Dunia di Tanganku
Bukan di Hati dan Jiwaku
Zuhud Terhadap Dunia dan Kehinaannya
26 Ramadhan 1433 H/ 14 Agustus 2012
- Pendahuluan
Allah Ta’ala berfirman :
الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا.المائدة :3
"Pada hari ini telah Aku sempurnakan agamamu untukmu, dan telah Aku cukupkan nikmat-Ku bagimus, dan telah Aku ridhai Islam sebagai agamamu." (Al Maidah : 3)
[ ومن أحدث في هذه الأمة شيئاً لم يكن عليه سلفها فقد زعم أن رسول الله( خان الدين لأن الله تعالى يقول :
( الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ ) فما لم يكن يومئذ ديناً لا يكون اليوم ديناً]
ولأن الله سبحانه وتعالى أخبر بأن الشريعة قد كملت قبل وفاة النبي . فلا
يتصور أن يجيء إنسان ويخترع فيها شيئاً لأن الزيادة عليها تعتبر استدراكاً
على الله سبحانه وتعالى وتوحي بأن الشريعة ناقصة وهذا يخالف ما جاء في
كتاب الله
"Dan barangsiapa yang mengadakan sesuatu perkara agama yang baru dalam umat ini, sedangkan perkara agama itu tidak pernah ada pada jaman orang-orang terdahulu (jaman sahabat, tabi'in dan tabi'ut tabi'in),
Sunguh ia telah menyangka bahwa Rasulullah mengkhianati agama. Karena Allah Ta'ala berfirman:
" Pada hari ini telah Aku sempurnakan agamamu."
Maka segala sesuatu pada har itu bukan termasuk dalam perkara agama, pada hari ini bukan pula termasuk bagian dari agama.
Sebab Allah Subhanahu wa Ta'ala telah menginformasikan bahwa syari'at sudah sempurna sebelum Nabi Muhammad wafat. Sehingga tidak akan ada seorang pun yang datang membuat suatu perkara agama yang baru.
Sesuatu penambahan dalam syari'at dianggap sebuah bentuk penentangan kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala, serta menuduh bahwa syari'at ada yang kurang. Hal ini menyelisihi dengan apa yang ada di dalam Kitabullah."
Anjuran -Anjuran Zuhud
a. Dari Ayat-Ayat Al-Qur an :
يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمْ وَاخْشَوْا يَوْمًا لَا
يَجْزِي وَالِدٌ عَنْ وَلَدِهِ وَلَا مَوْلُودٌ هُوَ جَازٍ عَنْ وَالِدِهِ
شَيْئًا إِنَّ وَعْدَ اللَّهِ حَقٌّ فَلَا تَغُرَّنَّكُمُ الْحَيَاةُ
الدُّنْيَا
وَلَا يَغُرَّنَّكُمْ بِاللَّهِ الْغَرُورُ
"Wahai manusia! Bertakwalah kepada Tuhanmu dan takutlah pada hari yang (ketika itu) seorang bapak tidak dapat menolong anaknya, dan seorang anak tidak dapat (pula) menolong bapaknya sedikit pun. Sungguh, janji Allah pasti benar, maka janganlah sekali-kali kamu terpedaya oleh kehidupan dunia, dan jangan samlai kamu terpedaya oleh penipu dalam (menaati) Allah."
(QS. Luqman : 33)
يأيها الناس إن وعد الله حق فلا تغرنكم الحَيوة الدنيا ولا يغرنكم بالله الغرورُ.:
"Wahai manusia! Sungguh, janji Allah itu benar, maka janganlah kehidupan dunia memperdayakan kamu dan janganlah (setan) yang pandai menipu, memperdayakan kamu tentang Allah."
(QS. Fathir : 5)
عَنْ سَهْلِ بْنِ سَعْدٍ السَّاعِدِيِّ قَالَ أَتَى النَّبِيَّ صَلَّى
اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَجُلٌ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ دُلَّنِي
عَلَى عَمَلٍ إِذَا أَنَا عَمِلْتُهُ أَحَبَّنِي اللَّهُ وَأَحَبَّنِي
النَّاسُ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
:ازْهَدْ فِي الدُّنْيَا يُحِبَّكَ اللَّهُ وَازْهَدْ فِيمَا فِي أَيْدِي
النَّاسِ يُحِبُّوكَ.[2
Dari Sahl bin Sa'id as Sa'idiy berkata:"Seorang pria mendatangi Nabi Shallahu 'alaihi wa Sallam, lalu dia berkata, wahai Rasulullah tunjukan padaku sebuah amal perbuatan, jika aku mengamalkannya Allah dan manusia akan mencintaiku !" Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam menjawab:"Bersikap uhudlah dengan dunia dan dengan semua yang ada pada tangan-tangan manusia,
niscaya mereka akan mencintaimu."
