القرون الثلاثة المفضلة، ولأنه من وسائل الغلو والشرك بصاحب المولد.
Diperbolehkan untuk menyelenggarakan sholat istisqo’ dan sholat ‘id
di tempat tersebut, namun apabila dirasa lebih mudah untuk melaksanakan
sholat tadi di tempat yang lain, maka itu lebih utama. Sebagaimana
dikertahui perayaan maulid Nabi merupakan perkara yang bid’ah dan wajib
untuk ditinggalkan. (Alasan pertama) Karena Nabi Shollallahu ‘Alaihi wa
Sallam tidak pernah merayakannya, juga para khulafaur Rosyidin serta
para sahabat yang lain. Demikian pula para ulama Tabi’in yang hidup pada
kurun waktu yang utama, (kedua) Karena perayaan maulid Nabi dan
maulid-maulid yang lainnya itu merupakan sarana yang dapat menjerumuskan
seseorang ke dalam perbuatan Ghuluw (berlebih-lebihan) terhadap
seseorang dan juga dapat menjerumuskan de dalam perbuatan syirik.[35]
Salah satu alasan yang sering mereka gembar-gemborkan sebagai
pembenar amalan mereka ini adalah orang pertama yang melakukan dan
menyebarkan perayaan maulid Nabi adalah Shalahuddin al Ayyubi, seorang
raja yang berhasil menguasai Baitul Maqdis dari tangan kaum salibis,
pada waktu perang salib.
Tetapi di dalam buku Benarkah Shalahuddin al-Ayyubi Merayakan Maulid
Nabi Shollallahu ‘Alaihi wa Sallam tulisan Ibnu Saini bin Muhammad bin
Musa., beliau memaparkan serangkaian data-data yang bersumber dari
kitab-kitab tulisan para ulama yang terpercaya, yang ternyata
menunjukkan bahwa orang yang melakukan dan menyebarkan maulid Nabi
adalah para penguasa kerajaan ‘Ubaidiyah(yang dikenal dengan kerajaan
Fathimiyah) yang beragama Syi’ah Rofidhoh Bathiniyyah Isma’iliyyah, yang
telah dihukumi kafir murtad dari Islam oleh sejumlah ulama seperti,
Ibnul Jauzi, Ibnu Taimiyah, Adz-Dzahabi dan ulama lainnya.[36]
Di antara alasan-alasan para ulama melarang perayaan maulidan sebagai berikut[37] :- Kesepakatan para ulama Salaf untuk tidak merayakan maulidan dan untuk meninggalkannya.
- Maulidan adalah sarana yang dapat menjerumuskan seseorang kepada perbuatan syirik akbar.
- Maulidan adalah perbuatan bid’ah, maka masuk ke dalam larangan agama.
- Maulidan termasuk perbuatan menyerupai orang-orang kafir.
- Banyaknya kemungkaran yang terjadi dalam acara perayaan maulidan.
- Maulidan adalah salah satu hal yang menyebabkan seseorang melalaikan kewajiban agama.
- Maulidan termasuk perbuatan mubazir.
- Maulidan hanyalah membuang waktu percuma.
[1] HR. Malik, al Muwattho’, no. 3338, Bab an Nahya ‘an al Qoul bi al Qodar, juz 5, hal. 1321, Maktabah Syamilah.
[2] HR. Bukhori, Bab at Takbir ‘inda al Harbi, no. 2991, juz 4, hal. 57, Maktabah Syamilah
[3] Ad Darimi, Sunan ad Darimi, juz 1, hal 79, lihat pula Muhammad Nashiruddin al Albani, Silsilah as Shohihah, juz 5, hal 11, dan lihat pula Abu al Fadhl as Sayyid abu al Mu’athi an Nawari, Al Musnad al Jami’, juz 28, hal. 379, Maktabah Syamilah
[4] Muhammad Nashiruddin al Albani, Silsilah as Shohihah, juz 5, hal 11, Maktabah Syamilah
[5] Abu Ubaidah al Atsari, “Gema Dzikir Bersama”, Majalah al Furqon, Edisi I, tahun IV, 2005, hal. 15-17.