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ :الدُّنْيَا سِجْنُ الْمُؤْمِنِ وَجَنَّةُ الْكَافِرِ[3
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam bersabda:"Dunia merupakan penjara bagi orang mukmin dan surga bagi orang kafir."
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ :إن مما أخاف عليكم من بعدي ما يُفْتحُ عليكم من زَهرَةِ الدنيا و زينتها[4
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam bersabda:"Sungguh termasuk yang aku khawatirkan akan terjadi pada kalian setelah aku tiada, adalah jika dibukakan untuk kamu perhiasan-perhiasan dunia."
- Kehinaan Dunia
زُيِّنَ لِلنَّاسِ حُبُّ الشَّهَوَاتِ مِنَ النِّسَاءِ
وَالْبَنِينَ وَالْقَنَاطِيرِ الْمُقَنْطَرَةِ مِنَ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ
وَالْخَيْلِ الْمُسَوَّمَةِ وَالْأَنْعَامِ وَالْحَرْثِ ذَلِكَ مَتَاعُ
الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَاللَّهُ عِنْدَهُ حُسْنُ الْمَآَبِ
"Dijadikan terasa indah dalam pandangan manusia cinta terhadap apa yang diinginkan, berupa perempuan-perempuan, anak-anak, harta benda yang bertumpuk dalam bentuk emas dan perak, kuda pilihan, hewan ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik." (QS. Al Imran : 14)
وما هذه الحَيَوةُ الدنيا إلا لهوولعبٌ وإن الدار الأخرةَ لَهِى الحيوان لو كانُوا يعلمون.
"Dan kehidupan dunia ini hanya sendau gurau dan permainan. Dan sesungguhnya negeri akhirat itulah kehidupan yang sebenarnya, sekiranya mereka mengetahui." (QS. Al Ankabut : 64)
b. Dari Hadist-Hadist Nabawiyah :
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : وَاللَّهِ
مَا الدُّنْيَا فِي الْآخِرَةِ إِلَّا مِثْلُ مَا يَجْعَلُ أَحَدُكُمْ
إِصْبَعَهُ
هَذِهِ فِي الْيَمِّ فَلْيَنْظُرْ بِمَ تَرْجِعُ .[5
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam bersabda:"Demi Allah, Pemisalan dunia dibanding akhirat ialah seperti seseorang di antara kalian mencelupkan jarinya ini ke laut,
maka lihatlah berapa yang ada (di jarinya)."
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ :لَوْ كَانَتْ
الدُّنْيَا تَعْدِلُ عِنْدَ اللَّهِ جَنَاحَ بَعُوضَةٍ مَا سَقَى كَافِرًا
مِنْهَا شَرْبَةَ مَاءٍ.[6
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam bersabda:"Seandainya dunia di sisi Allah sebanding dengan sayap seekor nyamuk, niscaya Allah tidak akan memberi air minum
seteguk pun kepada seorang kafir."
- Permasalahan Tentang Zuhud
- i. Pandangan Manusia Tentang Zuhud
Orang awam yang jenuh dengan gemerlap dunia, atau muak melihat kepalsuan serta tipu muslihat dunia dan ingin mendapatkan ketentraman rohani, mungkin akan mudah terperangkap dalam pengertian zuhud di atas. Ia akan lahap untuk mendengarkan secara salah ayat-ayat, hadis-hadis serta ceramah-ceramah yang berisi celaan terhadap dunia. Asal berbau dunia semuanya buruk dan negatif. Akhirnya akan berasumsi bahwa keselamatan akhirat hanya dapat diraih dengan meninggalkan dunia, meninggalkan pekerjaan dan bermalas malasan dengan dalih ibadah.[7]
Di pihak yang lain ada sebagian orang yang beranggapan bahwa zuhud sangat sulit dan menyusahkan atau malah tidak akan bisa diamalkan pada zaman yang serba modern ini. Karena manusia pasti akan sangat memerlukan dunia di dalam setiap sisi-sisi kehidupannya, dan tidak mungkin baginya untuk mampu berlepas diri dari dunia itu.
ii. Sikap – sikap Radikalisme Dalam Menyikapi Dunia Yang Tidak Sesuai Sunnah Rosululloh[8]
Dalam pembahasan ini tidak semua penyimpangan dalam perkara zuhud kami bahas karena terbatasnya ilmu dan tempat, melainkan kami cukupkan pada 3 hal yang kami pandang perlu untuk disebutkan secara ringkas di sini. Yaitu, penyucian jiwa dan penyiksaan diri, penyucian jiwa dan zuhud, penyucian jiwa dan mengasingkan diri, serta penyucian jiwa dan kerahiban.
Pertama, penyucian jiwa dan penyiksaan diri. Di antaranya adalah kata-kata Sya’rani saat membahas sebagian guru sufi yang selalu melakukan mujahadah,”Aku mengarungi kehidupan dengan memaksakan kesulitan pada permulaanku. Tidak kutinggalkan satu kesusahan kecuali kutunggangi. Pakaianku adalah jubah bulu domba. Kain kumal ada di kepalaku. Aku berjalan telanjang kaki di atas duri dan sejenisnya. Makananku sayur-sayuran kering dan lembaran kubis dari tepian sungai. Berkali-kali aku berpura-pura bisu dan gila supaya manusia menjauh dariku, agar mereka tidak menyibukkanku dari Robbku.”
Kedua, penyucian jiwa dan zuhud. Sebagian orang berkeyakinan bahwa dunia dunia dan akhirat akan selalu bermusuhan selamanya. Mengusahakan salah satunya berarti menyia-nyiakan yang satunya lagi. Maka siapa yang menghendaki akhirat harus mengabaikan dunianya. Dan dasar-dasar penyucian jiwa adalah kemiskinan, kelaparan, dan hidup sengsara. Sya’rani mengatakan bahwa seseorang yang benar-benar ingin menyucikan jwanya dengan zuhud terhadap dunia, dia harus bangga dengan kemiskinan jika menghadapinya.
Sikap-sikap radikal dalam memandang dunia terutama mengenai harta pada sebagian orang juga sangat berlebihan. Seperti perkataan mereka,”Barangsiapa mencari rizki, ia telah condong kepada dunia.” Mereka juga berkata,”Janganlah engkau sibuk dengan rezeki yang dijamin oleh kerja yang diperintahkan,namun sibuklah dengan sesuatu yang kelak engkau akan dimintai pertnggungjawaban tentang sesuatu tersebut. Tinggalkan berlebih-lebihan karena kelak perhitungannya amat lama.”
Ketiga, penyucian jiwa dan mengasingkan diri. Ibnul Jauzi berkata,”Orang awam terkadang mendengar celaan terhadap dunia dalam Al Qur an dan hadist-hadist lalu dia berpendapat bahwa untuk memperoleh keselamatan ialah dengan meninggalkan dunia.Dia tidak masalah duniawi yang tercela. Kemudian iblis membisikkan kepadanya,”Engkau tidak akan selamat di akhirat kecuali dengan meninggalkan dunia.” Maka ia pun mengasingkan diri ke gunung-gunung, menjauhi sholat jum’at, sholat jama’ah majlis ilmu. Dan ia akhirnya malah menjadi seperti binatang liar. Ia berkhayal bahwa inilah zuhud yang sebenar-benarnya. Bagaimana tidak ia telah mendengar si fulan yang berkelana dan si fulan lain yang beribadah di gunung.
Keempat, penyucian jiwa dan kerahiban. Kerahiban adalah berlebihan dalam ibadah, memutuskan hubungan denngan manusia dan meninggalkan dunia berikut kelezatannya, berupa istri dan lainnya. Sebagian orang sufi berkata,” Barang siapa menikah, maka dia telah memasukkan dunia ke dalam rumahnya, … maka waspadalah dari pernikahan!” Diantara mereka mengatakan bahwa untuk mencapai derajat siddiqiin ia harus meningglkan istrinya dan anak-anaknya seolah-olah mereka itu janda dan yatim.
Itulah gambaran sekilas penyimpangan-penyimpangan yang keluar dari sunnah Nabi Shollallahu ‘Alaihi wa Sallam, dalam usaha penyucian jiwa dengan meninggalkan dunia secara salah.Berikutnya akan kita bahas secara ringkas pula tentang zuhud yang benar sesuai petunjuk Rosullullah Shollallahu ‘Alaihi wa Sallam.
1. Makna Zuhud
a. Zuhud secara bahasa memiliki banyak arti di antaranya[9] :
- Zuhud adalah lawan dari ingin/suka/gemar.
- Zuhud berarti remeh/hina.
- Zuhud berarti menunjukkan sesuatu yang sedikit.
- Zuhud terhadap sesuatu perkara artinya benci/enggan dengan perkara itu.
- Berpalingnya keinginan terhadap sesuatu kepada sesuatu yang lebih baik darinya.