[6] Muhammad bin Idris asy Syafi’i, al Umm, al Manshuroh; Dar al Wafa’, 2005 M/1426 H, Cet. II, juz 2, hal. 288
[7] HR. Bukhori, Bab adz Dzikru Ba’da Sholah, no. 841, juz 1, hal. 168, Maktabah Syamilah
[8] An Nawawi, Syarh an Nawawi ‘Ala Shohih Muslim, juz 5, hal 84, Maktabah Syamilah
[9] Zainuddin bin ‘Abdul ‘Aziz al Malibari, Fathul Mu’in, juz 1, hal. 186, Maktabah Syamilah
[10] Abu Hamid al ghazali, Ihya’ Ulumuddin, Kitab al Adzkar wa ad-Da’awaat, juz 2, hal. 95, Maktabah Syamilah
[11] HR. Abu Daud, bab Fii al Istighfar, no. 1528, juz 1, hal. 561, Maktabah Syamilah
[12] Ibnu Hajar, Fathul Bari, Qouluhu bab Maa Yukrohu min Rof’i as-Shout fii at-Takbir, no. 2830, juz 6, hal 135, Maktabah Syamilah
[13] Abu Ihsan al Atsari, Bincang-bincang Seputar Tahlilan Yasinan & Maulidan, Solo;at-Tibyan, 2010, Cet. XII, hal. 83.
[14] HR. Ahmad, no. 6611, juz 14, hal. 149, Maktabah Syamilah
[15] Ibnu Qudamah, al Mughni fii Fiqhi al Imam Ahmad bin Hambal asy Syaibani, juz 2, hal. 413, Maktabah Syamilah
[16] HR. Muslim, Bab at Tasydiid fii an Niyahah, no. 29, juz 2, hal. 644, Maktabah Syamilah
[17] HR. Abu Daud, Bab Fii an Nauh, no. 3127, juz 3, hal. 193, Maktabah Syamilah
[18] Asy Syafi’i, al Umm, Bab al Qiyam lil Janaazah, juz 1, hal. 279
[19] Imam an Nawawi, al Majmu’ Syarah Muhadzdzab, Bab at Ta’ziyah wa al Buka’ ‘alal Mayyit, juz 5, hal. 320, Maktabah Syamilah
[20]An Nawawi, al Adzkar an Nawawiyah, hal. 149-150, Maktabah Syamilah.
[21]Ad Dimyathi, Hasyiyah I’anah ath Tholibin, juz 2, hal. 165, Maktabah Syamilah.
[22] Ibid, hal. 166
[23]Ibid, hal. 165-166
[24]Ahmad bin Salamah al Qulyubiy, Hasyiyah Qulyubiy ‘alaa Syarh Jalaluddiin a -Mahalliy ‘alaa Minhaj ath Tholibin, juz 1, hal. 414, Maktabah Syamilah
[25] Najmi bin Umar Bakkar, Tahlilan Menurut Para Sahabat Nabi Imam Syafi’i, Ulama Asy Syafi’iyyah, dan yang lainnya, Depok;Jadid Pustaka, 2010, hal 30-31
[26] Ibnul Jauzi, al Maudhu’aat, hal. 247, Maktabah Syamilah
[27]Muhammad Nashiruddin al Albani, Dho’if al Jami’ ash Shoghir, no. 5786, Beirut;Maktabah al Islami, 1990 M/1410 H, Cet. III, hal. 835
[28] Muhammad Nashiruddin al Albani, Silsilah al Ahadiits ad Dho’ifah wal Maudhu’, no. 169, Riyadh;Maktabah al Ma’arif, 2000 M/1420 H, Cet. 2, Jilid I, hal. 312
[29]Muhammad Nashiruddin al Albani, Dho’if al Jami’ ash Shoghir, no. 5788, hal. 835
[30]Muhammad Nashiruddin al Albani, Silsilah al Ahadiits ad Dho’ifah wal Maudhu’, no. 50, hal. 126
[31]Ibid, no. 5785, hal. 834
[32] Abu Ihsan al Atsari, Bincang-bincang Seputar Tahlilan Yasinan & Maulidan, hal. 102
[33] Ahmad bin Taimiyyah, Majmu’ Fatawa, 1997 M/1418 H, Juz 25, hal. 298
[34] Syatibi, al I’tishom, al Mamlakah al ‘arobiyyah as Su’udiyyah;Dar Ibn ‘Affan, 1995 M/ 1416 H, Cet. IV, hal. 53
[35] Ahmad bin ‘Abdurrozaq ad Duwaisy, Fatawa Lajnah Daa-imah, Riyadh;Dar al ‘Ashimah, 1996 M/1416 H, Juz 8, Cet. I, hal. 329
[36] Ibnu Saini, Benarkah Shalahuddin al-Ayyubi Merayakan Maulid Nabi Shollallahu ‘Alaihi wa Sallam, Jakarta;Maktabah Mu’awiyah, 2009, Cet. I, hal. 25-53
[37] Ibid, hal. 113-122
Tidak ada komentar:
Posting Komentar