- Ibnu Taimiyah mengatakan :”Zuhud yang disyariatkan adalah meninggalkan keinginan terhadap sesuatu yang tidak bermanfaat untuk kehidupan akhirat, yaitu berlebih-lebihan dalam sesuatu yang mubah.
- Ibnu Jala’ berkata :”Zuhud adalah melihat dunia dengan pandangan yang fana, maka anggaplah ia kecil di matamu, sehingga engkau akan mudah meninggalkannya.
- Al-Junaid berkata :”Zuhud adalah kosongnya hati terhadap apa yang ada di tangan.
- Imam Ahmad berkata :”Zuhud adalah kosongnya hati dari dunia. Bukan kosongnya tangan dari dunia.”
- Sufyan Tsauri mengatakan :”Zuhud terhadap dunia adalah pendek angan-angan, bukan dengan makan makanan keras dan bukan memakai jubah.”
- Abdul Wahid bin Zaid berkata :”Zuhud yaitu zuhud terhadap dinar dan dirham.
1) Seseorang yang zuhud terhadap dunia tetapi sebenarnya ia menginginkannya. Hatinya condong kepadanya. Jiwanya masih berhasrat terhadapnya.Namun ia berusaha, bermujahadah untuk mencegahnya. Inilah seorang mutazahhid(orang yang berusaha zuhud)
2) Seseorang meninggalkan dunia dalam rangka taat kepada Allah karena ia mlihatnya sebagai sesuatu yang hina, jika dibandingkan dengan apa yang hendak dicapainya. Ia sadar mengetahui kezuhudannya itu. Keadaannya seperti orang yang meninggalkan sekeping dirham untuk mendapatkan dua dirham.
3) Seseorang yang zuhud terhadap dunia dalam rangka taat kepada Allah dan dia berzuhud dalam kezuhudannya. Artinya ia melihat dirinya tidak meninggalkansesuatupun. Keadaannya seperti orang yang membuang sampah, lalu mengambil mutiara.perumpamaan lainnya, seperti seseorang yang ingin memasuki istana raja tetapi dihadang oleh seekor anjing di depan pintu gerbang. Lalu ia melemparkan sepotong roti untuk mengelabui anjing itu, akhirnya ia pun bisa masuk menghadap sang raja.
3 Sikap Zuhud Yang Sesuai Syar’i
a. Keseimbangan Antara Akhirat dan Dunia
وَابْتَغِ فِيمَا آَتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الْآَخِرَةَ وَلَا تَنْسَ
نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا وَأَحْسِنْ كَمَا أَحْسَنَ اللَّهُ إِلَيْكَ
وَلَا تَبْغِ الْفَسَادَ فِي الْأَرْضِ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ
الْمُفْسِدِينَ.
"Dan carilah (pahala) negeri akhirat dengan apa yang telah dianegerahkan Allah kepadamu, tetapi janganlah kamu lupakan bagianmu di dunia dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi. Sungguh, Allah tidak menyukai orang yang berbuat kerusakan." (QS. Al Qashas : 77)
Ibnu Katsir menafsirkan ayat di atas dengan perkataannya,”Gunakan
semua yang telah Allah anugerahkan kepadamu yang berupa hrta yang mulia
dan nikmat yang besar. Dalam rangka untuk melakukan ketaatan dan
bertaqorrub kepada Robbmu dengan bermacam-macam amal-amal sholih yang
bisa membawamu mendapatkan pahala di akhirat. Namun janganlah kamu
melupakan hak-hakmu dalam kehidupanmu di dunia dari perkara-perkara yang
dihalalkan Allah. Seperti, makan, minum, pakaian, tempat tinggal dan
menikah. Karena Allah punya hak, dirimu pun memiliki hak, ahli
keluargamu juga memiliki hak dan istrimu memiliki hak, oleh sebab itu
berikan setip mereka yang memiliki hak itu haknya dengan tepat.[13]"Dan carilah (pahala) negeri akhirat dengan apa yang telah dianegerahkan Allah kepadamu, tetapi janganlah kamu lupakan bagianmu di dunia dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi. Sungguh, Allah tidak menyukai orang yang berbuat kerusakan." (QS. Al Qashas : 77)
Syeikh as-Sa’di berkata,” Engkau telah memperoleh sarana yang dapat membawamu menuju akhirat,yang orang lain selain dirimu tidak memiliki harta sebagaimana dirimu. Maka carilah akhirat dengan hartamu, bersedekahlah dan janganlah engkau terlena hanya untuk mengikuti syahwat dan kelezatan dunia semata. Allah tidak memerintakan agar dirimu menyedekahkan semua harta milikmu, sehingga engkau menjadi faqir dan miskin. Tetapi belanjakan hartamu itu untuk kepentingan akhiratmu, serta bersenang-senanglah dalam urusan kehidupan duniamu, namun jangan sampai merugikan dan menyengsarakan kehidupan akhiratmu nanti.[14]
Dari penjelasan kedua ahli tafsir di atas bisa kita simpulkan :
- Perintah Allah agar kita agar lebih mengutamakan kehidupan akhirat.
- Perintah Allah supaya kita berusaha mencari rizki di dunia.
- Menggunakan rizki yang sudah diperoleh untuk mencari kebahagiaan di akhirat.
- Dalam menjalani kehidupan, Allah tidak menyuruh agar kita seimbang antara kepentingan dunia dan akhirat. Misal, kita menyediakan waktu 12 jam untuk dunia dan 12 jam untuk akhirat. Karena usaha untuk mencari kebahagiaan di negeri akhirat harus lebih diutamakan, sambil tetap mencari rizki di dunia sebagai sarana menuju ke sana.
b. Sikap Para Anbiya’ dan Para Sahabat Dalam Menyikapi Zuhud Terhadap Dunia
Salah satu penjelasan terbaik tentang makna zuhud, yaitu sebagaimana perkataan Hasan al Basri,”Bukanlah zuhud di dunia itu dengan mengharamkan perkara yang halal dan menyia-nyiakan harta. Tetapi engkau merasa lebih yakin kepada apa yang ada di tangan Allah dibanding apa yang ada di tanganmu dan engkau lebih suka mengharap pahala dari musibah yang menimpamu sekiranya ia tetap terjadi.”[16]
* Pujian Terhadap Harta[17]
Manfaat harta ada 2 bagian :
* Manfaat keduniaan
* Manfaat agama
- Membelanjakan harta untuk kepentingan dirinya, seperti untuk haji,jihad, untuk menunjang dalam pelaksanaan ibadah, seperti makanan, pakaian, tempat tinggal dll dari kebutuhan sehari-hari. Sebab bila hal itu tidak terpenuhi, maka hati tidak akan tenang dalam menjalankan ibadah.
- Memberikan harta kepada orang lain. Seperti sedekah,muru;ah[18], wiqoyah[19], sebagai upah yang dikeluarkan kepada orang lain karena dia memanfaatkan tenaganya.
- Harta yang dibelanjakan seseorang untuk sarana-sarana penunjang, seperti membangun masjid dan jembatan, bila hal itu diniatkan untuk kepentingan agama.
1. Golongan orang yang berlebih-lebihan dalam memanfaatkan harta dan golongan orang yang terlalu kurang dalam menggunakan harta.
2. Golongan orang yang menjauhi sama sekali harta
3. Golongan yang bersikap pertengahan
Dan inilah model zuhud yang dicontohkan oleh Nabi Shollallahu ‘Alaihi wa Sallamdan para salafus sholih.
- Tanda – tanda Zuhud[21]
Zuhud harus menghindari harta dan kedudukan secara bersama-sama, agar zuhud bisa menjadi sempurna di dalam jiwa. Untuk mengetahui ciri zuhud yang pertama adalah bentuknya. Ibnul Mubarok berkata,”Zuhud yang paling utama ialah menyembunyikan zuhud.”
2. Hal-Hal Yang Dapat Meluruskan Zuhud[22]
Pertama, seseorang mengerti bahwa dunia ini hanya bayangan dan khayalan yang akan berlalu. Dunia hanyalah sebagaimana firman Allah Ta’ala :
اعلموا أنما الحياة الدنيا لعب ولهو وزينة وتفاخر بينكم وتكاثر في
الأموال والأولاد كمثل غيث أعجب الكفار نباته ثم يهيج فتراه مصفرا ثم يكون
حطاما
"Ketahuilah, sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah sendau gurauan, perhiasan dan saling berbangga di antara kamu serta berlomba dalam kekayaan dan anak keturunan, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian (tanaman) itu menjadi kering."
(QS. Al Hadid : 20)
Dan dalam firman-firman-Nya yang lain Allah menamakan kehidupan dunia sebagai kesenangan yang menipu. Allah
melarang kita agar tidak tertipu dengan dunia, dan Dia menceritakan
akibat yang jelek bagi orang-orang yang tertipu, serta Allah juga
memperingatkan kita tentang kebinasaan mereka."Ketahuilah, sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah sendau gurauan, perhiasan dan saling berbangga di antara kamu serta berlomba dalam kekayaan dan anak keturunan, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian (tanaman) itu menjadi kering."
(QS. Al Hadid : 20)
Kedua, Seorang hamba juga harus mengetahui bahwa di setelah dunia ada negeri yang lebih agung dan mulia kedudukannya. Itulah negeri yang abadi. Sedangkan perbandingannya seperti dalam sabda Nabi Shollallahu ‘alaihi wa sallam :
ما الدنيا في الآخرة إلا كما يجعل أحدكم إصبعه في اليم فلينظر بم يرجع.[23
"Demi Allah, Pemisalan dunia dibanding akhirat ialah seperti seseorang di antara kalian mencelupkan jarinya ini ke laut, maka lihatlah berapa yang ada (di jarinya)."
{} Hubungan Perilaku Zuhud Dengan Tazkiyatun Nufus
Setelah panjang lebar kami uraikan tentang hal-hal yang berkaitan
dengan zuhud, sekarang saatnya kita membahas apa sebenarnya kaitan
antara zuhud dengan tazkiyatun nufus.DR. Anas Ahmad Karzon menjelaskan dalam kitabnya bahwa di hati manusia terdapat penyakit-penyakit jiwa yang merusak penyucian jiwa, atau dengan kata lain jiwa tidak akan bersih dengan sempurna sebelum penyakit-penyakit yang menghinggapi hati tersebut disembuhkan terlebih dahulu. Di antara penyakit-penyakit itu yaitu, syahwat cinta diri dan kedudukan, syahwat cinta harta, syahwat perut, syahwat kemaluan.
Sedangkan orang yang ingin berusaha untuk menyucikan hatinya ia harus menempuh jalan zuhud yang sebenarnya seperti zuhudnya para anbiya’ dan salafus sholih. Bila ingin apa yang menjadi cita-citanya tercapai.
- Aplikasi Zuhud Pada Zaman Sekarang
Zuhud bisa kita aplikasikan dalam kehidupan kita dengan usaha yang sungguh-sungguh, tanpa harus meninggalkan kepentingan dunia secara total. Seperti,berlebih-lebihan dalam hal menyiksa diri dengan meninggalkan makan berhari-hari,tidak mencari rizki dengan bekerja,uzlah dan menyepi di tempat-tempat yang jauh dari manusia, meninggalkan pernikahan, meninggalkan sholat jama’ah dan jum’at, menghinakan dirinya dengan sengaja di hadapan masyarakat serta sikap-sikap berlebih-lebihan lainnya dalam memahami dunia.
Jadi misalnya, seorang pegawai negeri, karyawan pabrik atau pedagang bisa mengaplikasikan zuhud dalam kesehariannya dengan terus melakukan aktivitasnya, tanpa harus dia meninggalkan pekerjaan, harta dan keluarganya.Seorang pegawai negeri, bisa memulai berzuhud dari hal kecil di dalam pekerjaannya untuk tidak menerima pemberian uang yang tidak jelas dari mana sumbernya. Seorang karyawan pabrik merasa ridho dengan kemiskinan yang ia alami sambil terus bertawakal kepada Allah, sebab menyadari dengan benar bahwa dunia ini hanyalah kenikmatan yang sementara, sedangkan akhiratlah negeri abadi yang harus menjadi cita-cita hidupnya yang sejati.Seorang pedagang selalu melaksanakan ibadah tepat pada waktunya,misalnya sholat. Tanpa sedikitpun merasa telah rugi besar, sebab waktunya yang seharusnya bisa ia manfaatkan untuk berdagang dan melayani pembeli untuk meraih keuntungan yang banyak, ia pakai untuk sholat.
Bahkan setiap muslim bisa mengaplikasikan zuhud dalam kesehariannya, sebagaimana yang dikatakan oleh Ibnu Qoyyim, bahwa zuhud wajib bagi setiap orang muslim. Yaitu bersikap zuhud dalam perkara yang haram, dengan meninggalkannya.[24]
Demikianlah sebagian contoh pengamalan zuhud di dalam kehidupan manusia zaman sekarang. Kuncinya adalah bila seseorang yang ingin berusaha sungguh-sungguh menyucikan jiwanya dengan zuhud,ia harus memiliki ilmu dan pengetahuan yang benar tentang zuhud. Jika hal itu sudah ada pada dirinya, niscaya jalan yang akan ia tempuh akan lebih mudah, karena zuhud yang ia akan lakukan mempunyai pijakan yang kokoh dalam agama.
- Kesimpulan
2) Zuhud yang sesuai syar’i sebagai salah satu bentuk ibadah kepada Allah Ta’ala telah dicontohkan oleh Nabi Shollallahu ‘Alaihi wa Sallam bersama para sahabatnya.
3) Allah dan Rosul-Nya sangat menekankan kepada umatnya agar mempunyai sikap zuhud kepada dunia dalam menjalani kehidupannya.
4) Dunia adalah suatu negeri yang fana, rendah dan hina dalam pandangan Allah dan Rosul-nya. Dan akhiratlah negeri agung, mulia dan abadi.
5) Pentingnya seseorang memiliki ilmu dalam melakukan segala amal ibadah, agar tidak terjebak dan terjerumus pada pengamalan-pengamalan ibadah yang menurutnya benar, tetapi syari’at memandangnya sebagai suatu penyimpangan yang besar. Karena tazkiyatun nafs merupakan salah satu dakwah Nabi Muhammad Shollallahu ‘Alaihi wa Sallam.[25] Allah berfirman :
كَمَا أَرْسَلْنَا فِيكُمْ رَسُولًا مِنْكُمْ يَتْلُو عَلَيْكُمْ
آَيَاتِنَا وَيُزَكِّيكُمْ وَيُعَلِّمُكُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ
وَيُعَلِّمُكُمْ مَا لَمْ تَكُونُوا تَعْلَمُونَ
"Sebagaimana Kami telah mengutus kepadamu seorang Rasul (Muhammad) dari (kalangan) kamu yang membacakan ayat-ayat Kami, menyucikan kamu dan mengajarkan kepadamu Kitab (Al Qur an) dan Hikmah (Sunnah), serta mengajarkan apa yang belum kamu ketahui." (QS. Al Baqarah : 151)
7) Manusia terbagi menjadi 3 golongan dalam menyikapi harta kekayaan.
8) Tanda zuhud yang paling utama adalah menyembunyikan zuhud.
9) Zuhud adalah salah satu jalan yang harus ditempuh seseorang ketika ia ingin menyucikan jiwanya secara sempurna.
10)Zuhud dapat dicapai dengan mujahadah(sungguh-sungguh). Allah Ta’ala berfirman :
وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا وَإِنَّ اللَّهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِينَ
"Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, Kami akan tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sungguh, Allah beserta orang yang berbuat baik."
(QS. Al Ankabut : 69)
11) Islam adalah suatu agama yang mudah dan tidak menyusahkan pemeluknya. Maka seorang muslim jika dia benar-benar mau mengaplikasikan zuhud dalam kehidupannya di era modern sekarang, dengan bantuan Allah niscaya ia tentu bisa melakukannya.
Rosulullah Shollallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda :
إِنَّ الدِّينَ يُسْرٌ وَلَنْ يُشَادَّ الدِّينَ أَحَدٌ إِلَّا غَلَبَهُ
فَسَدِّدُوا وَقَارِبُوا وَأَبْشِرُوا وَاسْتَعِينُوا بِالْغَدْوَةِ
وَالرَّوْحَةِ وَشَيْءٍ مِنْ الدُّلْجَةِ.[28
”Islam adalah agama yang mudah,Islam pasti akan mengalahkan
siapa saja yang bersikap ekstrim dalam beragama, berbuatlah pertengahan
dalam beramal, beramallah sesuai dengan kemampuanmu, bergembiralah
dengan pahala yang kau peroleh, dan mintalah pertolongan kepada Allah
dalam beribadah di awal siang dan akhir malam.
- Daftar Pustaka
Ashim, Abu,”Zuhud Yang Banyak Disalah Pahami”, Majalah as-Sunnah, Edisi 01/TahunIX/1426 H/2005M.
Dhahir, Ihsan Ilahi, Darah HItam Tasawuf, Jakarta: Darul Falah, 1429 H/2008 M, Cet. V.
Farid, Ahmad,Tazkiyah an-Nufus wa Tarbiyatuha Kama Yuqorriruhu ulama Salaf, Beirut Libanon: Dar al- Qolam.
Hamka, Tasauf Modern, Jakarta: Pustaka Panjimas, 2003,Cet. IV.
Jauzi, Ibnul, Talbis Iblis, Maktabah Tsaqofah.
Karzon, Anas Ahmad, Tazkiyatun Nafs, terj. Emil Threeska, Jakarta Timur: Akbarmedia, 2010, Cet. I.
Muslim, Isma’il, “Zuhud Sunni Zuhud Sufi”, Majalah as-Sunnah, Edisi 01/Tahun IX/1426 H/2005 M.
Qoyyim, Ibnu Madarijus Salikin, Beirut,:Dar al-Jiil, Cet. I.
Qudamah, Ibnu, Minhajul Qoshidin, Terj. Kathur Suhardi, Jakarta Timur:Pustaka Al-Kautsar, 2010, Cet. 16.
Taimiyah, Ibnu, Tazkiyatun Nafs, Jakarta Timur: Darus Sunnah, 2008, Cet. I.
Maktabah Syamilah
[1] Qowaid wa Asas fi as-Sunnah wa al-Bid’ah, hal 2, maktabah syamilah
[2] HR. Ibnu Majah , no. 4092, dan at-Tabrani, Mu’jamul Kabir, no. 5972, maktabah syamilah
[3] HR. Muslim, no. 5256, maktabah syamilah
[4] HR. Ahmad, no. 111173, maktabah syamilah
[5] HR. Muslim, no. 510, maktabah syamilah
[6] Hr. at-Tirmidzi, no. 2242 dan Ibnu Majah, no. 4100, maktabah syamilah
[7]Abu Ashim,”Zuhud Yang Banyak Disalah Pahami”, Majalah as-Sunnah, Edisi 01/TahunIX/1426 H/2005M, hal. 19.
[8]Ibnul Jauzi, Talbis Iblis, Maktabah Tsaqofah, lihat pula Anas Ahmad Karzon,Tazkiyatun Nafs, Jakarta Timur: Akbarmedia, 1431 H/2010 M, Cet. I, hal. 303-328, lihat pula: Dhahir, Ihsan Ilahi, Darah HItam Tasawuf,
Jakarta: Darul Falah, 1429 H/2008 M, Cet. V, hal. 33-34, dan lihat pula
Isma’il Muslim, “Zuhud Sunni Zuhud Sufi”, Majalah as-Sunnah, Edisi
01/Tahun IX/1426 H/2005 M, hal. 26.
[9] Ibnu Mandzur, Lisanul Arob, maktabah syamilah
[10] Ahmad Farid, Tazkiyah an-Nufus wa Tarbiyatuha Kama Yuqorriruhu ‘ulama Salaf, Beirut Libanon: Dar al-Qolam, hal. 63.
[11] Anas Ahmad Karzon, Tazkiyatun Nafs, terj. Emil Threeska, Jakarta Timur: Akbarmedia, 2010, Cet. I, hal. 311, lihat pula Ibnu Taimiyah, Tazkiyatun Nafs, Jakarta Timur: Darus Sunnah, 2008, Cet. I, hal. 365 dan lihat pula Ibnu Qoyyim, Madarijus Salikin, Beirut,:Dar al-Jiil, Cet. I, hal. 11-12.
[12] Ahmad Farid, Tazkiyah an-Nufus wa Tarbiyatuha, hal 68.
[13] Ibnu Katsir, Tafsir Al Qur anul ‘Adzim, maktabah syamilah
[14] as-Sa’di, Tafsir al-Kariim ar-Rohman, maktabah syamilah
[15] Ibnu Qudamah, Minhajul Qoshidin, Terj. Kathur Suhardi, Jakarta Timur:Pustaka Al-Kautsar, 2010, Cet. 16, hal. 416
[16] Ibnu Qoyyim, Madarijus Salikin, hal 14
[17] Ibnu Qudamah, Minhajul Qoshidin, hal. 244-246
[18] Memberikan harta kepada orang yang sebenarnya sudah berharta dan orang-orang terpandang sebagai hadiah atau saat berkunjung.
[19] Menjaga kehormatandengan mengeluarkan harta untuk menyanggah, membantah, orang-orang yang ingin merusak agama.
[20]Hamka, Tasauf Modern, Jakarta: Pustaka Panjimas, 2003,Cet. IV, hal. 209 – 211.
[21] Ibnu Qudamah, Minhajul Qoshidin, hal. 415-416
[22] Ibnu Qoyyim, Thoriiqul Hijrotain, Maktabah Syamilah
[23] Sudah terdahulu takhrijnya.
[24] Ibnu Qoyyim, Thoriqul Hijrotain, hal. 381, maktabah syamilah
[25] Salim bin Ied al Hilali, Tazkiyatun Nufus Para Nabi, Terj. Beni Sarbeni, Jakarta: Pustaka Imam Syafi’i, 2010, Cet. II, hal.33.
[26] Ibnu Qoyyim, Thoriqul Hijrotain, hal. 381, maktabah syamilah
[27] Salim bin Ied al Hilali, Tazkiyatun Nufus Para Nabi, hal. 62
[28] HR. Bukhori, no. 38, maktabah syamilah

Tidak ada komentar:
Posting Komentar